Kemenag harap Waisak 2026 jadi ruang spiritualitas dan perdamaian umat

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Selain nilai religiusnya, Waisak juga memberi dampak positif sosial yang signifikan serta menjadi momentum penyebaran pesan perdamaian ke seluruh dunia...

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) berharap perayaan Waisak 2026 yang dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, menjadi ruang spiritualitas dan perdamaian seluruh umat beragama, khususnya umat Buddha.

“Selain nilai religiusnya, Waisak juga memberi dampak positif sosial yang signifikan serta menjadi momentum penyebaran pesan perdamaian ke seluruh dunia dan tahun ini juga menyertakan program khusus, termasuk Lentera Perdamaian, sebagai bagian dari rangkaian perayaan,” ujar Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Puncak perayaan Waisak akan dipusatkan di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026. Puluhan ribu umat Buddha dari seluruh wilayah di Indonesia diperkirakan hadir dalam momen sakral ini.

Baca juga: Kemenag-Walubi siapkan perayaan Waisak di Candi Borobudur

Supriyadi menyoroti keunikan perayaan Waisak di Indonesia yang memiliki tradisi tersendiri dan menjadi agenda penting yang terus didukung pemerintah.

Ia berharap perayaan ini dapat membangkitkan semangat persatuan, kerukunan, dan toleransi di antara umat dan masyarakat luas.

Di sisi lain, kata Supriyadi, pemerintah berkewajiban menjamin hak beribadah semua umat beragama sesuai konstitusi, sehingga koordinasi intens dengan lembaga terkait dilakukan agar kegiatan berjalan baik dan lancar.

“Panitia perlu berkoordinasi dengan seluruh jajaran lembaga, kementerian, dan pemerintah daerah, khususnya untuk bersama-sama mempersiapkan kegiatan agar dapat berjalan dengan baik, lancar, sehingga umat Buddha juga bisa melaksanakan ibadahnya dengan hikmat,” ujar Supriyadi.

Baca juga: Jelang Waisak, Kemenag kampanye ekoteologi di Papua

Penyelenggaraan Waisak tidak hanya bersifat rutin keagamaan semata, tetapi juga menjadi wadah pengembangan spiritualitas bagi umat yang hadir.

Ia juga mengingatkan pemanfaatan candi untuk kegiatan keagamaan sesuai dengan peraturan kebudayaan yang berlaku. Kementerian Agama berupaya menghadirkan pendekatan spiritualitas dan kebudayaan sehingga candi benar-benar memberi manfaat bagi pengunjung.

“Tentu yang kami lakukan adalah bagaimana agar candi ini juga dipergunakan dengan pendekatan spiritualitas berkebudayaan. Artinya, ruang ini harus betul-betul bisa memberikan manfaat bagi setiap orang yang akan berkunjung ke Candi Borobudur,” kata Dirjen BImas Buddha Kemenag Supriyadi.

Baca juga: Menag: Pindapata bukan sekedar tradisi keagamaan tapi pelajaran hidup

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.