Keir Starmer Hadapi Krisis Kepemimpinan Jelang Pembukaan Parlemen Inggris

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer dijadwalkan bertemu Menteri Kesehatan Wes Streeting pada Rabu pagi, 13 Mei 2026, di tengah upaya pemberontakan anggota parlemen Partai Buruh yang menuntut pengunduran dirinya. Pertemuan di Downing Street ini terjadi setelah empat menteri mengundurkan diri dan lebih dari 80 anggota parlemen mendesak Starmer untuk mundur menyusul hasil pemilihan lokal yang buruk.

Krisis internal ini mencuat saat pemerintah bersiap memaparkan agenda legislatif dalam pidato Raja (King's Speech) untuk menandai dimulainya sesi parlemen baru. Meski menghadapi tekanan besar, Starmer menegaskan komitmennya untuk tetap memimpin pemerintahan dan mengabaikan seruan untuk meninggalkan posisinya di Downing Street Nomor 10.

"Britain stands at a pivotal moment: to press ahead with a plan to build a stronger, fairer country or turn back to the chaos and instability of the past," kata Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris dilansir dari Reuters.

Starmer menambahkan bahwa masyarakat Inggris mengharapkan pemerintah untuk segera bekerja memperbaiki kondisi negara, termasuk menurunkan biaya hidup dan memangkas daftar tunggu rumah sakit. Ia berupaya meyakinkan kabinetnya bahwa mandat untuk memerintah tetap menjadi prioritas utama meskipun otoritasnya melemah akibat gejolak partai.

"The British people expect the government to get on with the job of changing our country for the better. Cutting the cost of living, bringing down hospital waiting lists and keeping our country safe in an increasingly dangerous world," ujar Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris.

Di sisi lain, Jess Phillips mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri perlindungan dengan menyampaikan kritik tajam melalui surat pengunduran dirinya. Phillips menilai pendekatan Starmer yang cenderung menghindari argumen justru menghambat kemajuan dan peluang untuk melakukan perubahan nyata bagi negara.

"Real change in my role usually came from threats made by me in light of catastrophic mistakes," ungkap Jess Phillips, mantan Menteri Perlindungan.

Phillips menyatakan bahwa meskipun ia menganggap Starmer sebagai orang baik, hal tersebut tidak cukup untuk membawa perubahan yang diharapkan masyarakat. Ia menegaskan tidak dapat lagi mengabdi di bawah kepemimpinan saat ini karena melihat adanya stagnasi dalam proses pemerintahan.

"I think you are a good man fundamentally, who cares about the right things however I have seen first-hand how that is not enough," kata Jess Phillips, mantan Menteri Perlindungan.

Penolakan Phillips untuk melanjutkan tugasnya dibarengi dengan peringatan bahwa peluang kemajuan sering kali tertunda. Ia berharap pemerintahan Partai Buruh bisa sukses, namun merasa tidak lagi melihat perubahan yang diharapkan oleh dirinya maupun publik secara luas.

"The desire not to have an argument means we rarely make an argument, leaving opportunities for progress stalled and delayed," tutur Jess Phillips, mantan Menteri Perlindungan.

Menutup pernyataannya, Phillips menekankan bahwa aspirasinya untuk keberhasilan Partai Buruh tetap ada meski ia memilih keluar dari jajaran menteri. Ia mengaku tidak bisa lagi melayani di bawah kepemimpinan Starmer yang dinilainya gagal memenuhi ekspektasi negara.

"I want a Labour government to work and I will strive as I always have for its success and popularity, but I'm not seeing the change I think I, and the country expect, and so cannot continue to serve as a minister under the current leadership," tegas Jess Phillips, mantan Menteri Perlindungan.

Krisis ini semakin mendalam setelah Miatta Fahnbulleh, Menteri Devolusi, juga mengundurkan diri dan mendesak perdana menteri untuk menetapkan jadwal transisi kekuasaan. Alex Davies-Jones dan Zubir Ahmed turut menyusul langkah tersebut dengan alasan hilangnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Starmer.

"To do the right thing for the country and the party and set a timetable for an orderly transition," ucap Miatta Fahnbulleh, mantan Menteri Devolusi.

Zubir Ahmed dalam suratnya memberikan penegasan bahwa posisi Starmer saat ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Ia menggarisbawahi bahwa kepercayaan publik telah hilang secara permanen sehingga kelanjutan masa jabatan Starmer dianggap mustahil.

"The public had irretrievably lost confidence in you as prime minister and continuation in office is wholly untenable," kata Zubir Ahmed, mantan menteri.

Untuk mengisi kekosongan jabatan, Starmer telah menunjuk Nesil Caliskan, Natalie Fleet, Catherine Atkinson, dan Preet Kaur Gill sebagai menteri baru. Meskipun ada perombakan, tantangan tetap besar karena serikat pekerja pendana partai diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan agar Starmer tidak memimpin partai dalam pemilihan umum mendatang.