Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengaku pernah berencana merobohkan pagar pembatas antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta agar kedua rumah ibadah tersebut menyatu dalam satu halaman.
Hal tersebut diungkapkan oleh Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan dalam acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebinekaan Lintas Agama untuk memperingati HUT ke-219 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu (9/5).
Nasaruddin juga mengenang masa-masa sebelum dirinya menjabat sebagai menteri. Saat itu ia sangat ingin menghilangkan sekat fisik antara Istiqlal dan Katedral.
"Saya bilang seandainya saya punya kewenangan, saya akan mohon izin supaya pagar-pagar yang ada di antara Istiqlal dan Katedral ini kita rubuhkan biar ini menjadi satu halaman bersama antara Istiqlal. Eh ujung-ujungnya jadi Menteri Agama," kata Nasaruddin.
Usai acara selesai, Nasaruddin menjelaskan bahwa niat tersebut tidak terlaksana. Rencana itu tidak mendapat izin dari otoritas terkait karena terbentur aturan tata ruang dan fungsi jalan protokol.
"Oh, itu pengandaian kami dulu waktu itu. Saya membayangkan seandainya di sini tidak ada pagar, tapi kita sudah pernah coba. Apa namanya, Dinas Pertamanan DKI Jakarta tidak mengizinkan, karena ini kan jalan protokol ya kan," jelas Nasaruddin ketika ditanya wartawan.
Nasaruddin juga memberikan gambaran mengenai dampak tata kota jika pagar tersebut benar-benar dirobohkan.
"Coba bayangkan kalau ini tidak ada pagar, tidak ada jalanan. Itu kan space-nya ini kan, ini taman bunga ke mana?" tambahnya.
Lantaran rencana merobohkan pagar di atas tanah tidak memungkinkan, ide menyatukan kedua rumah ibadah itu akhirnya bertransformasi menjadi proyek pembangunan di bawah tanah.
"Maka ingin ke depan ini, ya, kita enggak bisa membuat merombak pagar, yang kita lakukan adalah membangun tunnel. Iya kan enak kan itu ya. Jadi di dalam itu juga nanti ada lukisan-lukisan yang sangat indah," tutupnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·