Kunjungan Marc Guehi ke Crystal Palace Soroti Adaptasi di Manchester City

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Bek Manchester City, Marc Guehi, dilaporkan mengunjungi tempat latihan mantan klubnya, Crystal Palace, pada Senin (7/4/2026) di sela waktu liburnya. Kunjungan ini terjadi setelah kemenangan Manchester City 4-0 atas Liverpool di perempat final Piala FA akhir pekan lalu, mengindikasikan hubungan baik yang tetap terjaga.

Guehi, yang berusia 25 tahun, bergabung dengan Manchester City dari Crystal Palace pada Januari 2026 dengan nilai transfer £20 juta dan kontrak berdurasi lima setengah tahun. Transfer ini dilakukan untuk memperkuat lini pertahanan Pep Guardiola di tengah krisis personel.

Pelatih Crystal Palace, Oliver Glasner, mengungkapkan bahwa Guehi makan siang bersama tim. "Marc Guehi mendapat jatah libur di Manchester City pada hari Senin sehingga ia mengunjungi tempat latihan," kata Glasner, seperti dikutip dari laporan Bobby Manzi di X.

Glasner menambahkan bahwa kunjungan tersebut merupakan tanda positif bahwa para pemain yang telah meninggalkan Palace masih menikmati kembali dan berkunjung. "Kami berbincang, dia makan siang bersama kami," ujarnya.

Sebelumnya, Guehi hampir bergabung dengan Liverpool pada musim panas lalu, namun negosiasi gagal. Manchester City kemudian mencapai kesepakatan dengan Palace untuk merekrut jebolan akademi Chelsea tersebut pada pertengahan bursa transfer Januari.

Pemain internasional Inggris ini telah menunjukkan awal yang menjanjikan di Etihad Stadium, beradaptasi dengan mulus dalam barisan pertahanan Manchester City. Ia tampil gemilang dan membantu tim menjaga clean sheet saat melawan Liverpool, mengamankan rekor penampilan semifinal Piala FA kedelapan berturut-turut.

Kehadiran Guehi turut meredakan kekhawatiran akan kepergian John Stones, Manuel Akanji, dan Nathan Ake yang kontraknya diperkirakan akan berakhir pada akhir musim. Adaptasi cepat Guehi terhadap sistem Guardiola memberikan dorongan signifikan bagi direktur sepak bola Hugo Viana.

Di sisi lain, beberapa penjualan pemain di klub lain justru menimbulkan sorotan. Liverpool, misalnya, mendapat kritik atas penjualan Luis Diaz ke Bayern Munich seharga £60,5 juta dan Jarell Quansah ke Bayer Leverkusen seharga £30 juta.

Menurut laporan dari football365.com, meskipun Liverpool awalnya dianggap berhasil mendapatkan keuntungan besar dari penjualan Diaz, kepergiannya justru membuat performa tim menurun drastis. Diaz mencetak 23 gol dan 18 assist dalam 40 pertandingan bersama Bayern, sementara Liverpool kehilangan kehadirannya yang krusial.

Penjualan Quansah, bek tengah muda berbakat, juga dianggap merugikan Liverpool, terutama mengingat cedera yang menimpa beberapa pemain belakang mereka. Kedalaman skuad di lini pertahanan Liverpool menjadi pertanyaan setelah kepergian Quansah.

Pemain lain yang penjualan atau kepindahannya disorot termasuk Valentin Barco dari Brighton ke Strasbourg, Lloyd Kelly dari Newcastle ke Juventus, Kiernan Dewsbury-Hall dari Chelsea ke Everton, Martial Godo dari Fulham ke Strasbourg, Matheus Cunha dari Wolves ke Manchester United, dan Pierre-Emile Hojbjerg dari Tottenham Hotspur ke Marseille.

Kasus Cunha menyoroti kesulitan Wolves dalam menemukan pengganti yang sepadan setelah kepindahannya ke Manchester United seharga £62,5 juta. Meski Wolves tidak punya banyak pilihan karena klausul pelepasan, performa mereka menurun tajam sejak kepergiannya.

Kunjungan Guehi ke Palace menunjukkan sisi positif dari hubungan mantan pemain dengan klub, berbeda dengan polemik transfer yang terjadi di beberapa klub lain yang kini disorot karena keputusan penjualan pemain yang dinilai kurang tepat.