Makna Ibadah Haji dan Kriteria Memperoleh Gelar Mabrur

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ibadah haji merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan transformasi diri dan meningkatkan kualitas spiritualitas. Dilansir dari Cahaya, esensi haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan proses memperbaiki diri secara mendalam.

Dalam sebuah khutbah ditekankan bahwa ketakwaan kepada Allah SWT harus ditingkatkan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan. Ketakwaan ini menjadi faktor utama yang mengangkat derajat manusia di sisi Sang Pencipta guna meraih keselamatan dunia maupun akhirat.

Kualitas keimanan seorang mukmin sering kali ditandai dengan getaran hati saat mengingat Allah SWT. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Quran:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: "Saktemene wong mukmin iku wong kang nalikane iling marang Gusti Allah, mongko atine gemeter, lan nalikane ayat Al-Quran diwaosake, mongko soyo mundak imane, lan mundak tawakkal marang Gusti Allah" (Al-Anfal: 2).

Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa mukmin sejati memiliki hati yang dipenuhi rasa takut dan ketaatan. Semangat beribadah mereka akan meningkat secara signifikan setiap kali mendengar lantunan ayat suci Al-Quran atau menyebut nama Allah.

Bagi jamaah yang telah kembali dari Tanah Suci, harapan utama mereka adalah mendapatkan predikat haji mabrur. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan haji mabrur sebagai salah satu amalan paling utama setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya.

"أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ إِيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ قِيلَ لهُ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ ثُمَّ حَجٌّ مَبْرُورٌ"

Artinya: "Pundi amalan paling utomo? Kanjeng Nabi Muhammad jawab: Iman marang Gusti Allah dan rasul. Lajeng nopo?, tanglet setunggale Sohabat. Jihad ing dalane Gusti Allah, jawab Rasulullah. Lajeng nopo maleh?, tanglet sohabat. Haji mabrur, jawab Rasulullah" (HR Bukhari dan Muslim).

Ganjaran bagi mereka yang meraih kemabruran adalah surga. Sesuai dengan hadis riwayat Bukhari yang menyatakan bahwa tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur kecuali surga Allah SWT.

"الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ"

Artinya: "Haji Mabrur iku ora ono piwalese kang pantes kejobo suwargo" (HR Bukhari).

Kriteria seseorang mendapatkan gelar mabrur dapat dilihat dari perubahan perilakunya setelah pulang. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa tanda kemabruran meliputi kegemaran dalam berbagi makanan serta menjaga tutur kata yang baik.

"الحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ قيلَ وما بِرُّهُ؟ قالَ إطعامُ الطَّعامِ وطيبُ الكلامِ"

Artinya: "Haji mabrur iku ora ono piwalese kejobo mlebu suwargo. Dipun tangletake, punopo tondo kemabrurane? Kanjeng Nabi jawab: aweh mangan lan baguse ucapan" (Tuhfatul Ahwadzi).

Realitanya, masih ditemukan jamaah yang lupa bahwa haji seharusnya menjadi pengingat untuk semakin tekun beribadah dan bersedekah. Kemabruran haji sangat bertolak belakang dengan sifat kikir, pamer, maupun penggunaan kata-kata kotor dalam keseharian.

"مَن حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، ولَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَومِ ولَدَتْهُ أُمُّهُ"

Artinya: "Sopo wonge haji krono Allah, ora ngucap kotor, ora fasiq, mongko de’e balik saking haji koyok dene bayi ingkang dilahirake ibune" (HR. Bukhari).

Tanda-tanda tersebut menjadi peringatan bagi siapa saja, baik yang sudah berhaji maupun yang belum, untuk selalu menjaga lisan dan tingkah laku. Ketaatan yang konsisten diharapkan mampu mencatatkan setiap Muslim sebagai golongan orang-orang yang benar-benar beriman.