Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Energi Global Tahun 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Dampak dari konflik di Timur Tengah terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi Asia Pasifik mulai terasa pada akhir Februari 2026. Menurut laporan Asian Development Bank (ADB) yang dirilis, konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah secara signifikan, mengganggu jalur transportasi energi, dan memberikan tekanan pada perekonomian kawasan.

Harga minyak mentah Brent naik hampir mencapai 120 dollar AS per barel sebelum akhirnya stabil di atas 100 dollar AS per barel hingga pertengahan Maret 2026. Kenaikan harga ini mendorong kawasan berkembang Asia dan Pasifik (DAP) dalam posisi rentan karena ketergantungan pada impor energi dan jaringan perdagangan global. Jalur transportasi utama melalui Selat Hormuz juga terganggu.

ADB mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi regional mencapai 5,4 persen pada tahun 2025, sedikit meningkat dari 5,3 persen pada tahun sebelumnya. Konsumsi domestik yang kuat menjadi pendorong utama pertumbuhan di tengah tantangan global. Dinamika pertumbuhan antar-subregional juga bervariasi.

Melemahnya momentum perdagangan global pada paruh kedua tahun 2025 menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan. Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya kontribusi ekspor. Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan. India mencatat lonjakan pertumbuhan konsumsi dari 6,9 persen menjadi 8,1 persen pada paruh kedua 2025.

Kinerja investasi menunjukkan variasi signifikan antarnegara. Industri manufaktur menunjukkan tren campuran, produksi melambat di beberapa negara tetapi meningkat di negara lain. Inflasi regional menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2025 sebelum kembali meningkat menjelang akhir tahun. Dilansir dari Money, tekanan inflasi kembali muncul akibat kenaikan harga pangan dan energi.

Konflik Timur Tengah memperburuk tekanan yang sudah ada, mengganggu rantai pasok global dan memengaruhi sektor keuangan. ADB memproyeksikan pertumbuhan kawasan sebesar 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027 dalam skenario stabilisasi awal. Jika gangguan berlangsung lebih lama, pertumbuhan berpotensi turun menjadi 4,7 persen pada tahun 2026.

“Proyeksi ini masih memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi,” kata ADB dalam laporannya. Ketidakpastian perdagangan global juga menjadi risiko tambahan. Dalam skenario krisis yang lebih berat, dampaknya akan jauh lebih signifikan, memperlambat pertumbuhan secara tajam.