- Apa nama usaha Sukarti dan apa filosofi di baliknya?
- Bagaimana Sukarti menjaga kualitas dan pasokan sayur untuk usahanya?
- Apa tantangan utama yang dihadapi Sukarti dalam mengelola usahanya?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Kegigihan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mempertahankan roda ekonomi keluarga menjadi potret nyata ketangguhan masyarakat. Di tengah deretan pedagang di Pasar Kolombo, sosok wanita tangguh bernama Sukarti (32) tampak sibuk melayani pembeli di antara tumpukan sayur segar.
Lapak ini bukanlah tempat pengolahan kuliner sayur bakar, melainkan sebuah usaha dagang sayur-mayur segar yang dikelola oleh seorang wanita tangguh bernama Sukarti. Setiap harinya, sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WIB, Sukarti dengan ramah melayani para pelanggan setianya yang berasal dari berbagai penjuru Condongcatur dan sekitarnya.
Nama unik "Bakar Sayur" ternyata menyimpan filosofi kebersamaan yang sangat personal bagi Sukarti. Ya, nama usaha yang sudah berdiri selama 8 tahun ini merupakan akronim dari nama dirinya dan sang suami, yang menjadi fondasi utama dalam membangun bisnis ini sejak awal berdiri.
"Namanya Bakar Sayur. Bakar itu diambil dari nama saya dan suami saya, nama suami saya Bagus dan saya Sukarti, jadi dinamai Bakar Sayur. sudah berdiri selama 8 tahun," ungkap wanita 32 tahun saat ditemui oleh Liputan6.com di sela kesibukannya melayani pembeli di Pasar Kolombo, Sleman, Yogyakarta.
Keputusannya untuk terjun ke dunia perdagangan sayur didasari oleh realitas ekonomi dan potensi pasar yang menjanjikan. Sukarti melihat bahwa kebutuhan akan pangan adalah sektor yang paling stabil meskipun kondisi ekonomi global sedang fluktuatif. Prospek yang cerah inilah yang membuatnya mantap memilih jalur ini sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
"Ya karena prospeknya yang lumayan mas dan karena faktor ekonomi juga, jadi lumayan lah pendapatannya bisa buat memenuhi kesehariannya," ucapnya.
Strategi Rantai Pasok dari Muntilan hingga Tantangan Modal Harian
Untuk menjaga kualitas barang dagangannya tetap segar dan kompetitif, Sukarti menerapkan strategi rantai pasok yang cukup matang. Ia rutin mengambil stok sayur-mayur langsung dari Pasar Muntilan, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu pusat grosir sayur terbesar di wilayah tersebut. Dengan mengambil dalam skala besar, Sukarti mendapatkan harga yang jauh lebih miring untuk dijual kembali.
"Ambil sayurnya dari Pasar Muntilan. Kebetulan disana sudah ada penjualnya, jadi kita belinya dalam skala besar dan untuk dijual lagi disini," terangnya.
Meskipun sumber barang sudah terjamin, tantangan utama yang dihadapi Sukarti adalah fluktuasi harga komoditas pangan yang seringkali tak terduga. Hal ini berdampak langsung pada besaran modal yang harus ia keluarkan setiap harinya. Manajemen keuangan yang disiplin menjadi kunci utama agar usahanya tidak gulung tikar akibat kenaikan harga barang yang mendadak.
Rata-rata modal harian yang ia butuhkan berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Namun, angka tersebut bisa melonjak drastis saat terjadi kelangkaan komoditas tertentu di pasaran.
"Untuk modalnya ya rata-rata ya Rp3,5 juta atau Rp4,5 juta tergantung harga naiknya sayur. Kemarin sempat Rp5,4 juta karena harga cabai mahal," kenang Sukarti .
Kendati modal seringkali naik-turun, Sukarti tetap konsisten menjaga margin keuntungan yang wajar demi kepuasan pelanggan. Setiap harinya, ia mampu mengantongi laba bersih sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Angka ini ia syukuri karena dinilai cukup stabil untuk menopang ekonomi kesehariannya tanpa harus bergantung pada pihak lain.
"Ya bisa Rp300 ribu, bisa RP200 ribu ya segitulah kira-kira," sebutnya.
Akselerasi UMKM Melalui KUR BRI dan Transformasi Digital QRIS
Dalam fase pengembangan usahanya, Sukarti menyadari bahwa dukungan modal tambahan sangat diperlukan untuk ekspansi dan menjaga stok tetap melimpah. Pilihannya jatuh pada produk perbankan dari BRI, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurutnya, BRI adalah mitra yang paling memahami kebutuhan pedagang pasar tradisional karena layanannya yang mudah diakses.
Sukarti mengungkapkan bahwa dirinya sudah dua sampai tiga kali memanfaatkan program KUR dari BRI dengan plafon sebesar Rp50 juta per tahun. Dana tersebut ia gunakan sebagai penguat modal kerja, terutama saat menghadapi musim-musim di mana harga sayur melonjak tajam atau saat permintaan dari pelanggan meningkat pesat di hari-hari besar.
"Saya pakai KUR sama apa ini Qris. Kalau KUR, saya ambil Rp50 juta per tahun. Udah 2 sampai 3 kali saya gunain KUR ini mas. Sangat berpengaruh banget KUR itu buat usaha saya. Alasan saya milih BRI karena bank ini sudah dikenal banyak orang dan juga merakyat ya," jelas Sukarti.
Kedekatan emosional dan kemudahan akses inilah yang membuat program perbankan plat merah tersebut menjadi primadona bagi pelaku usaha mikro seperti dirinya.
Tak berhenti di sisi permodalan, Sukarti juga mulai merambah ke dunia digital dengan mengadopsi layanan pembayaran nontunai QRIS BRI. Di lapak Bakar Sayur miliknya, kini pelanggan bisa membayar cukup dengan memindai kode QR. Hal ini tidak hanya memudahkan pembeli, tetapi juga membantu Sukarti dalam mengelola catatan keuangan harian secara lebih transparan dan aman.
Langkah digitalisasi ini ia ambil sebagai respon terhadap tren belanja masyarakat di Jalan Kaliurang yang kian modern. Dengan adanya QRIS, ia tidak perlu lagi repot menyediakan uang kembalian dalam jumlah banyak, serta terhindar dari risiko uang palsu. Perpaduan antara modal KUR dan kemudahan QRIS menjadikan Bakar Sayur sebagai UMKM yang adaptif terhadap transformasi digital di Indonesia.
Harapan dan Keberlanjutan Ekonomi UMKM di Yogyakarta
Menatap masa depan, Sukarti memiliki harapan yang tulus bagi keberlangsungan usahanya. Ia ingin "Bakar Sayur" bisa terus berjalan dan menjadi warisan yang bermanfaat bagi keluarganya. Baginya, konsistensi adalah kunci utama dalam menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah ia bangun selama delapan tahun terakhir di Pasar Kolombo.
Ia juga berharap agar akses perbankan bagi rakyat kecil seperti dirinya bisa terus ditingkatkan dan dipermudah. Dukungan berkelanjutan dari pihak-pihak seperti BRI dirasa sangat krusial agar UMKM di Yogyakarta bisa tetap tegak berdiri menghadapi terpaan ekonomi global yang tidak menentu di masa mendatang.
"Harapannya semoga bisa jalan terus dan bisa memenuhi ekonominya ya," tutur Sukarti dengan senyum optimis. Harapan ini bukan sekadar kalimat klise, melainkan representasi dari jutaan pedagang pasar lainnya yang menggantungkan hidup pada perputaran uang di pasar tradisional setiap paginya.
Keberlanjutan ekonomi UMKM seperti Bakar Sayur juga memberikan dampak domino bagi sektor lain, mulai dari petani di Muntilan hingga penyedia jasa logistik. Dengan tetap berjalannya usaha Sukarti, rantai ekonomi kerakyatan di wilayah Sleman dan sekitarnya tetap terjaga kelestariannya, menciptakan lapangan kerja mandiri yang stabil.
Kisah Sukarti adalah bukti bahwa dengan kemauan yang keras, strategi yang tepat, dan dukungan finansial yang mumpuni, UMKM bisa tumbuh menjadi pilar ekonomi yang tangguh. Bakar Sayur di Pasar Kolombo akan terus menyajikan kesegaran dari Muntilan, sekaligus menebarkan inspirasi tentang semangat pantang menyerah dari jantung Yogyakarta.
Kesaksian Yanti: Harga Wajar dan Kualitas Segar Jadi Primadona
Di tengah ramainya pembeli pagi itu, terlihat Yanti, seorang ibu rumah tangga yang merupakan pelanggan setia lapak Bakar Sayur. Ia mengaku sudah menjadi langganan Sukarti sejak lama karena merasa puas dengan kualitas sayuran yang ditawarkan. Baginya, mencari sayur segar dengan harga yang bersahabat adalah prioritas utama dalam mengatur belanja dapur harian.
Yanti mengungkapkan bahwa perbedaan yang paling mencolok dari lapak Bakar Sayur adalah daya tahan sayurannya yang lebih lama dibandingkan tempat lain.
"Sayurnya di sini selalu segar-segar, kalau disimpan di kulkas masih bagus sampai besok-besoknya. Itu yang bikin saya rajin balik lagi ke sini setiap pagi," tutur Yanti sembari memilih sayuran tersebut.
Selain kualitas, masalah harga juga menjadi poin penting yang membuat Yanti tidak mau berpaling ke lapak lain. Di tengah kondisi harga pangan yang sering naik-turun, ia merasa Sukarti tetap memberikan harga yang tarafnya sangat wajar. Kejujuran pedagang dalam memberikan harga inilah yang membangun loyalitas pelanggan di Pasar Kolombo.
"Harganya di sini masih taraf wajar, tidak asal kasih harga mahal meski di pasar sedang naik. Mbak Sukarti orangnya jujur, jadi kita sebagai pembeli merasa tenang dan tidak merasa dipermainkan harganya," imbuhnya.
Langkah-Langkah Pengajuan KUR BRI Lewat HP
Melansir dari laman resmi BRI, Anda bisa mengajukan pinjaman KUR lewat HP dengan dua cara, yakni melalui situs resmi kur.bri.co.id dan juga melalui aplikasi BRImo. Berikut adalah masing-masing caranya:
Lewat Situs kur.bri.co.id:
- Buka browser di HP dan masuk ke situs kur.bri.co.id.
- Pilih tombol "Ajukan Pinjaman".
- Login menggunakan email aktif, atau pilih "Daftar" jika belum memiliki akun.
- Baca dan setujui syarat serta ketentuan.
- Isi formulir pengajuan secara lengkap, termasuk informasi data diri dan usaha.
- Unggah dokumen persyaratan (KTP, KK, NIB/SKU, NPWP untuk plafon > Rp 50 juta).
- Klik "Kirim" dan tunggu verifikasi pihak BRI.
Lewat Aplikasi BRImo
- Buka aplikasi BRImo dan login.
- Pilih menu "Pinjaman BRI".
- Pilih opsi "Ajukan Baru" dan pilih jenis "KUR".
- Isi data diri dan informasi usaha yang diminta.
- Unggah dokumen pendukung dan kirim pengajuan.
Syarat Umum KUR BRI Mei 2026
Meskipun pengajuan lewat HP, namun Anda harus menyiapkan beberapa berkas dokumen dan persyaratan berikut ini:
- Individu (perorangan) yang memiliki usaha produktif dan layak.
- Usaha telah berjalan minimal 6 bulan.
- Tidak sedang menerima kredit dari perbankan lain (kecuali kredit konsumtif).
- KTP, KK, dan Surat Nikah/Cerai (jika ada).
- NIB atau Surat Keterangan Usaha (SKU) dari Desa/Kelurahan.
- NPWP (wajib untuk plafon di atas Rp 50 juta).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·