Jakarta (ANTARA) - Sri Aryanti Nurafiah jarang sekali memulai pagi tanpa ketergesaan. Pembuat kerajinan gantungan kunci yang tinggal di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, itu selalu memutar otak untuk kelangsungan hidup dan usahanya.
Sebelum matahari terbit, ia sudah lebih dulu memikirkan banyak hal, termasuk apakah uang belanja cukup hingga akhir pekan, bagaimana memenuhi kebutuhan anak, dan apa yang bisa dilakukan agar penghasilan keluarga bertambah.
Dan selayaknya banyak perempuan lain di lingkungan padat Cikarang Barat, perempuan yang akrab disapa Yanti itu hidup dengan perhitungan yang sangat sederhana, tetapi melelahkan.
Setiap rupiah harus dijaga nilainya. Dalam kondisi seperti itu, keinginan membuka usaha sering terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.
Dan di sela kesibukan mengurus rumah tangga, Yanti memang menyimpan satu kemampuan yang lama hanya menjadi pekerjaan kecil dari rumah, yakni terus membuat kriya gantungan kunci.
Ia melihat ada peluang dari keterampilan sederhana itu. Bukan untuk menjadi besar dalam waktu cepat, melainkan sekadar membantu dapur tetap menyala ketika penghasilan suaminya dirasa belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau hanya mengandalkan gaji suami, saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujarnya.
Keraguan itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan banyak perempuan pengusaha ultra mikro di Indonesia. Mereka memiliki kemauan bekerja yang kuat, tetapi sering terhalang oleh sesuatu yang tampak sederhana bahwa tidak adanya akses dan rasa dipercaya.
Ketika ingin memulai usaha, mereka berhadapan dengan berbagai syarat yang sulit dipenuhi, mulai dari jaminan, aset, administrasi, hingga histori keuangan yang rapi. Sementara bagi masyarakat ultra mikro, bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah menjadi perjuangan panjang.
Padahal kelompok inilah yang justru paling akrab dengan kerja keras. Mereka bangun paling pagi dan tidur paling akhir. Mereka memasak, mengurus rumah, menjaga anak, sambil tetap mencoba mencari tambahan penghasilan dari usaha kecil yang kadang, bahkan tidak dianggap sebagai usaha oleh banyak orang.
Karena itu, bagi pengusaha ultra mikro, akses pembiayaan tanpa jaminan sebenarnya bukan sekadar bantuan modal. Ada makna yang lebih dalam di dalamnya, yakni pengakuan bahwa mereka dianggap mampu berkembang dan layak dipercaya.
Program Mekaarpreneur
Perubahan itu mulai dirasakan Yanti pada 2022. Di tengah berbagai upaya memperluas akses keuangan bagi masyarakat kecil melalui semangat pemberdayaan UMKM, ia mendapatkan akses pembiayaan usaha dari PNM, salah satu badan usaha milik negara.
Modal tersebut langsung digunakan untuk membeli bahan baku usaha kriya yang selama ini sulit ia tambah karena keterbatasan biaya.
Usaha yang awalnya hanya dikerjakan sederhana dari rumah perlahan mulai berkembang. Pesanan bertambah, sedikit demi sedikit. Dari yang sebelumnya hanya mencoba bertahan, Yanti mulai berani membayangkan usaha yang lebih serius.
“Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” katanya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
14 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·