Kereta Api Menggerakkan Mobilitas Rendah Emisi dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Pergerakan masyarakat di awal tahun 2026 mulai membentuk arah baru dalam pola mobilitas sehari-hari. Perjalanan kini terasa lebih terencana, dengan kebutuhan akan kepastian waktu, biaya yang terjangkau, serta pilihan transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, KAI Group melayani 128.055.072 pelanggan, meningkat 9,97% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini selain mencerminkan meningkatnya mobilitas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kawasan di sekitar stasiun ikut bergerak, membuka lebih banyak aktivitas ekonomi dan interaksi masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa perubahan ini berjalan seiring dengan semakin terhubungnya layanan transportasi berbasis rel.

“Kereta api semakin menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dari perjalanan harian hingga antarkota, semuanya terhubung dalam satu sistem layanan yang semakin terintegrasi,” ujar Anne.

Seiring dengan itu, pergerakan antarkota juga terus meningkat. Layanan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal melayani 14.515.350 pelanggan pada Triwulan I 2026, tumbuh 18,40% dibanding tahun sebelumnya. Momentum seperti Lebaran menjadi salah satu pendorong utama, ketika masyarakat bergerak dalam jumlah besar untuk kembali ke kampung halaman maupun melakukan perjalanan ke berbagai kota.

Di saat yang sama, mobilitas harian tetap menjadi penopang utama. Setiap hari, jutaan masyarakat mengandalkan Commuter Line untuk bekerja, sekolah, dan menjalankan aktivitas. Sepanjang Triwulan I 2026, layanan ini melayani 101.382.889 pelanggan, meningkat 8,11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan juga terlihat pada LRT Jabodebek yang melayani 7.754.946 pelanggan atau meningkat 22,10%. Aktivitas kawasan penyangga Jakarta yang semakin dinamis mendorong kebutuhan akan transportasi yang cepat dan terjangkau. Di sisi lain, layanan KA Bandara melayani 1.755.275 pelanggan, meningkat 8,48%, memperkuat akses menuju pusat aktivitas dan destinasi wisata di berbagai kota.

Pergerakan ini juga terlihat di luar Jawa. LRT Sumsel melayani 1.084.242 pelanggan, meningkat 7,38%, sementara Whoosh melayani 1.408.815 pelanggan, meningkat 4,07%, menghadirkan perjalanan Jakarta–Bandung yang lebih efisien. Di wilayah timur Indonesia, KA Makassar–Parepare melayani 75.421 pelanggan, tumbuh 66,45%, menunjukkan semakin kuatnya penerimaan masyarakat terhadap layanan kereta api.

Di tengah peningkatan mobilitas tersebut, cara masyarakat menikmati perjalanan juga ikut berubah. Perjalanan dengan kereta api kini terasa lebih tenang dengan waktu tempuh yang lebih pasti. Pemandangan sepanjang jalur menjadi bagian dari pengalaman yang dinikmati selama perjalanan.

Melalui layanan seperti kereta panoramic dan kereta wisata, perjalanan menghadirkan suasana yang berbeda. KAI Wisata mencatat 78.134 pelanggan, meningkat 110,10%, menunjukkan minat masyarakat terhadap pengalaman perjalanan yang lebih personal dan berkesan.

“Kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Kereta api digunakan oleh berbagai kalangan dengan kebutuhan yang beragam, dan menghubungkan perjalanan dalam satu ekosistem yang semakin terintegrasi,” tutup Anne.

Pertumbuhan ini juga membawa dampak pada efisiensi energi. Transportasi berbasis rel memberi kontribusi dalam pengurangan emisi, seiring penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Pada tahun 2025, penggunaan biodiesel B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh menghasilkan emisi sekitar 127,3 ribu ton CO₂e dari 47,4 juta pelanggan.

Memasuki Triwulan I 2026, dengan 14.515.350 pelanggan, estimasi emisi berada di kisaran 38,9 ribu ton CO₂e. Angka ini menunjukkan efisiensi emisi per penumpang tetap terjaga, sekaligus memperlihatkan peran transportasi massal berbasis rel dalam menekan emisi dibanding penggunaan kendaraan pribadi.

Perubahan ini semakin terasa di kawasan perkotaan seperti Jabodetabek. Pertumbuhan pengguna KRL yang konsisten di berbagai lintas menunjukkan pergeseran pilihan masyarakat dalam menentukan moda transportasi. Perjalanan menjadi lebih teratur, biaya lebih terjangkau, dan aktivitas sehari-hari dapat direncanakan dengan lebih baik.

Dampaknya juga terlihat di sekitar stasiun. Kawasan berkembang, aktivitas ekonomi meningkat, dan peluang usaha tumbuh mengikuti pergerakan penumpang. Mobilitas yang terhubung memberi ruang bagi masyarakat untuk bergerak lebih produktif.

“Infrastruktur transportasi yang terus diperkuat menghadirkan layanan yang semakin andal. Dampaknya terasa dalam kehidupan masyarakat, waktu lebih terjaga dan aktivitas menjadi lebih produktif,” jelas Anne.

Penguatan sistem ini juga didukung oleh integrasi antarmoda yang semakin luas. LRT Jabodebek terhubung dengan Whoosh di Stasiun Halim, sementara kawasan Dukuh Atas mempertemukan LRT dan KRL dalam satu titik. Akses menuju bandara juga semakin mudah melalui berbagai stasiun utama yang saling terhubung.

Sepanjang Triwulan I 2026, seluruh layanan tersebut menunjukkan pertumbuhan. LRT Jabodebek melayani 7,75 juta pelanggan, Whoosh 1,40 juta pelanggan, Commuter Line Jabodebek 87,98 juta pelanggan, dan Commuter Line Bandara 634 ribu pelanggan.

“Konektivitas antar layanan membuat perjalanan lebih efisien. Setiap simpul transportasi saling melengkapi, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam merencanakan perjalanan,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.