Mengenal Fail-Safe dan Pemicunya di Mobil Listrik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

TEKNOLOGI mobil listrik dilengkapi sistem pengamanan otomatis untuk mengatasi masalah kegagalan suatu komponen yang disebut fail-safe. Menurut staf pengajar di Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Sriyono, produsen kendaraan listrik biasanya sudah merancang sistem keamanan dengan berbagai konsiderasi. “Sehingga sistem tidak langsung mematikan kendaraan hanya karena satu anomali kecil,” ujarnya, Kamis, 30 April 2026. 

Umumnya sistem mobil listrik akan melakukan beberapa tahap respons, mulai dari memberi peringatan, membatasi daya, masuk limp atau safe mode, lalu baru melakukan penghentian total jika gangguan dianggap berisiko tinggi terhadap keselamatan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pada kendaraan listrik, komponen seperti unit kontrol elektronik (ECU),  pengendali arus listrik atau PCU, sistem manajemen baterai alias BMS, inverter, sensor, dan sistem komunikasi, saling memantau kondisi kendaraan. “Jika terdeteksi nilai yang tidak wajar, sistem akan menilai apakah gangguan tersebut ringan, sedang, atau kritis,” kata Sriyono.

Seperti pada kendaraan berbahan bakar fosil, jika terjadi mogok biasanya karena ada gangguan pada komponen utama mesin dan sistemnya. Pada kendaraan listrik, mode aman biasanya aktif karena baterai hampir habis atau tegangan baterai terlalu rendah. Bisa juga karena baterai terlalu panas atau terlalu dingin. Faktor lain seperti motor listrik, inverter, atau controller mengalami panas berlebih (overheat). “Arus listrik terlalu besar saat akselerasi, menanjak, atau membawa beban berat,” ujarnya. 

Kemungkinan lain karena sistem manejemen baterai (BMS) mendeteksi gangguan pada sel baterai. Atau juga terjadi kesalahan pada sensor misalnya yang terkait dengan pedal gas, suhu, arus listrik, atau tegangan setrum Selain itu akibat gangguan komunikasi antar modul elektronik, atau masalah pada kabel, konektor, relay, fuse, atau contactor tegangan tinggi. 

Selain itu ada faktor eksternal semisal genangan air atau banjir yang bisa menyebabkan gangguan pada area konektor, soket, sensor, kabel tegangan tinggi, baterai, motor listrik, atau controller. Dampak benturan menurut Sriyono, juga dapat berpengaruh pada komponen penting seperti baterai, kabel tegangan tinggi, controller, inverter, dan motor listrik.

Kemungkinan lain akibat penggunaan pengisi daya (charger) yang tidak sesuai spesifikasi sehingga menyebabkan tegangan atau arusnya tidak sesuai dengan standar keamanan, serta modifikasi sistem kelistrikan yang tidak mengikuti spesifikasi pabrikan atau standar teknis.

Berbagai faktor tersebut, menurut Sriyono, dapat membuat sistem pada kendaraan listrik mendeteksi kondisi tidak aman, lalu membatasi daya atau mematikan kendaraan untuk melindungi komponen dan pengguna. “Jadi banyak kasus kendaraan listrik berhenti beroperasi sebenarnya merupakan bentuk perlindungan otomatis agar komponen utama tidak rusak dan pengguna tetap aman,” ujarnya.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Abdul Hapid mengatakan mobil listrik modern dilengkapi dengan berbagai sensor dan sistem diagnostik yang terus memantau kondisi kendaraan secara real-time. Jika terdeteksi anomali, seperti kegagalan komunikasi antarmodul, kesalahan sensor, atau gangguan isolasi listrik, sistem akan mengambil tindakan dengan membatasi performa atau bahkan menghentikan kendaraan sepenuhnya.

“Pendekatan ini dikenal sebagai fail-safe, di mana kendaraan lebih memilih berhenti daripada beroperasi dalam kondisi yang berpotensi berbahaya,” katanya, Kamis 30 April 2026.

Menurutnya, mogok pada kendaraan listrik umumnya bukan disebabkan oleh kegagalan mendadak tanpa peringatan, melainkan hasil dari sistem proteksi yang bekerja untuk mencegah kerusakan yang lebih serius atau risiko keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mobil listrik memiliki kompleksitas elektronik yang tinggi, pendekatan desainnya justru menekankan pada pencegahan dan keselamatan. Setiap penghentian operasi sering kali merupakan bagian dari mekanisme perlindungan yang telah dirancang sebelumnya.