Kabar duka datang dari dunia kuliner Tanah Air. Sosok di balik lahirnya nasi jinggo khas Bali, Ni Ketut Ngasti atau yang karib disapa Men Djenggo, meninggal dunia.
Kabar tersebut dibagikan oleh sang putra, chef Henry Alexie Bloem, melalui unggahan di media sosial. Dalam unggahan itu, pria yang pernah menjabat sebagai President Indonesia Chef Association (ICA) tersebut juga membagikan foto bersama sang ibunda sekaligus pesan perpisahan yang menyentuh.
“Selamat jalan Meme, berbahagialah di sana. Karyamu akan selalu dicari dan dikenang, Men Djenggo, pencipta nasi djenggo,” tulis Chef Henry.
Tak hanya itu, Chef Henry juga mengungkap kisah menarik di balik nama nasi jinggo yang kini begitu populer. Ternyata, nama nasi jinggo berasal dari panggilan kecil dirinya sendiri, yakni Jenggo.
“Nama nasi jenggo sendiri memiliki kisah unik. Terinspirasi dari panggilan sang anak yang akrab disebut ‘jenggo’. Nama yang mulai dikenal pada masa film-film laga populer pada zamannya,” tulis keterangan tersebut.
Sebelum prosesi ngaben dilaksanakan pada Selasa (12/5), keluarga lebih dulu menggelar upacara Otonan terakhir untuk mendiang pada Minggu (11/5). Dalam tradisi Hindu Bali, Otonan merupakan upacara peringatan hari kelahiran yang dilakukan setiap 210 hari berdasarkan kalender Bali atau wuku.
Upacara ini menjadi bagian dari Manusa Yadnya yang bertujuan untuk penyucian diri, memohon keselamatan, sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Nama nasi jinggo sendiri memang sudah begitu melekat sebagai salah satu kuliner khas Bali yang mudah ditemui. Sekilas, tampilannya memang mirip nasi kucing khas Yogyakarta karena dibungkus dalam ukuran kecil menggunakan daun pisang.
Meski porsinya mungil, isi nasi jinggo terbilang cukup lengkap. Dalam satu bungkus biasanya terdapat nasi putih seukuran kepalan tangan yang disajikan bersama ayam suwir, sambal goreng tempe, serundeng, dan sambal pedas khas Bali. Beberapa penjual juga mengganti nasi putih dengan nasi kuning agar rasanya lebih gurih.
Harganya yang terjangkau membuat makanan ini jadi pilihan favorit banyak orang untuk mengganjal perut di malam hari. Dikutip dari Antara, nama jinggo awalnya diambil dari kata jinggo yang berarti 1.500 (dalam istilah Tiongkok) atau disesuaikan dengan harga jualnya. Di Bali, Nasi jinggo bisa dibeli pada malam hari hingga larut malam di sekitar jalan Kuta, Ubud, atau Denpasar.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·