Tim bulu tangkis putri Korea Selatan berhasil mengamankan gelar juara Uber Cup 2026 setelah menumbangkan tim favorit China dengan skor 3-1 pada partai final yang berlangsung di Forum Horsens, Denmark, Minggu (3/5/2026).
Kemenangan ini memastikan Korea Selatan merengkuh trofi Uber Cup ketiga mereka sekaligus mengakhiri dominasi China yang merupakan pemegang gelar terbanyak sebanyak 16 kali. Keberhasilan tim Negeri Gingseng ditentukan melalui strategi perombakan pasangan ganda putri dan performa gemilang di sektor tunggal.
An Se-young membuka keunggulan Korea Selatan setelah mengandaskan perlawanan Wang Zhi Yi lewat skor telak 21-10 dan 21-13. Meskipun China sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui kemenangan pasangan nomor satu dunia Liu Sheng Shu/Tan Ning atas Jeong Na-eun/Lee So-hee, Korea kembali memimpin lewat kejutan besar di partai ketiga.
Tunggal kedua Korea, Kim Ga-eun, secara tidak terduga berhasil mengalahkan peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Chen Yu Fei, dalam dua gim langsung 21-19 dan 21-15. Kemenangan Kim menjadi titik balik krusial mengingat catatan pertemuan sebelumnya yang hanya membukukan satu kemenangan dari sembilan laga melawan wakil China tersebut.
Pada partai keempat, Korea menerapkan strategi memecah pasangan peringkat tiga dunia Baek Ha-na/Lee So-hee dengan menurunkan duet Baek Ha-na/Kim Hye-jeong. Meski baru bertanding lima kali sebagai pasangan, mereka sukses menundukkan Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian dengan skor 16-21, 21-10, dan 21-13 untuk mengunci gelar juara.
Mantan pemain tim nasional Inggris dan komentator BWF, Ben Beckman, memberikan tanggapannya atas hasil pertandingan final tersebut melalui media sosial yang dilansir dari XSports Korea.
"Korea Selatan mengalahkan China, negara dengan gelar trofi Uber Cup terbanyak untuk mencapai puncak," ujar Beckman.
Ia mencatat bahwa meskipun Korea dianggap sebagai satu-satunya pesaing kuat China sebelum turnamen dimulai, hasil di lapangan tetap memberikan kejutan besar bagi para pengamat.
"Sebelum Uber Cup dimulai, banyak orang mengira Korea Selatan adalah satu-satunya negara yang mampu mengalahkan China." ucap Beckman.
Komentator internasional tersebut mengakui bahwa dirinya sempat meragukan peluang Korea Selatan saat hari pertandingan final tiba.
"Saya setuju dengan pendapat itu, tetapi saya harus mengakui bahwa pada hari final, saya jujur tidak mengharapkan hal itu terjadi." kata Beckman.
Beckman menilai konsistensi An Se-young menjadi kunci awal keberhasilan Korea dalam memberikan tekanan kepada tim lawan sejak partai pembuka.
"Namun, Korea Selatan benar-benar membalikkan ekspektasi banyak orang, termasuk saya sendiri," ujar Beckman.
Analisis Beckman menyoroti kegagalan Wang Zhi Yi dalam merespons pola permainan yang diterapkan oleh tunggal putri nomor satu dunia tersebut.
"An Se-young menampilkan performa yang hampir sempurna hari ini. Wang Zhi Yi sama sekali tidak mampu merespons dan tidak pernah sekalipun melepaskan inisiatif sepanjang reli." kata Beckman.
Ia juga sempat memperkirakan China akan mengambil alih kendali permainan setelah kedudukan imbang pada partai kedua.
"Banyak orang mengharapkan China untuk mengambil momentum mengingat hasil imbang 1-1." ujar Beckman.
Faktor keberadaan Chen Yu Fei sebagai pemain unggulan di atas kertas dinilai menjadi alasan kuat mengapa China lebih diunggulkan pada sektor tunggal kedua.
"Ini karena China memiliki peraih medali emas Olimpiade Chen Yu Gei, sementara Korea memiliki Kim Ga-eun,yang tampil kurang maksimal sepanjang turnamen." kata Beckman.
Namun, penampilan Kim Ga-eun di partai final justru menjadi pembeda setelah ia berhasil memanfaatkan celah dalam pergerakan Chen Yu Fei.
"Namun, Kim Ga-eun memainkan pertandingan terbaiknya di momen paling kritis meskipun Chen mengambil inisiatif di awal, Kim Ga-eun mendapatkan kembali momentum dan secara akurat memanfaatkan gerakan lambat lawan." ujar Beckman.
Memasuki partai ganda kedua, Beckman sempat memprediksi laga akan berlanjut hingga partai penentuan sebelum akhirnya pasangan Korea mendominasi gim kedua dan ketiga.
"Situasi sepenuhnya berbalik menguntungkan Korea mulai dari gim kedua," ucap Beckman.
Pertahanan yang solid dan mobilitas tinggi dari pemain ganda Korea Selatan menjadi faktor utama yang mematahkan serangan pemain China hingga akhir laga.
"Pertahanan mereka hampir tidak tertembus dan Kim Hye-jeong menunjukkan aktivitas luar biasa sepanjang pertandingan yang membuat duo China frustrasi." kata Beckman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·