Mendukbangga: Program MBG bagian upaya cegah Keluarga risiko stunting

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ini (MBG) bukan program biasa. Kita bicara soal ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sehingga salah sasaran sedikit saja maka dampaknya besar

Pemalang (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bagian dari upaya untuk mengantisipasi keluarga berisiko stunting.

"Ini (MBG) bukan program biasa. Kita bicara soal ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sehingga salah sasaran sedikit saja maka dampaknya besar," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji di Pemalang, Jawa Tengah, Kamis.

Ia mengatakan datang untuk memastikan Program MBG berjalan sesuai sasaran, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (Kelompok 3B).

"Oleh karena itu saya cek langsung (ke Pemalang). Instruksi dari pusat sudah jelas bahwa kualitas (MBG) kini menjadi prioritas utama sehingga kritik dari masyarakat diminta terus disampaikan dan tidak boleh diabaikan," kata Mendukbangga Wihaji.

Menurut dia, saat ini ada sekitar 8,6 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) sehingga salah satu upaya untuk mengatasi masalah itu melalui Program MBG.

Baca juga: BGN: Tujuan utama MBG untuk beri asupan gizi ibu hamil hingga balita

Kriteria KRS, lanjut dia, antara lain memiliki balita dengan potensi kekurangan gizi akibat faktor lingkungan, seperti akses air bersih, kondisi rumah tidak layak huni, hingga pola makan yang buruk.

Namun untuk di Kabupaten Pemalang, ia menemukan langsung kondisi rumah warga yang memiliki jarak sangat dekat antara WC dengan dapur dan tidak memenuhi standar kelayakan.

Untuk penangananya, kata dia, dilakukan kerja sama dengan lembaga seperti Baznas dan rumah zakat, untuk memperbaiki rumah dan fasilitas sanitasi, sekaligus memastikan asupan gizi terpenuhi melalui Program MBG.

Pada kunjungan kegiatan di Kabupaten Pemalang, Mendukbangga Wihaji mengatakan pihaknya menargetkan pada tahun ini angka stunting turun menjadi 18,8 persen dari sebelumnya 19,8 persen, dan dalam jangka panjang angka stunting ditargetkan dapat ditekan hingga menjadi 14 persen pada 2029.

Baca juga: Mendukbangga: 6,2 juta MBG untuk sasaran 3B telah didistribusikan

Wihaji menilai angka saat ini masih mengkhawatirkan dengan prevalensi hampir 20 persen, artinya dari setiap 10 balita sekitar dua balita mengalami stunting.

"Ini tidak bisa dibiarkan karena hal ini menyangkut kualitas generasi ke depan," katanya.

Ia mengatakan penanganan stunting dan distribusi MBG tidak bisa dibebankan pada satu kementerian saja, berbagai sektor harus bergerak bersama.

"Skema yang digunakan adalah pendekatan Pentahelix yaitu melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan peran media. Yang paling tahu kondisi daerah itu kepala daerah sehingga semua harus terlibat, tidak bisa jalan sendiri," kata Mendukbangga Wihaji.

Baca juga: Mengoptimalkan MBG untuk ibu hamil dan anak usia dini

Pewarta: Kutnadi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.