Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap dokter peserta internship atau magang, dr Myta Aprilia Azmy, tetap menjalankan tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi, meski mengalami sakit.
Dalam investigasi yang dilakukan, Kemenkes juga menemukan dugaan manipulasi jadwal jaga oleh dokter pendamping internship.
Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, mengatakan gejala sakit sudah dirasakan dr Myta sejak akhir Maret 2026. Namun, ia tetap menjalani tugas di IGD RSUD Daud Arid Kuala Tungkal.
“Di tanggal 26 Maret ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tunggal, dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD, kemudian yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri,” kata Rudi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Menurut dia, kondisi dr Myta terus memburuk pada hari-hari berikutnya. Meski mengalami demam, batuk, dan pilek, dr Myta tetap menjalani jaga malam.
“Nah, keluhan ini terus berlanjut di tanggal 31 Maret 2026, yang bersangkutan juga masih kondisinya demam batuk pilek dan jaga malam,” ujarnya.
Rudi menyebut selepas jaga malam, dr Myta sempat meminta diinfus. Namun, dr Myta tidak melaporkan kondisi kesehatannya kepada dokter pendamping internship.
Kondisi sakit itu disebut terus berlangsung hingga pertengahan April. Pada 11 dan 12 April, dr Myta masih menjalani jaga pagi di IGD meski tetap mengalami demam dan batuk pilek.
“Nah, berikutnya di tanggal 11, ini dokter MAA masih jaga pagi di IGD, dengan kondisi masih batuk pilek, demam. Diberikan obat oleh dokter IGD,” ujar Rudi.
“Demikian pun di tanggal 12,” lanjutnya.
Bahkan pada 13 April 2026 yang bertepatan dengan ulang tahunnya, dr Myta terpasang infus setelah menjalani jaga malam.
“Nah, di tanggal 13 April, di mana 13 April ini hari ulang tahun dari dokter MAA. Jadi dia mendapatkan infus, jadi pasca-jaga malam, kemudian di UGD dia mendapatkan infus, dipasang infus,” kata dia.
“Jadi dokter MAA merayakan ulang tahunnya dengan kondisi pasca jaga malam, dengan tangan terinfus, kondisi tadi masih ada keluhan demam batuk pilek,” sambungnya.
Rudi juga mengungkap pada 15 April pagi, dr Myta sempat mengirimkan pesan suara kepada rekan internship untuk meminta penggantian jadwal jaga karena sudah merasa tidak kuat.
“Dan di tanggal 15 April, pagi tepatnya, ada informasi dokter MAA ini mengirimkan voice note kepada rekan iship-nya, jadi meminta digantikan jadwal jaganya. Dengan terdengar nafasnya itu sudah agak sesak,” ujarnya.
Kondisi dr Myta semakin mengkhawatirkan pada 18 April sore. Saat itu, ibu kandung dr Myta menghubungi kerabat di rumah sakit karena tidak dapat mengontak anaknya.
“Kemudian, di sore harinya, tanggal 18, ibu kandung dari dokter MAA ini menghubungi MZ. MZ itu kakak angkatnya yang ada di rumah sakit Kuala Tunggal. Dan langsung menghubungi dokter F untuk mencari dokter MAA,” ujar Rudi.
“Nah, dokter MAA ternyata ditemukan oleh dokter F setelah dihubungi oleh MZ tadi. Ini di bawah tangga, di bawah tangga tempat kos sedang berdiri dalam kondisi linglung,” katanya.
Rudi menjelaskan saat ditemukan, dr Myta tampak kebingungan dan hendak berangkat jaga meski kondisinya sudah tidak stabil.
“Jadi tidak menggunakan jilbab, mengenakan celana pendek, dan atasan seragam scrub. Setelah ditanya oleh dokter F tadi, dokter MAA menjawab dia ingin berangkat jaga. Jadi, kondisi sudah agak confused, linglung, mungkin ada hipoksia di situ,” ujarnya.
“Jadi, sehingga yang bersangkutan tidak menyadari bahwa atribut atau seragam ketika mau berangkat jaga itu tidak lengkap,” lanjut dia.
Dugaan Manipulasi Jadwal
Dalam investigasi yang sama, Kemenkes juga menemukan dugaan manipulasi jadwal jaga oleh dokter pendamping internship Myta, yaitu dr J. Rudi menyebut ditemukan instruksi untuk mengedit jadwal agar terlihat sesuai aturan.
“Nah kemudian kalau kita lihat, tadi patut diduga pendamping ini kami temukan ya, karena ada kondisi ini ingin menggambarkan bahwa seolah-olah jadwalnya sesuai gitu. Nah kita temukan adanya pengaturan untuk manipulasi jadwal,” kata Rudi.
Ia kemudian membacakan isi percakapan yang ditemukan tim investigasi.
“Nah ini chatnya ya, jadi ada pendampingnya dokter J tadi, ‘ini coba aku lihat jadwal, baik dokter jadwalnya di laptop saya ambil dulu, kalau bisa jadwal diedit buat yang 3 shift di IGD ya’, jadi ada perintah untuk mengedit. ‘Kalau mau diedit agak lama dokter’,” ujarnya.
Menurut Rudi, percakapan itu menunjukkan adanya arahan langsung dari dokter pendamping kepada peserta internship untuk mengubah data jadwal.
“Artinya ini ada instruksi dari dokter J selaku pendamping ke peserta untuk memanipulasi data. Ini data-datanya kita sudah lihat, dan dokter MAA yang wafat tadi juga tertandatangani,” kata dia.
Ada Percobaan 'Pengamanan'
Kemenkes juga menemukan adanya dugaan penyusunan kronologi untuk mengamankan pihak tertentu setelah investigasi dimulai.
“Dan ini ditandatangani oleh salah satu peserta iship, atas perintah dokter pendamping tadi. Dan dalam chatnya juga menyatakan bahwa ini memaksakan tanda tangan tiba-tiba katanya buat Kemenkes, sudah tau kita mau investigasi gitu kan, dia buat kronologi buat dia aman,” ujarnya.
Selain dugaan manipulasi jadwal, Kemenkes menemukan praktik kerja berlebihan selama masa internship. Berdasarkan investigasi, peserta internship menjalani jadwal jaga setiap hari tanpa libur selama stase bangsal.
“Jadi selama stase bangsal, waktu jaga dilaksanakan setiap hari tanpa libur, jadi maksimal 48 jam,” kata Rudi.
Meski pengaturan jadwal disebut diserahkan kepada peserta internship, praktik di lapangan menunjukkan banyak peserta pulang hingga dini hari.
“Namun dalam praktiknya peserta rata-rata tuh pulang lebih dari jam 2, bahkan ada sampai jam 4 sore. Jadi ini kami juga melihat ada di data logbook pesertanya juga demikian,” ujarnya.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·