Melihat Taksi Terbang Nirawak EHang di Guangzhou yang Diekspor ke RI-Brasil

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Penampakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau taksi terbang nirawak EH216-S di Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, di Guangzhou, China, Minggu (26/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Solusi transportasi yang ramah lingkungan dan anti macet disuguhkan China melalui inovasi taksi terbang nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Perusahaan yang menjadi pelopor teknologi tersebut adalah EHang.

kumparan berkesempatan mengunjungi Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, di Guangzhou, China, Minggu (26/4), untuk melihat dari dekat uji terbang (test drive) salah satu UAV milik EHang, yakni EH216-S.

Vice President of EHang, He Tian Xing, mengatakan bahwa perusahaan didirikan pada tahun 2016 dan meluncurkan UAV pertama di Amerika Serikat (AS).

Perusahaan membangun UAV dengan dua tempat duduk dan melakukan penerbangan perdana ke luar negeri pada tahun 2019.

"Pada tahun 2020 kami mengajukan persetujuan kelayakan terbang dari otoritas penerbangan kami. Dan sebelum itu, UAV kami telah melakukan uji terbang di banyak negara," katanya kepada awak media usai uji terbang EH216-S di Guangzhou, dikutip Sabtu (2/5).

EH216-S adalah pesawat electric vertical takeoff and landing (eVTOL) tanpa pilot yang mampu membawa manusia dan lepas landas vertikal yang dikembangkan oleh EHang.

Taksi terbang ini telah memperoleh sertifikat tipe (TC), sertifikat produksi (PC), dan sertifikat kelaikan udara standar (AC). Hal ini menjadikannya sebagai pesawat eVTOL pengangkut manusia tanpa awak pertama di dunia yang dikeluarkan oleh Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC).

"Pada Maret 2023, kami mendapatkan sertifikat pertama untuk operasi komersial, dan kami telah melakukan uji coba operasi komersial selama satu tahun di Guangzhou dan Hefei sebelumnya. Tahun lalu, kami memulai uji coba komersialisasi global kami di Bangkok dan kota-kota lain di Thailand," ungkap He.

Vice President of EHang, He Tian Xing, di Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, di Guangzhou, China, Minggu (26/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pada tahun ini, perusahaan yang telah melantai di Nasdaq ini membidik berbagai terobosan baru dan ekspansi bisnis ke wilayah Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia. Kendati untuk ekspor produk UAV sendiri, EHang telah mendapatkan basis pelanggan di berbagai negara.

Dia mencatat sudah lebih dari 21 negara telah menggunakan pesawat nirawak produksi perusahaan untuk keperluan transportasi jarak pendek, jelajah udara, pariwisata, termasuk penyelamatan medis darurat. Perusahaan juga sudah mengantongi sertifikasi pilot komersial pertama di dunia telah menyelesaikan sejumlah besar uji keamanan.

"Dalam kondisi panas, dingin, ketinggian tinggi, suhu tinggi, hujan, badai, dan sebagainya, banyak pilot telah melakukan banyak pengujian. Dapat dikatakan bahwa pesawat ini sangat aman dan kami menggunakan konsep desain yang didukung penuh, termasuk desain daya independen," ungkap He.

Pesawat EH216-S memiliki total 8 poros dan 16 baling-baling, dan menggunakan baterai dan beberapa sistem kontrol penerbangan. Jika terdapat kerusakan pada satu atau dua baling-baling, He memastikan hal tersebut tidak akan memengaruhi keselamatan penerbangan.

"Kami telah melakukan 8.500 penerbangan internasional di lebih dari 21 negara dan nol kecelakaan. Selama empat tahun terakhir, kami menjadi yang pertama mendapatkan sertifikasi dari Administrasi Penerbangan Nasional," tegasnya.

Ekspor ke 21 Negara

Penampakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau taksi terbang nirawak EH216-S di Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, di Guangzhou, China, Minggu (26/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Sejauh ini, He mengungkapkan produk taksi terbangnya sudah diekspor ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea, Arab Saudi, Spanyol, Meksiko, dan Brasil. Khusus di Indonesia, perusahaan telah melakukan uji terbang di Jakarta dan Bali.

Berdasarkan catatan, penerbangan demonstrasi UAV EHang 216 dilaksanakan pada 26 November 2021 lalu di Bali. Produk asal China itu diboyong oleh Prestige Image Motorcars. Kemudian, uji terbang EH216-S juga dilakukan di PIK 2 Jakarta pada Juni 2025 lalu bersama Raffi Ahmad dan Rudy Salim.

Dia menuturkan, ekspor tersebut melalui beberapa tahap. Pertama, uji penerbangan dengan pilot untuk menguji keamanan dan keselamatan UAV. Tahapan selanjutnya mengekspor untuk mempromosikan penyusunan standar dengan pihak terkait, lalu mengidentifikasi skenario atau tujuan penerbangan UAV.

"Misalnya di Indonesia, kami bekerja sama dengan negara lain untuk menetapkan beberapa standar di masa depan lalu lintas udara canggih, standar manajemen, dan standar penerbangan," kata He.

Adapun armada tersebut dibanderol di kisaran USD 410.000 per unit atau setara Rp 7,1 miliar (kurs Rp 17.334 per dolar AS). He mencatat keuntungan atau margin kotor sekitar 60 persen.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa keuntungan bagi perusahaan tidak terbatas pada margin penjualan, namun juga dari layanan perjalanan dan pariwisata udara, dengan biaya operasional yang lebih kecil dari helikopter biasa.

"Setelah sepenuhnya dikomersialkan, jika kita membandingkan UAV dengan helikopter, biayanya akan kurang dari sepertiga helikopter, tetapi keuntungannya akan jauh lebih baik," ungkap He.

Sejauh ini, EHang telah menerima pesanan UAV sebanyak 1.500 unit, namun perusahaan baru memenuhi pengiriman sebanyak 600 unit ke beberapa negara. Pada tahun ini, perusahaan akan memasok sekitar 100 unit untuk Thailand.

"Saya pikir penjualan kami akan meningkat tahun ini dibandingkan tahun lalu. Dan sekarang, pelanggan utama kami adalah pemerintah dan pegawai negeri sipil China," jelasnya.

Sementara untuk pasar komersial, lanjut dia, perusahaan masih membidik beberapa basis pasar yang paling penting seperti Vietnam, Indonesia, dan Malaysia, serta pasar-pasar baru di Amerika Selatan, seperti Brasil, Dominika, dan Meksiko.

"Baru-baru ini, banyak negara Afrika datang ke perusahaan kami untuk melakukan riset. Kami juga sangat optimis bahwa Afrika akan mencapai lalu lintas udara cepat jangka pendek seperti ini," imbuh He.

Penampakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau taksi terbang nirawak EH216-S di Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, di Guangzhou, China, Minggu (26/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Secara spesifikasi, UAV EH216-S memiliki kecepatan terbang maksimum 130 km/jam, dengan jangkauan terbang maksimum 30 km dan daya tahan maksimum 25 menit. Dapat mengangkut 2 penumpang, pesawat ini memiliki ketinggian terbang maksimum 120 m di atas permukaan tanah dan 1000 m di atas permukaan laut. Kecepatan jelajah maksimum 90 km/jam.

Sistem kendali penerbangan EH216S dilengkapi dengan sistem pengaman bawaan, yang dapat menilai status kesehatan kendaraan udara secara otomatis dan real-time. Jika terjadi keadaan darurat, sistem pengaman akan menentukan apakah akan melanjutkan penerbangan atau mengambil tindakan darurat dan mendarat di verti-port terdekat.

Jika terjadi keadaan darurat, pusat komando dan kendali akan turun tangan dan mengambil tindakan yang sesuai dengan keadaan spesifik, untuk memastikan keselamatan penumpang dan kendaraan udara.

instagram embed