Kritik Sajogyo terhadap Pembangunan Orde Baru ala Soeharto

Sedang Trending 1 jam yang lalu

SAJOGYO yang dikenal sebagai bapak sosiologi pedesaan Indonesia, pernah melemparkan kritik terhadap rezim Orde Baru. Pria bernama lahir Kampto Utomo itu mengkritik pembangunan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto yang fokus pada pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan ketimpangan.

Dia mengusulkan poin tambahan dalam trilogi pembangunan Orba. "Ketika tahun 80-an itu Pak Sajogyo kemudian mengusulkan solidaritas," kata Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, ketika menjadi pembicara Seminar Nasional Spirit Mgr Soegijapranata dan Prof Sajogyo di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Jumat, 24 April 2026.

Trilogi pembangunan ala Soeharto itu meliputi stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan. Sajogyo kemudian mengusulkan solidaritas sosial untuk melengkapi trilogi tersebut. 

"Tapi pemerataan itu ternyata tidak cukup karena sebetulnya yang dibutuhkan adalah plus solidaritas sosial," kata Ivanovich. "Di sini ada kewajiban moral dari lapisan atas itu untuk mengentaskan kemiskinan lapisan bawah."

Langkah awal untuk pemerataan pembangunan, menurut Sajogyo, adalah reforma agraria. "Agrarian reform itu adalah kewajiban awal, sebelum kemudian bisa bergerak menjadi pemerataan dan kemudian solusi terkait sosial," tuturnya.

Sajogyo menawarkan skema solidaritas pembangunan desa melalui delapan jalur pemerataan plus. Lima jalur utama yaitu peluang berusaha, bekerja, penentukan pendapatan, akses kebutuhan primer, dan pendidikan serta kesehatan. Kemudian tiga jalur pelengkap meliputi peran masyarakat, pemerataan antar-daerah, dan kesamaan dalam hukum.

Sajogyo, pakar sosiologi pedesaan, meninggal pada 17 Maret 2012. Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah pada 21 Mei 1926, merupakan Guru Besar Sosiologi Pedesaan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Almarhum menyelesaikan pendidikan doktor di bidang Ilmu Pertanian di Universitas Indonesia, Bogor, pada 1957. Kala itu IPB masih bergabung dengan Universitas Indonesia.

Sajogyo pernah menjabat sebagai Rektor IPB pada 1965 hingga 1966. Jabatan lainnya di IPB adalah Kepala Pusat Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan pada 1972-1983 dan Ketua Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian IPB pada 1983-1991.

Sementara itu, perannya bagi lembaga lain adalah sebagai Ketua Badan Pekerja Proyek Survei Agro Ekonomi di Departemen Pertanian pada 1964–1972. Almarhum pernah menjadi anggota panitia nasional IPTEK, anggota Dewan Riset Nasional, dan anggota Kehormatan AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia).


Seminar itu digelar menjelang peringatan 100 tahun Sajogyo. Turut menjadi pembicara adalah Tony D Pariela dari Universitas Patimura dan dosen Soegijapranata Catholic University Andreas Pandiangan Fakultas Hukum dan Komunikasi, Rustina Untari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Alberta Rika Pratiwi Fakultas Teknologi Pertanian.

Pilihan Editor: Tafsir Kekuasaan Tarian Sulistyo Tirtokusumo