Persebaya Surabaya kembali tersandung dan kali ini luka itu terasa semakin dalam. Kekalahan 1-2 dari Madura United di kandang sendiri membuat posisi Bernardo Tavares kian disorot tajam.
Dalam pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya sebenarnya tampil dominan sepanjang laga. Namun efektivitas menjadi masalah klasik yang kembali menghantui Green Force di momen krusial.
Penguasaan bola mencapai 72 persen menunjukkan kontrol permainan yang baik. Sayangnya, dominasi itu tak mampu dikonversi menjadi kemenangan.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap Bernardo Tavares semakin besar. Apalagi publik mulai mempertanyakan keseimbangan permainan tim, khususnya di sektor pertahanan.
Catatan kebobolan 20 gol dari 12 pertandingan menjadi alarm serius. Angka tersebut menunjukkan rapuhnya lini belakang yang belum menemukan konsistensi.
Dari total 12 laga, Persebaya Surabaya mencatatkan lima kemenangan, dua hasil imbang, dan lima kekalahan. Perolehan 17 poin dengan rata-rata 1,42 poin per pertandingan menjadi gambaran performa yang belum stabil.
Situasi ini tentu jauh dari harapan tim yang ingin bersaing di papan atas. Inkonsistensi menjadi kata kunci yang menggambarkan perjalanan Green Force musim ini.

Kekalahan dari Madura United menjadi pukulan telak secara mental. Terlebih laga tersebut dimainkan di hadapan pendukung sendiri yang berharap hasil maksimal.
Kini fokus harus segera dialihkan ke dua laga tandang yang tak kalah berat. Persebaya Surabaya akan menghadapi Malut United dan Arema FC dalam waktu berdekatan.
Laga pertama akan berlangsung pada Kamis, 23 April 2026 di Stadion Kie Raha, Ternate. Setelah itu, tantangan berikutnya menanti saat menghadapi Arema FC pada Selasa, 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan.
Dua pertandingan tersebut berpotensi menjadi penentu masa depan Bernardo Tavares. Jika hasil buruk kembali terjadi, bukan tidak mungkin tekanan akan berubah menjadi keputusan besar dari manajemen.
Selain masalah taktik, kondisi pemain juga menjadi kendala serius. Beberapa pemain mengalami cedera yang membuat rotasi tim menjadi terbatas.
“Kami berharap tim medis bisa membantu memulihkan beberapa pemain agar kami memiliki lebih banyak pilihan. Saat ini saya masih harus melihat siapa saja yang tersedia,” tandasnya.
Pernyataan itu menunjukkan situasi tim yang belum ideal. Keterbatasan pilihan pemain jelas memengaruhi fleksibilitas strategi yang bisa diterapkan.
Di sisi lain, lini serang sebenarnya tidak terlalu buruk dengan torehan 17 gol. Namun produktivitas tersebut tidak mampu menutupi kelemahan di lini pertahanan.
Keseimbangan antara menyerang dan bertahan menjadi pekerjaan rumah utama. Tanpa perbaikan signifikan, sulit bagi Persebaya Surabaya untuk bangkit secara konsisten.
Sorotan juga mengarah pada pendekatan taktik yang digunakan. Beberapa pihak menilai permainan masih terlalu mudah dibaca lawan, terutama saat transisi bertahan.
Hal ini terlihat dari banyaknya gol yang tercipta akibat kelengahan di lini belakang. Koordinasi antarpemain bertahan menjadi aspek yang perlu segera dibenahi.
Dalam sepak bola modern, pertahanan solid adalah fondasi utama. Tanpa itu, dominasi permainan tidak akan berarti banyak di papan skor.
Dukungan suporter tentu masih ada, tetapi kesabaran memiliki batas. Hasil di dua laga tandang mendatang akan sangat menentukan arah musim ini.
Jika mampu meraih poin maksimal, peluang bangkit tetap terbuka lebar. Namun jika kembali gagal, tekanan terhadap Bernardo Tavares akan semakin tak terbendung.
Situasi ini menempatkan sang pelatih dalam posisi sulit. Ia dituntut segera menemukan solusi cepat di tengah keterbatasan yang ada.
Persebaya Surabaya kini berada di persimpangan jalan. Antara bangkit dan menjaga asa, atau terus terpuruk dan menghadapi konsekuensi yang lebih besar.
Semua mata akan tertuju pada dua laga berikutnya. Di sanalah nasib Bernardo Tavares benar-benar dipertaruhkan.(jpc)
Persebaya Surabaya kembali tersandung dan kali ini luka itu terasa semakin dalam. Kekalahan 1-2 dari Madura United di kandang sendiri membuat posisi Bernardo Tavares kian disorot tajam.
Dalam pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya sebenarnya tampil dominan sepanjang laga. Namun efektivitas menjadi masalah klasik yang kembali menghantui Green Force di momen krusial.
Penguasaan bola mencapai 72 persen menunjukkan kontrol permainan yang baik. Sayangnya, dominasi itu tak mampu dikonversi menjadi kemenangan.

Kondisi ini membuat tekanan terhadap Bernardo Tavares semakin besar. Apalagi publik mulai mempertanyakan keseimbangan permainan tim, khususnya di sektor pertahanan.
Catatan kebobolan 20 gol dari 12 pertandingan menjadi alarm serius. Angka tersebut menunjukkan rapuhnya lini belakang yang belum menemukan konsistensi.
Dari total 12 laga, Persebaya Surabaya mencatatkan lima kemenangan, dua hasil imbang, dan lima kekalahan. Perolehan 17 poin dengan rata-rata 1,42 poin per pertandingan menjadi gambaran performa yang belum stabil.
Situasi ini tentu jauh dari harapan tim yang ingin bersaing di papan atas. Inkonsistensi menjadi kata kunci yang menggambarkan perjalanan Green Force musim ini.
Kekalahan dari Madura United menjadi pukulan telak secara mental. Terlebih laga tersebut dimainkan di hadapan pendukung sendiri yang berharap hasil maksimal.
Kini fokus harus segera dialihkan ke dua laga tandang yang tak kalah berat. Persebaya Surabaya akan menghadapi Malut United dan Arema FC dalam waktu berdekatan.
Laga pertama akan berlangsung pada Kamis, 23 April 2026 di Stadion Kie Raha, Ternate. Setelah itu, tantangan berikutnya menanti saat menghadapi Arema FC pada Selasa, 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan.
Dua pertandingan tersebut berpotensi menjadi penentu masa depan Bernardo Tavares. Jika hasil buruk kembali terjadi, bukan tidak mungkin tekanan akan berubah menjadi keputusan besar dari manajemen.
Selain masalah taktik, kondisi pemain juga menjadi kendala serius. Beberapa pemain mengalami cedera yang membuat rotasi tim menjadi terbatas.
“Kami berharap tim medis bisa membantu memulihkan beberapa pemain agar kami memiliki lebih banyak pilihan. Saat ini saya masih harus melihat siapa saja yang tersedia,” tandasnya.
Pernyataan itu menunjukkan situasi tim yang belum ideal. Keterbatasan pilihan pemain jelas memengaruhi fleksibilitas strategi yang bisa diterapkan.
Di sisi lain, lini serang sebenarnya tidak terlalu buruk dengan torehan 17 gol. Namun produktivitas tersebut tidak mampu menutupi kelemahan di lini pertahanan.
Keseimbangan antara menyerang dan bertahan menjadi pekerjaan rumah utama. Tanpa perbaikan signifikan, sulit bagi Persebaya Surabaya untuk bangkit secara konsisten.
Sorotan juga mengarah pada pendekatan taktik yang digunakan. Beberapa pihak menilai permainan masih terlalu mudah dibaca lawan, terutama saat transisi bertahan.
Hal ini terlihat dari banyaknya gol yang tercipta akibat kelengahan di lini belakang. Koordinasi antarpemain bertahan menjadi aspek yang perlu segera dibenahi.
Dalam sepak bola modern, pertahanan solid adalah fondasi utama. Tanpa itu, dominasi permainan tidak akan berarti banyak di papan skor.
Dukungan suporter tentu masih ada, tetapi kesabaran memiliki batas. Hasil di dua laga tandang mendatang akan sangat menentukan arah musim ini.
Jika mampu meraih poin maksimal, peluang bangkit tetap terbuka lebar. Namun jika kembali gagal, tekanan terhadap Bernardo Tavares akan semakin tak terbendung.
Situasi ini menempatkan sang pelatih dalam posisi sulit. Ia dituntut segera menemukan solusi cepat di tengah keterbatasan yang ada.
Persebaya Surabaya kini berada di persimpangan jalan. Antara bangkit dan menjaga asa, atau terus terpuruk dan menghadapi konsekuensi yang lebih besar.
Semua mata akan tertuju pada dua laga berikutnya. Di sanalah nasib Bernardo Tavares benar-benar dipertaruhkan.(jpc)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·