Mahasiswa Taiwan Retas Sistem Radio Kereta Cepat Gunakan Perangkat SDR

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Seorang mahasiswa berusia 23 tahun ditangkap otoritas Taiwan pada Kamis (7/5/2026) setelah diduga meretas sistem komunikasi radio Taiwan High Speed Rail (THSR). Aksi peretasan ini menyebabkan empat rangkaian kereta cepat berhenti darurat selama 48 menit di sepanjang Pantai Barat Taiwan.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, terduga pelaku bernama Lin menggunakan perangkat Software-Defined Radio (SDR) dan radio genggam untuk mengirimkan sinyal General Alarm berprioritas tinggi. Intervensi ilegal tersebut secara otomatis memicu prosedur pengereman darurat pada jaringan kereta yang memiliki kecepatan operasional hingga 300 KM/jam.

Sistem komunikasi yang disusupi merupakan jaringan TETRA yang telah beroperasi selama 19 tahun. Berdasarkan laporan BleepingComputer, Lin berhasil memprogram parameter sistem ke dalam radio genggam miliknya setelah melakukan pencegatan dan pendekodean parameter sinyal menggunakan peralatan yang dibeli secara daring.

Pihak berwenang mengungkapkan bahwa Lin dibantu oleh seorang rekan berusia 21 tahun dalam melewati tujuh lapisan verifikasi sistem. Investigasi internal menunjukkan bahwa parameter TETRA pada jaringan tersebut sudah lama tidak diperbarui, sehingga memungkinkan adanya replikasi sinyal oleh pihak luar.

Manajer fasilitas THSR awalnya melakukan audit inventaris mendesak untuk memastikan tidak ada peralatan komunikasi internal yang hilang atau disalahgunakan oleh pihak dalam. Setelah dipastikan seluruh perangkat resmi lengkap, operator menyimpulkan bahwa gangguan berasal dari sinyal buatan di luar jaringan perusahaan.

Tim penyidik melakukan pelacakan sinyal dan forensik digital sebelum akhirnya menggerebek tempat tinggal serta lokasi kerja Lin pada 28 April. Dalam penggeledahan tersebut, aparat menyita sejumlah perangkat elektronik yang digunakan untuk melancarkan aksi gangguan komunikasi radio tersebut.

Lin kini terancam hukuman penjara hingga 10 tahun sesuai dengan Undang-Undang Perkeretaapian Taiwan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Meski sempat ditahan, mahasiswa tersebut telah dibebaskan dengan jaminan sebesar NT$100.000 pada malam hari setelah menjalani proses interogasi oleh pihak kejaksaan.