Kejahatan Deepfake Fintech Indonesia Melonjak 1.550 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Insiden penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) pada sektor teknologi finansial di Indonesia tercatat melonjak hingga 1.550 persen selama periode 2022–2023. Berdasarkan laporan whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience yang dikutip Selasa (12/5/2026), peningkatan ini didorong oleh penggunaan teknologi deepfake yang semakin masif.

Eskalasi ancaman siber yang kompleks ini terjadi di tengah pertumbuhan layanan keuangan digital yang pesat sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz. Dokumen tersebut mengungkap bahwa teknologi deepfake mampu meniru wajah, suara, hingga memalsukan dokumen untuk menyamar sebagai pihak terpercaya guna menembus sistem keamanan.

Serangan deepfake dinilai sangat berbahaya karena memiliki kemampuan melewati mekanisme biometric liveness detection. Teknologi ini kerap digunakan dalam proses verifikasi identitas digital atau know your customer (KYC) yang menjadi pilar utama keamanan perbankan dan fintech.

"Musuh semakin memanfaatkan AI generatif untuk menghasilkan artefak video dan audio deepfake yang sangat meyakinkan yang mampu melewati mekanisme deteksi keaktifan biometrik yang tertanam dalam Know Your Customer (KYC) dan sistem verifikasi identitas digital," tulis laporan tersebut.

Pemanfaatan kloning suara berbasis AI juga memicu perkembangan modus CEO fraud atau business email compromise (BEC). Pelaku meniru gaya komunikasi dan pola bicara eksekutif perusahaan untuk memberikan instruksi transfer dana palsu maupun memanipulasi persetujuan internal organisasi.

Data whitepaper menunjukkan bahwa sektor keuangan mengalami kerugian fantastis mencapai lebih dari US$44 juta atau setara Rp700 miliar. Nilai kerugian tersebut terakumulasi hanya dalam kurun waktu tiga bulan, tepatnya pada periode November 2024 hingga Februari 2025.

"Penipuan peniruan identitas menjadi perhatian kritis dalam lingkungan keuangan yang dipercepat secara digital." tulis laporan tersebut.

Model serangan ini tidak hanya memperbesar risiko kerugian finansial secara langsung bagi perusahaan. Penggunaan AI untuk penipuan identitas juga memberikan ancaman serius terhadap reputasi serta tata kelola perusahaan di mata nasabah dan regulator.