Kondisi Mojtaba Khamenei Misterius Saat IRGC Ambil Alih Kekuasaan Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Keberadaan Pemimpin Agung baru Iran, Mojtaba Khamenei, masih menjadi misteri setelah ia dilaporkan terluka dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada April 2026 yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.

Absennya Mojtaba selama lebih dari enam minggu memicu spekulasi mengenai kapasitas kepemimpinannya di tengah laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengambil alih fungsi-fungsi penting negara dan membatasi gerak Presiden Masoud Pezeshkian.

Data dari CNN menyebutkan bahwa meskipun pernyataan atas nama ulama berusia 56 tahun itu muncul di media sosial, rezim Iran mulai menggunakan video buatan AI untuk menyampaikan pesan, yang memperkuat dugaan bahwa ia sedang tidak berdaya atau berada di luar negeri.

Laporan intelijen yang dilansir TSN.ua mengonfirmasi bahwa Mojtaba mengalami luka-luka dalam serangan yang sama dengan ayahnya, sementara sumber CNN merinci cedera tersebut meliputi patah tulang kaki serta luka pada mata kiri dan wajah.

Di tengah ketidakpastian ini, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai sistem politik Iran sedang menggunakan nama Mojtaba sebagai tameng pelindung dari kritik internal meskipun sang pemimpin tidak dalam kondisi mampu membuat keputusan taktis.

"Mojtaba is not in a state where he can actually make critical decisions or micromanage the talks," ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran International Crisis Group.

Vaez menambahkan bahwa keterlibatan Mojtaba sengaja ditonjolkan secara administratif untuk memberikan persetujuan akhir pada keputusan strategis yang krusial.

"the system is using him to get final approval for key broad decisions and not (for) the tactics for the negotiations." kata Ali Vaez, Direktur Proyek Iran International Crisis Group.

Menurutnya, ketidakhadiran fisik Mojtaba memudahkan para negosiator Iran untuk melindungi diri dari tekanan domestik dengan cara mengatribusikan pandangan tertentu kepadanya.

"The system does deliberately highlight Mojtaba’s involvement because it provides a protective shield for that against internal criticism… unlike his father who would come out regularly and comment on the state of negotiations," tambah Ali Vaez, Direktur Proyek Iran International Crisis Group.

Ia menegaskan bahwa status 'hilang dalam tugas' ini menjadi strategi perlindungan bagi tim perunding di kancah internasional.

"Mojtaba is missing in action, so attributing views to him is a good cover for Iranian negotiators to protect themselves from criticism." ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran International Crisis Group.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahan Iran saat ini sedang mengalami perpecahan yang serius setelah putaran kedua pembicaraan damai di Pakistan gagal karena ketidakhadiran delegasi Teheran.

"We’re dealing with different people than anybody’s dealt with before," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump memberikan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu agar para pemimpin Iran dapat merumuskan proposal tunggal yang lebih terpadu.

"seriously fractured" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Di sisi lain, pakar Iran dari Israel Institute for National Security Studies, Danny Citrinowicz, mencatat bahwa sistem di Teheran kini menjadi jauh lebih kaku secara ideologis.

"If negotiations were difficult before the conflict, they are now far more complex," tulis Danny Citrinowicz, Pakar Iran di Israel’s Institute for National Security Studies.

Citrinowicz menilai Iran kini menghadapi sistem yang menganggap ketahanan mereka dalam konflik sebagai bentuk kemenangan ilahi.

"Iran is facing an increasingly decentralized, hardline, and ideologically rigid system, one that interprets its resilience in the conflict as a form of divine victory." tulis Danny Citrinowicz, Pakar Iran di Israel’s Institute for National Security Studies.

Wakil Presiden AS JD Vance juga menyoroti hambatan dalam negosiasi yang memerlukan persetujuan dari otoritas tertinggi Iran yang saat ini tidak terlihat.

"someone else." kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Kritik tajam datang dari Israel melalui pernyataan Menteri Pertahanan Israel Katz yang menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut tanpa batas waktu.

"The operation will continue without time constraints—until we achieve all objectives and victory." tegas Israel Katz, Pejabat Israel.

Secara ekonomi, Pentagon memperkirakan enam hari pertama peperangan dengan Iran telah menelan biaya sedikitnya 11,3 miliar dolar AS bagi Amerika Serikat, sementara stabilitas pasar energi global kian terancam akibat eskalasi ini.