Mahasiswa Demo Papua Minta Natalius Pigai Temui Massa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

MASSA aliansi mahasiswa Papua yang menamakan diri Front Anti-Militerisme dan Investasi mencoba merobohkan pagar Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia, Jakarta, saat mendesak Menteri HAM Natalius Pigai menemui mereka. Sejak pukul 10.00 WIB pada Senin, 11 Mei 2026, massa berorasi menuntut pertanggungjawaban pemerintah dalam kasus kekerasan bersenjata di Moanemani, Kabupaten Dogiyai, yang menewaskan setidaknya lima orang pada akhir Maret lalu.

Peserta aksi pun bergantian berorasi dari atas mobil komando dan memanggil Natalius Pigai keluar dari kantornya. "Natalius Pigai sebagai orang Papua harus keluar di depan orang Papua. Sama seperti kamu, kita menuntut keadilan!" ujar wakil koordinator lapangan aksi, Laban Jingga.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di tengah-tengah orasi, massa aksi sempat memutar instrumen musik untuk mengiri tarian dan seruan mereka memanggil Pigai. Mereka memutari mobil komando sambil meloncat-loncat dan memegang poster yang berisi berbagai aspirasi.

Massa aksi juga menyoroti pernyataan Pigai yang mengklaim ia telah memahami urusan HAM sejak berusia 5 tahun. Massa terus menerus mendesak Pigai berdiri di depan mereka dan mendengarkan pesan yang dibawa dari kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM di Tanah Papua.

"Kami harus pastikan apa yang telah dia (Pigai) lakukan (sejak umur 5 tahun). Natalius Pigai harus keluar. Jangan sembunyi dalam gedung kecil itu," ujar salah seorang peserta aksi.

Hingga pukul 11.47 WIB, demonstrasi masih berlangsung dan Natalius Pigai belum menemui massa aksi. Untuk sesaat, beberapa peserta mencoba mendorong pagar kantor Kementerian HAM yang telah dijaga oleh puluhan personel kepolisian. Seorang peserta aksi memanjat pagar untuk menenangkan situasi dan para polisi menahan dari dalam pagar.

Koordinator lapangan aksi, Oktowimelek Gobay, kemudian memegang kendali dan meminta peserta untuk mundur. Mereka sepakat akan menunggu jawaban dari Pigai hingga pukul 12.00 WIB dan kembali menari dengan diiringi musik.

Komnas HAM RI Perwakilan Papua mencatat pada awal 2026 terdapat empat peristiwa kekerasan di Papu yang menonjol dan mengakibatkan kurang lebih sebanyak 14 orang meninggal. "Kemudian 13 warga sipil disiksa dan puluhan masyarakat mengungsi meninggalkan kampung mereka," kata Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey dalam keterangannya di Jayapura, Rabu, 15 April 2026, dikutip dari Antara.

Menurut Ramandey, empat peristiwa tersebut antara lain pembunuhan dua pilot di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan pada Februari 2026, penyerangan Pos TNI di Kampung Sori Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Maret 2026.

Selanjutnya pembunuhan tenaga kesehatan di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw pada Maret 2026, dan penembakan warga di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada 31 Maret 2026.

Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam tulisan ini.