Perdebatan media sosial kini bergeser dari durasi menatap layar ke desian platform. Seorang wanita muda memenangkan gugatan melawan Meta dan YouTube di Pengadilan Los Angeles atas kecanduan yang ia alami sejak kecil.
Juri memutuskan Meta– pemilik Instagram, Facebook, dan WhatsApp–serta Google sebagai pemilik YouTube sengaja membangun platform adiktif yang merusak kesehatan mental perempuan berusia 0 tahun itu. Penggugat, yang dikenal sebagai Kaley, mendapat ganti rugi sebesar $6 juta. Putusan ini diprediksi mempengaruhi ratusan kasus serupa di Amerika Serikat.
Namun Meta dan Google menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding. Menurut Meta, kesehatan mental remaja bersifat kompleks dan tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.
"Kami akan terus membela diri dengan gigih karena setiap kasus berbeda, dan kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara daring," kata pihak Meta.
Kasus ini mengungkap kerentanan anak terhadap desain media sosial. Meski istilah "kecanduan media sosial" masih diperdebatkan secara medis, peneliti menggunakan istilah problematic social media use untuk menggambarkan perilaku penggunaan berlebihan yang merusak kehidupan sehari-hari.
Gejalanya mirip dengan kecanduan lain, yakni adanya dorongan terus-menerus membuka aplikasi, perubahan suasana hati, hingga gangguan tidur. Gugatan menyoroti fitur-fitur yang diduga dirancang untuk memicu ketergantungan:
- Infinite scroll: Konten tanpa akhir.
- Autoplay: Pemutaran video otomatis.
- Fungsi Afirmasi: Fitur pemberi umpan balik positif seperti like, komentar, dan jumlah pengikut untuk dorongan psikologis instan.
- Pemberitahuan dan notifikasi push: Pesan penarik perhatian agar pengguna kembali ke aplikasi.
Fitur-fitur ini dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Dalam konteks anak-anak, sistem ini bekerja seperti “jebakan halus” yang sulit disadari. Penelitian bahkan menyebut adanya kemiripan dengan mekanisme perjudian, kombinasi antara ketidakpastian, hadiah, dan umpan balik yang membuat pengguna terus kembali.
Dalam kasus di AS, Kaley mulai menggunakan platform sejak usia enam tahun hingga berkembang menjadi penggunaan kompulsif yang memicu depresi.
Anak-anak lebih rentan karena kontrol impuls dan kemampuan membatasi diri pada otak mereka belum matang. Kondisi ini mendorong berbagai negara mempertimbangkan regulasi ketat, mulai dari pembatasan usia hingga larangan fitur adiktif tertentu.
Ada Apa Pekan Ini?
Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial neniliki beragam isu, mulai dari isu internasional, politik,hukum, hingga kesehatan. Buka tautannya ke kanal Cek Fakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:
- Fakta-fakta Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz
- Benarkah Brunei Darussalam Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Israel?
- Benarkah Utang Kereta Cepat Whoosh Lunas dalam Dua Bulan?
- Benarkah Indonesia Peringkat 5 Populasi LGBT di Dunia Menurut Data CIA?
Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi Tipline kami.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·