Kemenkeu Aktifkan Bond Stabilization Fund Redam Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Berdasarkan data penutupan perdagangan, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.529 per dollar AS.

Dilansir dari Money, pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada otoritas moneter untuk menangani fluktuasi nilai tukar ini secara profesional. Langkah strategis dari sisi fiskal juga disiapkan guna mendukung upaya stabilisasi pasar keuangan domestik.

"Kita serahkan ke ahlinya, Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan (rupiah) dengan baik," jelas Purbaya.

Kementerian Keuangan berencana mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) mulai besok guna menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN). Penggunaan dana ini diharapkan mampu menarik kembali arus modal asing masuk ke dalam negeri.

"Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market, itu dengan Bond Stabilization Fund (BSF)," jelasnya.

Selain mengandalkan BSF, pemerintah bakal memanfaatkan Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk melakukan intervensi langsung di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan menjaga agar tingkat imbal hasil atau yield tidak melonjak terlalu tajam akibat tekanan global.

"Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur (Sisa Anggaran Lebih/SAL), kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ujar Purbaya.

Pemicu Pelemahan Rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

"Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat," ujarnya.

Dari sisi internal, terdapat lonjakan permintaan valuta asing (valas) yang bersifat musiman di pasar domestik. Kebutuhan ini mencakup kewajiban pembayaran utang luar negeri, distribusi dividen perusahaan, hingga kebutuhan dana untuk ibadah haji.

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman," kata Destry.

Bank Indonesia terus mengoptimalkan instrumen moneter seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) untuk mengelola volatilitas. BI berkomitmen tetap berada di pasar demi mengembalikan nilai tukar ke level fundamentalnya.

"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," katanya.