Ketegangan AS dan Iran Tekan Mata Uang Asia Termasuk Rupiah Offshore

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan besar akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, baht Thailand menjadi mata uang yang menderita pelemahan paling dalam sebesar 0,39 persen pada perdagangan Kamis siang pukul 13.10 WIB. Pelemahan ini kemudian diikuti oleh won Korea Selatan yang turun 0,38 persen serta ringgit Malaysia sebesar 0,23 persen.

Mata uang regional lainnya juga ikut terdepresiasi. Dolar Singapura melemah 0,16 persen, yuan offshore 0,06 persen, yuan China 0,05 persen, dolar Taiwan 0,04 persen, dan yen Jepang menyusut 0,02 persen.

Konflik di Timur Tengah ini langsung berimbas pada komoditas energi. Harga minyak mentah jenis Brent terkerek naik 3,1 persen menuju level US$97,09 per barel, sedangkan minyak jenis WTI melonjak hingga 3,32 persen ke posisi US$91,64 per barel.

Eskalasi ini dipicu oleh kabar serangan udara militer AS ke fasilitas militer Iran. Langkah ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kekuasaan atas Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran vital dunia tidak boleh didominasi oleh satu negara mana pun.

"Pendorong utama pelemahan mata uang Asia pada Kamis ini adalah meningkatnya kembali permusuhan di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak spot dan imbal hasil obligasi AS," kata Maximillian Lin, strategis valas dan suku bunga Asia di Canadian Imperal Bank of Commerce, seperti dikutip Bloomberg News.

Permintaan terhadap mata uang dolar AS di wilayah Asia kian melonjak. Hal itu terjadi setelah pihak Gedung Putih secara resmi membantah proposal perdamaian yang sempat beredar di media pemerintah Iran dan menyatakan dokumen tersebut sebagai rekayasa.

Situasi ini memicu guncangan di pasar obligasi global. Imbal hasil atau yield US Treasury dengan tenor 10 tahun merangkak naik 4 basis poin ke angka 4,53 persen.

Kenaikan yield obligasi dengan tenor 10 tahun juga terjadi di Korea Selatan yang naik 2,9 basis poin menjadi 4,13 persen. Sebaliknya, yield obligasi pemerintah China justru turun 7,9 basis poin ke level 1,72 persen.

Sementara mata uang regional terjerembab ke zona merah, pergerakan rupiah dan rupee India di pasar spot terpantau mandek. Kondisi ini terjadi karena aktivitas pasar domestik sedang tutup dalam rangka memperingati libur Idul Adha.

Kendati pasar spot dalam negeri tutup, pergerakan rupiah di pasar luar negeri atau offshore terpantau bergerak liar. Nilai tukar rupiah di pasar internasional bahkan sempat menembus level Rp17.900-an per dolar AS.

Berdasarkan data kompilasi pada pukul 13.12 WIB, rupiah offshore sempat bertengger di posisi Rp17.945 per dolar AS pada pukul 10.56 WIB. Mata uang Garuda kemudian bergerak menguat secara terbatas ke level Rp17.892 per dolar AS, dengan sisa pelemahan sebesar 0,03 persen dari nilai pembukaan di posisi Rp17.886 per dolar AS.