Kuala Lumpur (ANTARA) - Malaysia dan Jepang menyatakan keprihatinan yang mendalam atas program nuklir dan rudal Korea Utara (Korut) serta menyerukan denuklirisasi penuh Semenanjung Korea secara damai.
Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan bilateral Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim dan PM Jepang Sanae Takaichi di Tokyo, Rabu.
"Kedua pemimpin menyampaikan keprihatinan mendalam atas program nuklir dan rudal serta aktivitas siber berbahaya yang dilakukan oleh Korea Utara," demikian pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri Malaysia di Kuala Lumpur, Rabu (10/6).
Kedua negara menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi penuh Semenanjung Korea secara damai, termasuk melalui implementasi penuh seluruh resolusi yang relevan dari Dewan Keamanan PBB.
Malaysia dan Jepang juga menegaskan kembali pentingnya penyelesaian segera isu penculikan warga negara di Korut.
Pada bagian lain, kedua pemimpin menegaskan kembali perlunya reformasi PBB, termasuk Dewan Keamanan, agar mencerminkan kondisi masyarakat internasional saat ini.
Secara khusus, Malaysia dan Jepang menekankan pentingnya memperkuat representasi, efektivitas, transparansi, dan inklusivitas Dewan Keamanan PBB, termasuk melalui perluasan keanggotaan tetap maupun tidak tetap.
PM Takaichi menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan Malaysia terhadap pencalonan Jepang sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Kedua negara juga menyatakan dukungan timbal balik terhadap pencalonan Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk masa jabatan 2036-2037 dan Jepang untuk masa jabatan 2033-2034.
Baca juga: PM Anwar: Malaysia, Jepang dorong perdamaian dunia
Baca juga: Jepang sebut penumpukan senjata Korut jadi ancaman mendesak
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·