Kisah Sasana Tinju di Kolong Flyover Pasar Rebo, Berawal dari Gangster Damai

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Gubernur Jakarta, Pramono Anung meresmikan sasana tinju di bawah kolong flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Senin (18/5). Ring tinju ini digadang-gadang menjadi alasan penurunan angka tawuran di Jaktim pada tahun 2o26.

Sasana ini lahir dari damainya sembilan kelompok gangster di Jakarta Timur. Mereka bersatu untuk menekan angka tawuran, lalu mengelola sasana itu bersama-sama.

“Kita bergabung dengan kurang lebih sembilan kelompok. Kita kumpulkan, cukup dari masing-masing kelompok itu membawa sekitar 10 atau 15 anggota. Dari pembicaraan dan kumpul tersebut akhirnya permintaan dari mereka itu dibuat lah namanya ring tinju untuk latihan,” ungkap Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin saat peresmian.

Sasana mulai dibangun pada Januari 2026 ini. Sebulan kemudian, sasana mulai beroperasi dan dikelola komunitas Jakarta Militan Fight Camp. Sejak saat itu, sasana tersebut rutin digunakan untuk latihan.

Meski sederhana, fasilitas di sasana ini tergolong lengkap. Ada tujuh samsak yang tergantung, dua di antaranya adalah samsak teardrop dan samsak speed ball. Selain itu, ada toilet dan lahan parkir tersedia secara layak di sasana ini.

“Lumayan lah alhamdulillah walaupun street boxing, tapi enggak kalah lah kualitasnya. Murah tapi nggak murahan,” kata Yance (48), salah satu pelatih di sasana ini saat ditemui, Senin (18/5).

Yance menyebutkan sasana ini menggelar latihan setiap hari, kecuali Minggu. Jam latihan pun cukup panjang, yaitu dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

“Dalam satu sesi latihan, dilaksanakan selama 2 jam,” kata Yance.

Yance, pelatih di sasana tinju kolong jalan layang Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Yance menyebutkan ada sekitar 200 orang yang pernah berlatih di sasana ini. Sekitar 60 orang di antaranya rutin berlatih.

“Sampai sekarang udah ada 60-an orang ya yang sering latihan, yang mau terus dan konsisten,” ungkapnya.

Latihan di sini pun hanya dipungut biaya Rp 10 ribu untuk untuk kontribusi perawatan. Sebab, meskipun fasilitas yang ada cukup lengkap, biaya perawatan masih belum tersedia.

“Kalau untuk pengadaan alat jelas wali kota yang ngadain. Untuk yang pemeliharaan perawatan ini kan belum, jadi sementara kita kenakan charge 10 ribu itu,” ujar Yance.

Sementara itu, tarif biaya pelatih tidak ditentukan karena secara sukarela alias seikhlasnya. Namun, untuk latihan perdana, biaya ini tak diperlukan.

“Seikhlasnya dan sewajarnya. Diharapkan bawa gloves sendiri, bawa handwrap sendiri,” sebut Yance.

Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

“Kalau untuk baru datang sekali, trial lah, free trial. Kita kasih tau, kalau mau terus ayo, mau latihan buat cardio boleh, mau latihan buat prestasi boleh, mau latihan entertain ayo,” jelasnya.

Kepengurusan komunitas ini pun cukup rapih dan jelas. Paling utama, terdapat penanggung jawab atas sasana. Setelah itu, ada bidang perawatan, pengelolaan, dan penjagaan sasana. Terakhir, ada bagian kepelatihan yang mengatur porsi dan jadwal latihan.

“Dan kita kerja sama juga nih sama RT setempat, lurah setempat, dan camat,” ujar Yance.

Dengan latihan yang baru digelar empat bulan ini, Yance menyebutkan bibit unggul petinju telah terlihat dari sasana ini.

“Jakarta Timur oke banget, Jakarta Timur banyak lah calon bibit banyak lah atlet Jakarta Timur. Setelah Pak wali kota adakan camp kayak gini, wah banyak loh yang jago,” tuturnya.

Yance pun berharap dengan resminya sasana ini, pengelolaan menjadi lebih baik dan dapat menggelar kompetisi.

“Untuk biaya perawatan pengajuan kita belum berani karena belum ada peresmian. Tapi setelah peresmian ini nih insyaallah ke depannya makin lebih baik lagi. Insyaallah kita bakal ngadain event ya dari kecil-kecilan dulu lah,” harapnya.