Memahami batas "new media"

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Istilah homeless media, atau yang kini juga dikenal sebagai new media, merujuk pada entitas produksi konten yang tidak memiliki infrastruktur redaksi konvensional

Jakarta (ANTARA) - Seseorang bisa tahu dalam hitungan menit bahwa sebuah gedung runtuh di pusat kota hanya dari sebuah unggahan di Instagram; foto atau video dramatis, caption satu kalimat, dan sesak dengan ribuan komentar.

Tapi di antara ribuan orang yang menyebarkan ulang unggahan itu, hampir tidak ada yang tahu siapa orang yang mengambil foto tersebut, apakah informasinya sudah terkonfirmasi? Atau apakah ada korban yang masih terjebak di dalamnya?

Bukan salah mereka. Memang bukan itu yang ditawarkan platform media sosial.

Tapi, apabila media sosial mulai diperlakukan seolah-olah bisa menggantikan media massa arus utama; di sinilah pembahasan dimulai.

Istilah homeless media, atau yang kini juga dikenal sebagai new media, merujuk pada entitas produksi konten yang tidak memiliki infrastruktur redaksi konvensional. Tidak ada ruang redaksi, tidak ada hierarki editor yang mengawal setiap kata sebelum dipublikasikan. Mereka beroperasi sepenuhnya di platform milik pihak ketiga seperti Instagram, TikTok, YouTube, yang menjadi alat mereka menjangkau jutaan orang setiap harinya di jagat maya.

Di Indonesia, model serupa mulai bermunculan dan makin banyak. Akun-akun seperti Folkative, Indozone, USS Feeds, dan banyak macam lainnya, telah membuktikan bahwa jutaan pengikut bisa diraih tanpa satu pun kaidah jurnalistik klasik dipenuhi.

Tidak ada 5W+1H yang menjadi pakem jurnalistik, tidak ada konfirmasi narasumber, tidak ada proses redaksi yang berlapis. Yang ada adalah kecepatan, estetika visual yang konsisten, dan gaya bahasa yang berbicara langsung ke audiens muda yang menghadirkan penerimaan.

Mereka membangun kepercayaan lewat konsistensi dan kedekatan berdasarkan niche atau tema khusus yang dipilih secara sadar untuk memikat segmentasi audiens yang disasar. Netizen mempercayai akun-akun ini karena penyampaian dan kontennya yang terasa relevan, tidak menggurui, dan sesuai dengan yang dibutuhkan audiensnya.

Ini adalah bentuk kepercayaan yang sah dalam ekosistemnya sendiri. Tapi ekosistem itu adalah hiburan dan informasi permukaan, bukan jurnalisme.


DNA yang berbeda

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.