Krisis Energi Global Mengancam Ekonomi Negara Berkembang Akibat Konflik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu krisis energi global yang mengancam stabilitas ekonomi dunia setelah penutupan Selat Hormuz mengganggu seperlima pasokan minyak dan gas bumi. Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak hingga melampaui angka 120 dollar AS per barrel pada Mei 2026.

Dilansir dari Money, tekanan besar kini melanda pasar energi internasional seiring terganggunya rantai pasok global. Data menunjukkan bahwa harga minyak mentah Brent sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada akhir April 2026 akibat kekhawatiran meluasnya konflik di wilayah tersebut.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memberikan penegasan mengenai situasi ekonomi dunia saat ini. Hal tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi yang berlangsung di Paris.

“tantangan ekonomi dan energi besar” ujar Fatih Birol, Kepala International Energy Agency (IEA).

Laporan Al Jazeera pada Rabu (13/5/2026) mengungkapkan bahwa negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan karena keterbatasan cadangan energi. Meski anggota IEA melepas 400 juta barrel cadangan darurat pada Maret 2026, ketimpangan stok antara negara maju dan berkembang tetap terlihat sangat mencolok.

Berdasarkan catatan IEA per Maret 2026, negara anggota organisasi tersebut memiliki total 1,8 miliar barel cadangan minyak publik dan swasta. Sementara itu, China diperkirakan menyimpan 1,4 miliar barel cadangan darurat, jumlah yang lebih besar dibandingkan gabungan stok milik Amerika Serikat, Jepang, dan Arab Saudi.

Khalid Waleed, peneliti dari Sustainable Development Policy Institute di Pakistan, menjelaskan hambatan finansial yang dihadapi negara miskin dalam membangun ketahanan energi nasional.

“Cadangan minyak strategis mahal untuk dibangun, diisi, dibiayai, dirotasi, dan dikelola” ujar Khalid Waleed, Peneliti Sustainable Development Policy Institute.

Waleed menambahkan bahwa bagi negara dengan beban utang tinggi dan tekanan nilai tukar, menyimpan stok minyak dalam jumlah besar sering kali dianggap sebagai sebuah kemewahan. Padahal, langkah tersebut memiliki nilai strategis yang sangat penting untuk menghadapi gejolak pasar.

Kawasan Asia Pasifik diproyeksi menanggung beban ekonomi terberat karena ketergantungan yang tinggi pada impor bahan bakar. Asian Development Bank (ADB) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia menjadi 4,7 persen untuk tahun 2026.

Kondisi krisis di lapangan dikonfirmasi oleh pejabat tinggi pemerintah Pakistan terkait ketersediaan stok energi nasional mereka saat ini.

“negaranya hanya memiliki cadangan minyak mentah untuk lima hingga tujuh hari” ujar Ali Pervaiz Malik, Menteri Energi Pakistan.

Data tersebut jauh di bawah standar IEA yang mewajibkan stok setara 90 hari impor. Sementara itu, Indonesia, Bangladesh, dan Vietnam hanya memiliki cadangan energi yang cukup untuk durasi 23 hari hingga satu bulan saja.

Kepala Riset Sparta di Singapura, Neil Crosby, menyoroti masalah teknis dan finansial yang menghambat negara berkembang dalam mempertahankan stok minyak mentah guna menahan lonjakan harga.

“Pada akhirnya, pertahanan jangka panjang terkuat adalah mempercepat proyek energi terbarukan untuk secara permanen memisahkan pembangkit listrik lokal dari pasar minyak internasional” ujar Neil Crosby, Kepala Riset Sparta.

Menurut laporan lembaga keuangan JPMorgan, gangguan pasokan minyak akibat ketegangan AS-Iran mencapai 13,7 juta barrel per hari pada April 2026. Angka ini setara dengan 14 persen dari total permintaan dunia dan memicu defisit pasar sebesar 2 juta barrel per hari.

Analisis dari pakar kebijakan energi, Andreas Goldthau, menunjukkan bahwa peran IEA mulai melemah seiring dengan pertumbuhan permintaan energi yang masif di luar negara-negara anggota OECD.

“Semakin kecil pangsa negara-negara OECD dalam permintaan global, yang merupakan fungsi dari berkurangnya intensitas minyak di dalam negeri dan pertumbuhan permintaan di luar negeri, semakin kecil pula pangsa pasar yang diatur di bawah IEA, dan mekanisme manajemen darurat bersama yang dimilikinya” ujar Andreas Goldthau, Pakar Energi Willy Brandt School of Public Policy.

Krisis ini juga diperkirakan memicu inflasi global, di mana harga bensin di Amerika Serikat telah melonjak menjadi 4,05 dollar AS per galon. Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menekankan pentingnya ketersediaan cadangan energi bagi setiap negara.

“Cadangan minyak strategis merupakan masalah keamanan nasional” ujar Claudio Galimberti, Kepala Ekonom Rystad Energy.

Hingga saat ini, lembaga Citigroup memproyeksikan harga minyak Brent dapat menembus 150 dollar AS jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut hingga Juni 2026.