'Kisah Jamal' Lansia Aceh Tamiang, Bangkit dengan Kedai Kayu Bermodal Bansos

Sedang Trending 1 jam yang lalu

INFO TEMPO - Dalam kedai kayu dekat Hunian Sementara (Huntara) mandiri di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Muhammad Jamal dan Baiti menata lagi hidup mereka setelah banjir besar menerjang akhir November 2025 lalu. Modal membuka warung sayur dan sembako itu dikumpulkan dari semua bantuan sosial yang diperoleh.

Jamal bercerita keluarganya menerima beragam bansos. Mulai dari Bantuan Isi Hunian (BIH) dan Bantuan Stimulan Sosial Ekonomi (BSSE) senilai total Rp 8 juta, serta bantuan Jaminan Hidup (Jadup) Rp 4.050.000 untuk tiga bulan. Total bantuan sebesar Rp 12.050.000.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Uang itu kami gunakan untuk beli perabotan, modal jualan, dan kebutuhan sehari-hari,” kisah lelaki 67 tahun itu kepada Tempo pada Senin, 27 April 2026. Dari kedai itu, istrinya, Baiti, menjual sayur-mayur, sembako, dan sarapan pagi untuk anak sekolah. Kendati penghasilannya tidak sebesar dulu, namun Jamal mengaku cukup membantu kebutuhan harian keluarga.

Menurut dia, omzet per hari mencapai Rp 700 ribu. Hasil dari warung sembako Rp 300 ribu, dan berjualan lontong untuk sarapan pagi Rp 400 ribu.

Adapun pembeli yang berlangganan di kedai Jamal dari warga kampung sekitar yang bernasib sama, mayoritas tinggal di huntara mandiri. Kedai Jamal buka dari jam 6.00 pagi hingga malam sekitar pukul 20.00. Dengan perputaran omzet itu, diperkirakan modal dari bansos akan kembali dalam empat bulan.

Sebelum air bah, sawah dan kebun karet jadi sumber pencarian. Namun, lahannya seluas seluas 17 rante atau sekitar 6.000 meter persegi kini tertimbun lumpur. Sedangkan kebun karetnya di Desa Alue Lhok terkena longsor. “Sekarang tumpuan hidup kami hanya dari kedai ini,” kata Baiti.

Selain kedai, mereka juga tinggal di Huntara berukuran 4x6 meter yang dibangun BNPB sejak Maret lalu. Rumah mereka masih rusak berat dan belum diperbaiki. Lumpur masih menutupi sebagian bangunan. Baiti berharap pemerintah segera membangun Hunian Tetap (Huntap) agar warga terdampak bisa kembali hidup layak. “Kalau siang panas, malam dingin di sini,” ucap perempuan 60 tahun itu.

Kisah Jamal dan Baiti menjadi satu dari ribuan potret warga terdampak banjir di Aceh Tamiang yang menerima bantuan sosial pemerintah secara bertahap. Seiring berjalannya proses verifikasi dan pendataan, penyaluran bantuan terdampak bencana Sumatera menunjukkan peningkatan dibanding awal April 2026.

Laporan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) mencatat nilai penyaluran Jadup di sejumlah daerah meningkat signifikan hingga akhir April. Di Aceh Utara misalnya, nilai Jadup dari Rp 3,1 miliar pada 2 April melonjak hingga Rp 21,3 miliar pada 27 April.

Sejumlah wilayah yang belum terealisasi pada 2 April juga berubah drastis. Di Aceh Singkil misalnya, bantuan telah cair sebesar Rp 3,12 miliar untuk 2.314 jiwa. Di Aceh Tenggara, bantuan mencapai Rp 1,51 miliar untuk 1.125 jiwa. Di Gayo Lues bantuan mulai dicairkan sebesar Rp 648 juta untuk 480 jiwa, dan di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mencapai Rp608 juta untuk 451 jiwa.

Secara keseluruhan, nilai bantuan Jadup di wilayah terdampak bencana Sumatera meningkat dari Rp 272,64 miliar pada awal April menjadi sekitar Rp 367,25 miliar pada akhir April 2026, atau naik 34,7 persen.

Selain peningkatan penyaluran, cakupan wilayah penerima bantuan juga bertambah. Sejumlah daerah yang sebelumnya belum masuk daftar penerima, seperti Bireuen di Aceh serta Langkat dan Sibolga di Sumatera Utara, mulai menerima bantuan setelah proses asesmen dan verifikasi lapangan dilakukan pemerintah.

Terjadinya penambahan jumlah bantuan selaras dengan pernyataan Ketua Satgas PRR Tito Karnavian bahwa penyaluran berbasis data lapangan agar bantuan benar-benar diterima masyarakat terdampak. Proses pendataan dilakukan berlapis mulai dari pemerintah daerah, Forkopimda, hingga verifikasi Badan Pusat Statistik (BPS).

“Kecepatan untuk memberikan bantuan, baik rumah yang rusak, perorangan, perabotan, uang lauk-pauk, dan juga stimulan ekonomi, itu menggunakan mekanisme bottom-up dari pendataan pemerintah kabupaten/kota,” kata Tito dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026

Proses ini membuahkan hasil nyata di lapangan. Pelaksana Harian Kepala Dinas Sosial Aceh Tamiang, Ahmad Yani, mengatakan saat ini penyaluran bansos tahap pertama menyasar 7.575 kepala keluarga atau 26.725 jiwa. Sedangkan tahap kedua menyasar 5.941 kepala keluarga atau sekitar 20.908 jiwa.

“Untuk bansos tahap II ini menyasar warga di empat kecamatan yang terdampak cukup signifikan akibat banjir, yakni Kecamatan Rantau, Karang Baru, Bandar Pusaka, dan Bendahara,” kata Yani.

Menurut dia, bantuan tahap kedua mulai dicairkan sejak 10 April 2026 melalui kantor pos di masing-masing kecamatan. Bantuan meliputi Jadup, BIH, dan Stimulan Sosial Ekonomi. “Dari hasil pendataan yang telah diverifikasi, jumlah penerima bantuan pada tahap ini mencapai 5.954 kepala keluarga dengan estimasi total penerima sekitar 20 ribu jiwa,” ucapnya. (*)