Menganyam kopiah resam khas Bangka

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Tumbuhan resam banyak ditemui di hutan dan semak-semak di sekitar desa dan perkampungan di Bangka

Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Kopiah resam merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Kopiah resam termasuk salah satu dari 386 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) kategori pengetahuan tradisional di Kabupaten Bangka Barat.

Kategori OPK pengetahuan tradisional, meliputi busana, kerajinan, metode penyehatan, jamu, makanan dan minuman lokal, serta pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memasukkan kopiah resam sebagai salah satu OPK pengetahuan tradisional sebagai upaya melestarikan, melindungi dan mengembangkan kerajinan tradisional itu.

Keberadaan kopiah resam di Desa Kacung dan Dendang sudah ada sejak 1800an. Fakta tersebut dikuatkan dengan adanya koleksi KITLV dalam bentuk foto dengan objek kopiah resam dari Bangka pada keterangannya tertera sekitar tahun 1880.

Kopiah resam ini kemungkinan merupakan salah satu peninggalan masa penyebaran Islam di Pulau Bangka oleh Tuan Guru Syaikh Abdurrahman Siddik pada masa itu.

"Menurut perkiraan kami Tuan Guru dipanggil untuk pulang ke Indragiri pada 1920 dan pada saat itu sudah menurunkan keterampilan menganyam resam untuk dijadikan kopiah sebagai penutup kepala saat shalat," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan.

Syaikh Abdurrahman Siddik merupakan ulama besar asal Banjar yang berperan penting menyebarkan Agama Islam ke Pulau Bangka pada rentang 1898-1909. Dia juga dikenal dengan sebutan Tuan Guru Syaikh Abdurrahman Siddik.

Terbuat dari serat resam

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.