Kegagalan Timnas Indonesia U&17 di Piala Asia Tuai Kritik Pengamat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan menyoroti kegagalan Timnas Indonesia U-17 melaju ke fase gugur Piala Asia U-17 pada Rabu (15/5/2026). Dilansir dari Medcom, hasil negatif saat menghadapi Qatar menjadi faktor penentu yang menghentikan langkah Garuda Muda meski sebelumnya sempat menang atas China.

Kekalahan dari Qatar dinilai sebagai titik balik yang sangat krusial bagi perjalanan skuat asuhan Nova Arianto tersebut. Ronny menegaskan bahwa satu poin dari laga tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menjaga peluang kelolosan tim ke babak berikutnya.

"Sangat disayangkan karena sebenarnya kita punya peluang lolos setelah menang dari China. Masalahnya kita tidak bisa menang lawan Qatar karena kuncinya memang di pertandingan itu. Imbang saja sebenarnya sudah bagus, tetapi justru kalah," ujar Ronny Pangemanan, Pengamat Sepak Bola.

Kegagalan memaksimalkan peluang emas juga menjadi catatan penting dalam kekalahan tipis tersebut. Salah satu momen yang paling disoroti adalah ketika Indonesia mendapatkan hadiah penalti namun gagal dikonversi menjadi gol penyeimbang.

"Peluang terbuka setelah ada penalti, tetapi gagal diselesaikan oleh Matthew Baker," lanjut Ronny Pangemanan.

Dari sisi teknis, Ronny membandingkan kedalaman skuat saat ini dengan generasi sebelumnya yang pernah berkompetisi di Piala Dunia U-17. Menurutnya, terdapat kesenjangan kualitas individu yang cukup mencolok sehingga tim akan kesulitan jika dipaksakan bersaing di level tertinggi Asia.

"Terlepas dari itu, memang tim ini secara kualitas masih jauh dibanding Timnas U-17 yang dipegang Nova Arianto saat terakhir ikut Piala Dunia. Jadi kalaupun lolos dengan materi pemain seperti sekarang, kita akan sulit bersaing," kata Ronny Pangemanan.

Meski mengkritik kolektivitas tim, Ronny memberikan apresiasi terhadap performa para pemain diaspora yang dinilai mampu mengangkat level permainan tim secara keseluruhan. Keberadaan Mike Rajasa, Matthew Baker, dan Noha Pohan dianggap sebagai pilar utama yang menjaga daya saing Indonesia.

"Kita masih tertolong di Piala Asia kali ini karena diperkuat tiga pemain diaspora, yakni Mike Rajasa, Baker, dan Pohan. Kalau tiga pemain itu tidak ada, kita bisa jadi bulan-bulanan dan mungkin tidak akan menang lawan China," papar Ronny Pangemanan.

Sebagai solusi jangka panjang, Ronny menekankan pentingnya federasi untuk menyelenggarakan turnamen kelompok umur yang berkesinambungan. Penyelenggaraan kompetisi yang teratur dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mencetak bibit pemain lokal yang berkualitas.

"Kompetisi sangat penting untuk diputar setiap tahun di level U-15 dan U-17. Tanpa kompetisi usia muda, sulit didapatkan tim muda yang baik," pungkas Ronny Pangemanan.