Jakarta -
Selama ini izakaya menjadi bagian budaya kuliner di Jepang, berupa tempat makan yang sekaligus menawarkan minuman beralkohol. Sayangnya, banyak izakaya yang kini gulung tikar karena sepi pengunjung.
Izakaya dikenal sebagai tempat makan sekaligus tempat minum-minum alkohol khas Jepang. Namun, kini nasib bisnis izakaya tengah di ujung tanduk. Spot kuliner yang identik dengan suasana santai sepulang kerja itu dilaporkan mengalami gelombang kebangkrutan tertinggi dalam hampir 40 tahun terakhir.
Dilansir dari SoraNews24 (21/05/2026), berdasarkan laporan lembaga riset Tokyo Shoko Research, sebanyak 88 izakaya di Jepang gulung tikar atau bangkrut sepanjang Januari hingga April 2026. Seluruh usaha tersebut tercatat memiliki utang minimal 10 juta yen (Rp 1,1 miliar).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah itu meningkat 54,3% dibanding periode yang sama tahun lalu dan menjadi angka tertinggi sejak data mulai dicatat pada 1989. Kondisi tersebut menunjukkan bisnis kuliner izakaya semakin sulit bertahan di tengah tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat Jepang.
Izakaya di Jepang. Foto: Site Culinary/Visual
Izakaya sendiri dikenal sebagai bagian penting dari budaya kuliner Jepang karena menawarkan aneka makanan pendamping minuman alkohol, seperti yakitori, sashimi, dan onigiri panggang. Namun, kenaikan harga bahan pangan, biaya listrik, serta operasional membuat banyak pemilik usaha kesulitan bertahan.
Kondisi Jepang saat ini mengalami inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Harga bahan baku makanan, listrik, dan utilitas terus meningkat sehingga biaya operasional restoran ikut membengkak.
Sebagian pemilik izakaya mencoba bertahan dengan mengecilkan porsi makanan, mengganti bahan baku dengan alternatif lebih murah, atau menaikkan harga menu. Akan tetapi, kondisi ekonomi membuat konsumen Jepang kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk makan di luar.
Izakaya di Jepang. Foto: Site Culinary/Visual
Paket makan lengkap dengan minuman sepuasnya yang dulu menjadi daya tarik utama izakaya kini juga semakin mahal. Banyak paket makan dan minum berdurasi 90 hingga 120 menit dibanderol lebih dari 5.000 (Rp 560 ribu). Harga tersebut dianggap terlalu tinggi oleh sebagian pelanggan.
Perubahan pola kerja warga Jepang setelah pandemi COVID-19 juga ikut memengaruhi industri izakaya. Jika dulu tempat ini ramai dikunjungi pekerja kantor sepulang kerja, kini kebiasaan tersebut mulai berkurang karena banyak perusahaan menerapkan sistem kerja remote atau jarak jauh. Selain itu, warga Jepang kini lebih memilih langsung pulang usai kerja dibandingkan nongkrong di izakaya.
Turis mancanegara pun belum mampu menyelamatkan bisnis izakaya. Banyak turis lebih tertarik mencoba ramen, sushi, atau kari Jepang dibanding datang ke izakaya yang menunya dianggap lebih rumit. Meski begitu, izakaya tetap menjadi bagian penting dari budaya sosial dan kuliner Jepang hingga sekarang.
(sob/adr)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·