28 April 2026 22.01 WIB • 3 menit

Kenapa Gerbong Khusus Perempuan di KRL Ada di Paling Depan dan Belakang?
Kebijakan menerapkan gerbong (kereta) khusus perempuan di KRL tidak tercipta tanpa alasan. Transportasi umum yang padat penumpang meningkatkan risiko terjadinya tindak kriminal, termasuk pelecehan seksual pada wanita.
Keberadaan kereta khusus wanita ini pada dasarnya ditujukan agar wanita yang gemar bermobilisasi dengan angkutan umum bisa terhindar dari tindakan pelecehan dan kejadian lain yang tidak diharapkan. Belum lagi, terdapat pengguna yang merasa tak nyaman saat harus berdesakan dengan lawan jenis di kereta.
Hal inilah yang mendorong PT KAI (Persero) membuat kereta khusus wanita di rangkaian kereta Commuter Line Jabodetabek. Kereta khusus wanita menjadi sebuah kebijakan yang dibuat untuk melindungi perempuan dan memastikan mereka selalu aman dan nyaman saat berada di KRL.
Sejarah Kereta Khusus Perempuan di Indonesia
Disadur dari situs resmi KAI Commuter, kereta khusus wanita (KKW) hadir pertama kali di Indonesia pada 19 Agustus 2010. KAI berinovasi dengan membuat kereta yang diperuntukkan bagi wanita di setiap rangkaian Kereta Api Commuter Jabodetabek.
Saat itu, ada tiga rangkaian kereta khusus perempuan, di mana tiap rangkaiannya, ada dua kereta khusus perempuan yang ditempatkan di kereta pertama dan terakhir (paling belakang). Terdapat stiker yang menunjukkan bahwa kereta tersebut adalah khusus untuk perempuan.
Lebih lanjut, Kementerian Perhubungan RI menyatakan, pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan laki-laki dengan peluncuran KKW itu merupakan wujud perlindungan kepada perempuan. Kaum wanita diharapkan dapat merasa aman dan nyaman saat menggunakan KRL.
Menariknya, pada Oktober 2012, KAI kembali meluncurkan rangkaian KRL Commuter Line khusus wanita. Secara sederhana, rangkaian ini hanya memuat penumpang wanita saja. Program rangkaian khusus wanita (RKW) ini merupakan jawaban dari keinginan penumpang yang berharap jumlah KKW ditambah.
Akan tetapi, rangkaian ini kemudian dihapus oleh KAI di pertengahan tahun 2013. Penghapusan ini dilakukan karena dianggap mendiskriminasikan aspek ketepatan waktu bagi penumpang.
Saat KRL khusus perempuan sedang berjalan dan berhenti di sebuah stasiun, artinya penumpang laki-laki tidak boleh naik. Padahal, penumpang laki-laki juga butuh untuk segera tiba di tempat tujuan tepat waktu. Oleh karena itu, pemerintah dan KAI sepakat untuk menghapus jadwal perjalanan KRL khusus perempuan.
Meskipun demikian, kereta khusus wanita tidaklah dihapus dan masih ada hingga saat ini. Letak keretanya pun masih sama, yakni di bagian paling depan dan paling belakang.
Mengapa Kereta Perempuan Ada di Paling Depan dan Belakang?
Mungkin Kawan GNFI turut bertanya-tanya, apa alasan di balik diletakkannya kereta khusus perempuan di depan dan belakang rangkaian Commuter Line Jabodetabek? Mengapa tidak diletakkan di tengah saja agar terkesan lebih “aman”?
Fenomena serupa sebetulnya bukan hanya ditemukan di KRL, tapi juga di LRT Jabodebek. Ternyata, penempatan dua kereta khusus perempuan di ujung paling depan dan paling belakang memiliki alasan tersendiri.
Merangkum dari akun Instagram LRT Jabodebek, berikut adalah alasan mengapa kereta khusus perempuan diletakkan di depan dan belakang:
- Mempermudah pengawasan. Petugas bisa memantau area khusus wanita dengan lebih fokus karena posisinya terlokasi di ujung rangkaian.
- Akses naik-turun yang lebih tertib. Penempatan kereta khusus wanita di ujung rangkaian bisa membantu mengatur arus naik-turun penumpang agar lebih teratur dan tidak bercampur terlalu padat dengan pengguna lainnya.
- Minim risiko pelanggaran. Penempatan di ujung memudahkan petugas untuk mengontrol dan mencegah aturan area yang memang hanya diperuntukkan bagi wanita.
Sebagai tambahan informasi, saat ini KAI juga membuat terobosan baru yang bertujuan untuk membuat nyaman penumpang perempuan melalui fitur Female Seat Map. Fitur ini seperti peta daan hanya bisa diakses oleh penumpang perempuan.
Sebelumnya, pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI tidak menunjukkan kursi mana yang diduduki oleh laki-laki maupun perempuan. Namun, dengan Female Seat Map, kursi yang dipesan perempuan akan otomatis berwarna merah muda, sedangkan laki-laki berwarna abu-abu.
Dengan fitur peta tersebut, penumpang perempuan bebas untuk menentukan ingin duduk di sebelah perempuan atau pun laki-laki. Perlu dicatat, penumpang laki-laki hanya bisa melihat kursi yang sudah dipesan dengan warna abu-abu, bukan pink.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor
Terima kasih telah membaca sampai di sini
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·