Konflik Selat Hormuz Tekan Industri Petrokimia dan Penerbangan Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Gangguan arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah mulai menekan industri petrokimia dan penerbangan global secara signifikan pada Jumat (15/5/2026). International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya memperkirakan permintaan minyak dunia akan terkontraksi sebesar 420.000 barel per hari pada tahun ini.

Dilansir dari Money, IEA melaporkan bahwa proyeksi permintaan minyak global kini berada di angka 104 juta barel per hari. Angka tersebut tercatat lebih rendah 1,3 juta barel per hari dibandingkan perkiraan awal sebelum pecahnya konflik bersenjata di kawasan Teluk.

Analisis lembaga tersebut menunjukkan bahwa penurunan penggunaan bahan bakar paling tajam terjadi pada kuartal II-2026 dengan total kontraksi mencapai 2,45 juta barel per hari. Negara-negara OECD dan non-OECD secara kolektif menyumbang penurunan besar dalam distribusi energi internasional.

"Sektor petrokimia dan penerbangan saat ini paling terdampak, tetapi harga yang lebih tinggi, lingkungan ekonomi yang lebih lemah, dan langkah-langkah penghematan permintaan akan semakin berdampak pada penggunaan bahan bakar," tulis IEA dalam laporannya.

Kelangkaan bahan baku seperti LPG, etana, dan nafta menjadi penyebab utama terpukulnya sektor petrokimia, terutama di kawasan Asia dan Eropa. Produksi minyak global dilaporkan telah terhenti hingga 14 juta barel per hari akibat blokade jalur distribusi utama tersebut.

"Untuk saat ini, kerugian paling tajam terlihat di sektor petrokimia di mana ketersediaan bahan baku semakin terbatas," tulis IEA.

Dampak lanjutan dari krisis ini juga merembet ke sektor manufaktur dan konstruksi akibat menipisnya stok bahan plastik dan serat di pasar global. IEA memperingatkan bahwa hilangnya ekspor dari negara-negara Teluk akan memicu beban operasional yang lebih berat.

"Kekurangan plastik dan serat, yang diperparah oleh hilangnya ekspor ke negara-negara Teluk, akan mulai membebani sektor-sektor seperti manufaktur, pertanian, dan konstruksi seiring menipisnya persediaan," tulis IEA.

Di sektor transportasi udara, International Air Transport Association (IATA) mencatat penurunan revenue passenger kilometres (RPK) global sebesar 0,6 persen pada Maret 2026. Penurunan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

"Penyerapan avtur/minyak tanah merupakan produk lain yang paling langsung terpengaruh," ungkap IEA.

Pihak otoritas penerbangan juga mengonfirmasi adanya hambatan besar bagi mobilitas udara internasional. Hilangnya jalur penerbangan melalui hub utama di kawasan Teluk menjadi faktor krusial yang menekan permintaan avtur dunia.

"Aktivitas penerbangan juga terdampak, dengan kombinasi harga yang lebih tinggi dan hilangnya penerbangan melalui hub-hub utama di Teluk yang menjadi hambatan besar bagi permintaan avtur/kerosen," ungkap lembaga tersebut.

Lonjakan biaya operasional maskapai diperkirakan akan berdampak pada kenaikan tarif perjalanan bagi konsumen. Kepala IATA, Willie Walsh, memberikan penegasan terkait potensi kenaikan harga tiket pesawat pada periode liburan mendatang.

"Kelangkaan avtur akan mendorong kenaikan harga tiket pesawat musim panas ini," ucap Walsh, dikutip dari The Guardian.

Hingga April 2026, pasokan minyak dunia kembali merosot sebesar 1,8 juta barel per hari menjadi 95,1 juta barel per hari. Pasar minyak diprediksi akan terus mengalami defisit hingga kuartal IV-2026 akibat penyusutan persediaan global yang mencapai laju rekor.

"Dengan persediaan minyak global yang terus menyusut dalam laju rekor, volatilitas harga diperkirakan masih akan berlanjut menjelang puncak permintaan musim panas," terang IEA.