Membangun Relasi yang Sehat antara Orang Tua dan Sekolah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi anak dan orang tua. Foto: Thinkstock

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah merupakan elemen krusial dalam mendidik anak. Sayangnya, sering kali batasan menjadi kabur antara partisipasi yang mendukung dan intervensi yang justru merusak profesionalisme sekolah.

Dalam banyak kasus, ada kecenderungan partisipasi orang tua menjadi berlebihan, mulai dari mendikte tugas sekolah hingga mengintervensi urusan yang seharusnya merupakan tugas otonom seorang guru.

Untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang optimal, perlu pemahaman mendalam mengenai koridor keterlibatan yang sehat, yang didasarkan pada prinsip kemitraan, penghormatan terhadap profesionalisme guru, dan pembagian peran yang jelas antara orang tua dan guru atau sekolah.

Keterlibatan orang tua yang sehat harus didasarkan pada prinsip relasi yang setara dan saling menghargai antara pihak sekolah dan orang tua. Hubungan ini tidak boleh bersifat transaksional atau didasari oleh relasi kuasa, di mana orang tua merasa berhak mendikte sekolah hanya karena merasa memiliki status sosial atau ekonomi yang lebih tinggi.

Ilustrasi anak-anak mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, orang tua dan sekolah harus berada dalam satu bingkai konvensi bersama untuk mencapai tujuan besar pendidikan, yaitu menuntun anak menjadi pribadi dewasa yang merdeka, otonom, dan mampu membuat keputusan moral secara mandiri.

Secara ideal, koridor keterlibatan orang tua diarahkan pada aspek manajemen dan tata kelola sekolah, bukan pada wilayah teknis pedagogis yang merupakan ranah profesional guru—orang tua, melalui wadah seperti komite sekolah.

Dalam forum komite sekolah, khususnya sekolah negeri, seharusnya orang tua dapat berperan aktif dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja sekolah, memantau akuntabilitas pengelolaan dana demi kepentingan pendidikan, ataupun menyusun garis besar program sekolah pada tahun ajaran.

Ini pun harus dilakukan secara sehat karena kenyataannya sering terjadi distorsi di mana komite sekolah justru hanya dijadikan alat legitimasi bagi pungutan sekolah, atau sebaliknya, menjadi celah bagi individu untuk melakukan penetrasi yang merusak manajemen internal sekolah.

Ilustrasi pungutan. Foto: Shutterstock

Tentu saja keterlibatan orang tua murid tidak hanya terbatas dalam forum sekolah. Akan lebih baik lagi apabila interaksi orang tua murid dan guru diwadahi dalam forum bersama antara guru dan orang tua murid di tiap kelas. Forum yang lebih kecil akan membantu kedekatan dalam interaksi, sehingga menjadi lebih bermakna dalam mendialogkan persoalan-persoalan yang terjadi di sekolah.

Menghormati otonomi profesional guru adalah pilar lain dari keterlibatan yang sehat. Guru harus dipandang sebagai tenaga profesional yang memiliki ruang diskresi dalam memutuskan tujuan, konten, maupun metode dalam mengajar, serupa dengan otoritas otonom dokter di ruang praktik.

Intervensi yang terlalu detail dari orang tua—seperti yang terjadi pada fenomena "monster parents" di banyak sekolah elite di negara maju—dapat menyebabkan tekanan luar biasa bagi para guru, yang pada gilirannya akan menghilangkan kepercayaan pada guru dan sekolah. Bila ini terjadi, akibat lebih jauhnya adalah menurunnya mutu pendidikan karena sekolah dipaksa berkompromi pada kepentingan dan selera sesaat orang tua yang berpengaruh.

Meski orang tua diperbolehkan memberikan masukan jika melihat tindakan atau praktik yang mencederai anak, komunikasi tersebut harus dilakukan secara santun dan melalui jalur yang tepat tanpa mempermalukan guru ataupun administrator sekolah.

Ilustrasi sekolah. Foto: Shutterstock

Relasi yang sehat juga melibatkan peran aktif sekolah dalam menjalankan fungsi parenting bagi orang tua murid. Sebagaimana konsep Trisentra Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, institusi pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari tiga pusat, yaitu orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menularkan pengetahuan pedagogis kepada orang tua agar mereka memahami cara mendidik anak dengan benar. Sering kali, tekanan dari orang tua yang kurang teredukasi justru memaksa sekolah mengambil kebijakan yang salah, seperti memaksakan sistem peringkat, hafalan, atau pun pencapaian tertentu.

Misalnya, tekanan dari orang tua agar anak bisa membaca dan menulis di tingkat PAUD, padahal pada tahap ini pendidikan seharusnya lebih mengedepankan aspek gerak dan bermain, bukan motorik halus. Tentu saja ini mensyaratkan guru-guru menguasai ilmu pendidikan dan praktik-praktik mendidik anak yang meluas dan mendalam.

Keterlibatan orang tua yang sehat di sekolah seharusnya merupakan keterlibatan yang memberdayakan, bukan mendominasi. Batasannya terletak pada dukungan, masukan, dan kritik sembari memberikan kepercayaan penuh kepada guru untuk menjalankan fungsi pedagogisnya. Dengan menjaga komunikasi personal yang sehat maupun komunikasi melalui komite sekolah, kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat untuk anak bertumbuh dan berkembang.