Jakarta -
Seorang pria berusia 19 tahun hidup hemat dengan cara ekstrem. Ia tinggal di kolong jembatan dan bekerja sebagai kurir makanan demi bisa kuliah.
Perjuangan meraih masa depan sering kali menuntut pengorbanan. Ada yang rela bekerja berjam-jam setiap hari, menekan pengeluaran seminimal mungkin, hingga menjalani kehidupan yang jauh dari kata nyaman.
Mereka meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan zona nyaman demi mengejar pendidikan maupun pekerjaan yang diyakini dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Salah satunya kisah seorang pria yang dilansir dari The Star, (6/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Tang Wei belakangan menarik perhatian publik setelah kondisinya terungkap melalui media lokal di Changsha, Provinsi Hunan. Meski hidup dalam keterbatasan, semangatnya untuk mengubah nasib lewat pendidikan membuat banyak orang tersentuh.
Seorang pengantar makanan hidup hemat dengan ekstrem sampai tinggal di kolong jembatan. Foto: The Star
Tang berasal dari Kabupaten Xinhuang, wilayah pedesaan di Hunan. Ia diterima di sebuah perguruan tinggi teknik di Changsha dan dijadwalkan mulai kuliah pada September mendatang.
Untuk mengumpulkan biaya pendidikan dan kebutuhan hidup, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya pada awal Mei dan mencari pekerjaan sementara di kota tersebut. Di Changsha, Tang kemudian bekerja sebagai seorang pengantar makanan.
Pekerjaan itu mengharuskannya berkeliling kota setiap hari dengan jam kerja yang panjang. Demi menghemat pengeluaran, ia memilih tinggal di bawah sebuah jembatan daripada menyewa kamar atau tempat tinggal sederhana yang membutuhkan biaya tambahan.
Tak hidup seorang diri, ia ditemani oleh seekor anjing peliharaan yang bernama Bobo. Setiap hari, sejak pagi hingga malam Tang terus keluar masuk restoran untuk mengambil dan mengantarkan makanan ke rumah pelanggan.
Bahkan hidupnya hanya ditemani seekor anjing yang kerap berbagi makanan bersama. Foto: The Star
Pendapatannya dari mengantar makanan tersebut kemudian dibelikan beberapa peralatan pokok. Seperti tenda, alas tidur, alat makan, serta peralatan memasak sederhana.
"Situasi keuangan keluargaku tidak bagus. Dan juga aku memiliki adik laki-laki. Aku ingin menjadikan kesempatan selama tiga bulan kedepan untuk berusaha membayar biaya pendidikan dan kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Tang.
Pekan pertama ia bekerja, ia mengungkap hanya mendapat upah 200 Yuan atau setara Rp530 ribu. Sampai akhirnya seorang manajer dari pabrik mesin menawarkan Tang pekerjaan dengan kontrak selama 3 bulan ke depan.
Ia ditugaskan menjadi penjaga gudang yang difasilitasi dengan tempat tidur nyaman serta makan sepuasnya dari kantin karyawan. Kini Tang dan Bobo bisa sedikit bernapas lega.
Pendapatannya lebih diberikan lebih tinggi dari sebelumnya agar Tang bisa menabung untuk biaya kuliah dan kebutuhan hidupnya.
(dfl/adr)
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·