Iyung (64), mengeluarkan sebilah golok dari balik kausnya. Ia lalu menunjukkan sisinya yang tajam. Golok itu sepanjang sekitar 50 cm, berwarna perak. Golok itu berkilau di bawah sinar matahari.
"Kalau motong, kalau lewat sini (menunjuk lehernya), itulah lama matinya. Kalau kambing ya. Kalau lewat sini, bawah. Tengah,” kata Iyung.
Iyung adalah jagal profesional, tak terhitung berapa ratus sapi atau kambing yang sudah sembelih.
“Setiap hari, bukan tahunan ya. Setiap hari, saya memotong 150 ekor, 100, sampai 50 ekor. Sering kali saya setiap hari,” kata Iyung.
Hari ini, Rabu (27/5), Iyung jadi 'bintang' utama pada penyembelihan hewan kurban di Gedung DPRD DKI Jakarta. Ia tampak tenang dan terampil, seolah setiap gerak sudah menjadi bagian kesehariannya.
“Saya, saya nih anak tukang potong. Dari kakek saya, turun ke bapak saya,” katanya.
47 Tahun Jadi Jagal
Kurang lebih 47 tahun Iyung menekuni profesi itu. Pengalaman panjang itu menjadi pegangan Iyung dalam setiap proses penyembelihan.
“Umur saya udah 64. Saya motong dari umur 17 tahun. Makanya saya bilang, tukang potong sekarang cuma modal keberanian doang,” ujarnya.
Bagi Iyung, kunci utama dalam pekerjaan ini bukan hanya keberanian, melainkan ketepatan dan ketajaman alat yang digunakan.
“Karena kalau motong itu pisaunya mesti tahu gitu, mesti tajam gitu. Jangan pisaunya tuh ecek-ecek gitu,” katanya.
Iyung berbagi pengalaman, seorang jagal harus memahami karakter hewan yang akan ia sembelih. Ia harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memotong leher bahkan menghindari bahaya.
“Tantangannya itu jangan ngambil dari belakang kakinya. Sapi-sapi Bali itu nendangnya begitu tuh. Sama samping,” jelas Iyung.
Menurutnya, justru hewan yang sudah dalam kondisi tertentu bisa menjadi lebih berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.
“Kalau yang enggak bisa, apalagi ngehadepin sapi yang sudah hidungnya berdarah. Yang hidungnya sudah berdarah, dijemur, itu lebih gila,” ungkapnya.
Ia juga masih mengingat beberapa pengalaman yang membekas di ingatannya, termasuk saat menangani kerbau.
“Pas potong Kerbau. Saya sudah bilang sama teman, dijagal nih dijagal. Gampang kita potongnya. Sudah mati, saya bilang jauhan. Tunggu tenaga terakhir dia. Akhirnya dia enggak, namanya orang baru, dihantam, bhak!! patah ininya (menunjuk kaki). Kerbau tenaga terakhirnya yang kita takut,” paparnya.
Golok Warisan Ayah Berusia Puluhan Tahun
Iyung menjadi jagal, mengikuti jejak ayahnya. Dari ayahnya, ia mempelajari teknik dasar penyembelihan yang hingga kini masih ia gunakan.
Bicara soal alat, Iyung percaya diri dengan golok dan pisau andalannya.
Ia mengeluarkan pisau itu dari balik bajunya. Salah satunya, kata Iyung, merupakan pisau warisan ayahnya. Pisau itu memiliki sarung, tampak terawat, dan mata pisaunya terlihat tajam diasah dengan baik.
“Diasahnya 2 jam. Jadi kalau asah pisau nih, kalau uratnya kemari kemari. Dari kanan begitu. Kalau dia begini, di sini begini, macet di sininya nih,” jelasnya menunjukkan bilah pisaunya.
Pengalaman panjang, membuatnya banyak dipercaya untuk mengurus proses penyembelihan sapi, khususnya di momen Idul Adha. Bahkan ia pernah ditolak untuk mengikuti latihan pemotongan.
“Oh, saya enggak. Saya pernah ngikut pelatihan pemotongan. Pas saya masuk, itu ketuanya bilang, ‘Yah, ente enggak usah!’ Ente tuh orang yang mengajar,” jawabnya saat ditanya apakah ia mengikuti salah satu komunitas ataupun pelatihan jagal, sambil terkekeh.
Soal menjaga stamina, ia mengaku selalu mengandalkan kebiasaan sederhana.
“Ada. Insyaallah ada, itu minum susu kambing. Minum ya segala macam lah,” ujarnya.
Perawatan alat pun masih ia lakukan dengan cara tradisional.
Di akhir percakapan, Iyung memberikan pesan bagi para jagal muda yang baru menekuni profesi ini.
“Kalau saya ucapin berhati-hatilah, jangan terlalu sombong. Jangan anggap sapi itu enggak berani ngelawan kita,” pungkasnya.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·