Jakarta -
Sebagian besar orang Indonesia sangat suka makanan pedas. Ternyata ada alasan ilmiah di balik karakter rasa pedas yang bikin nagih.
Sensasi pedas sering kali membuat mulut terasa terbakar dan keringat bercucuran. Namun anehnya, banyak orang justru menikmati rasa tersebut dan terus mencarinya dalam berbagai hidangan sehari-hari.
Di balik kebiasaan itu, ternyata ada reaksi ilmiah dalam tubuh yang membuat makanan pedas terasa begitu memuaskan dan sulit ditolak. Dilansir dari Says (21/5/2026), sensasi "terbakar" yang muncul saat makan cabai rupanya berkaitan langsung dengan reaksi tubuh dan otak manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasa pedas sebenarnya bukan termasuk rasa dasar seperti manis, asin, atau asam. Sensasi pedas muncul karena senyawa capsaicin pada cabai merangsang reseptor rasa sakit dan panas di mulut yang disebut TRPV1.
Rasa pedas yang menyiksa tubuh ternyata juga bisa melepaskan hormon endorfin yang memberikan rasa bahagia. Foto: Getty Images/iStockphoto
Otak kemudian menerima sinyal seolah tubuh sedang mengalami luka bakar ringan. Jadi, efeknya membuat tubuh berkeringat, wajah memerah, mata berair, hingga hidung meler.
Tubuh secara otomatis bereaksi untuk "melawan" sensasi panas tersebut. Meski terdengar menyiksa, banyak orang justru menikmati pengalaman itu dan ingin mengulanginya lagi.
Fenomena ini terjadi karena otak memberikan "hadiah" setelah tubuh berhasil melewati rasa sakit akibat capsaicin. Saat makan pedas, tubuh akan melepaskan hormon endorfin dan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang, nyaman, dan bahagia.
Efeknya mirip seperti sensasi puas setelah berolahraga atau menaiki wahana ekstrem. Alasan serupa juga disampaikan oleh Astrid Enricka, selaku Praktisi Makanan Indonesia.
Ketika otak melawan rasa pedas yang membara, ada sensasi seperti melepas rasa bahagia yang bikin banyak orang ketagihan. Foto: dfic.cn
Ia menyebut cabai diterima tubuh sebagai rasa sakit. Namun di saat bersamaan, otak merespons dengan melepaskan hormon dopamin dan endorfin yang memicu rasa bahagia.
Alasan tersebut yang kerap membuat banyak orang mencari makanan pedas ketika suasana hatinya tidak dalam kondisi baik. Sensasi bahagia tersebut lama-kelamaan membentuk pola ketagihan secara psikologis.
Otak mengingat pengalaman menyenangkan setelah makan pedas sehingga tubuh terdorong untuk mencarinya lagi. Reaksi tersebut yang membuat banyak pencinta pedas merasa ada yang kurang jika makan tanpa sambal atau cabai.
Selain itu, tubuh manusia juga dapat beradaptasi terhadap capsaicin. Akibatnya, level pedas yang dulu terasa ekstrem perlahan menjadi biasa saja dan terus meningkat untuk mendapatkan sensasi ketagihan yang lebih besar.
(dfl/adr)
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·