Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menyoroti kasus manipulasi AI Grok yang memicu transfer aset kripto senilai Rp3 miliar pada Selasa, 12 Mei 2026. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai celah keamanan pada penggunaan agen kecerdasan buatan dalam sektor investasi digital dan finansial.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, Sekjen ABI William Sutanto menjelaskan bahwa teknologi agen AI saat ini masih berada dalam fase eksperimen. Kondisi tersebut dinilai belum cukup aman untuk mengelola aset dalam skala besar secara mandiri.
Meskipun memiliki risiko, William meyakini potensi positif AI dalam membantu tata kelola transaksi keuangan di masa mendatang. Namun, pemetaan terhadap berbagai titik serangan siber masih terus dilakukan oleh para ahli teknologi.
“Namun saat ini masih banyak sekali attack factor yang belum bisa kita petakan sepenuhnya,” kata William, Sekjen ABI.
Pihaknya memberikan peringatan kepada para pengembang teknologi agar lebih waspada dalam menyimpan aset yang dikontrol oleh mesin kecerdasan buatan. William menyarankan agar sistem berbasis AI untuk sementara waktu diperlakukan sebagai ruang uji coba.
“Developer sebaiknya waspada dalam menyimpan aset yang dikendalikan oleh agent AI, sebaiknya anggap sebagai playground atau eksperimen. Jangan terlalu banyak menyimpan aset yang dikendalikan oleh agent AI sampai teknologi ini lebih mature,” tambah William, Sekjen ABI.
Tren penggunaan agen AI diprediksi akan meningkat tajam untuk berinteraksi dengan publik dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini diperkirakan beriringan dengan munculnya metode eksploitasi baru melalui manipulasi input atau dikenal sebagai prompt injection.
William menggarisbawahi bahwa ancaman tersebut tidak hanya datang dari peretas tingkat tinggi. Kelompok dengan kemampuan teknis dasar atau script kiddies juga mulai mencoba teknik eksploitasi ini demi keuntungan finansial maupun sekadar coba-coba.
“Banyak script kiddies yang akan mencoba teknik exploit terbaru, entah hanya iseng atau memang mencari keuntungan finansial,” ungkap William, Sekjen ABI.
Lebih lanjut, teknik prompt injection dikategorikan sebagai ancaman serius bagi infrastruktur pengembang karena potensinya dalam mencuri data serta menguasai server. ABI mendesak penerapan protokol keamanan yang sangat ketat pada setiap eksperimen agen AI publik.
“Harus diterapkan dengan sangat hati-hati,” beber William, Sekjen ABI.
Peristiwa ini bermula saat seorang pengguna media sosial X dengan akun @Ilhamrfliansyh diduga memanipulasi AI Grok menggunakan pola pesan khusus. Manipulasi tersebut berhasil memicu instruksi transfer aset otomatis melalui sistem Bankrbot yang terhubung dengan kecerdasan buatan tersebut.
Diduga kuat pelaku menggunakan teknik prompt injection lewat kode Morse dan instruksi tersembunyi. Langkah ini dilakukan untuk menembus proteksi sistem dan mengambil kendali atas bot perdagangan kripto otomatis.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·