Di tengah jutaan manusia yang bergerak di Padang Arafah, kepanikan adalah hal paling berbahaya. Sesaat kekacauan dapat menjatuhkan banyak orang. Pada dasarnya ibadah haji dibangun di atas nilai-nilai kedisplinan, kesabaran, dan kepercayaan bahwa keteraturan akan membawa seluruh jemaah tiba dengan selamat.
Sementara itu, ekonomi bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi tidak hanya ditopang oleh data seperti cadangan devisa, pergerakan suku bunga, tingkat inflasi. Ekonomi juga hidup dari rasa percaya, rasa keyakinan bahwa keadaan masih terkendali dan tidak adanya kepanikan.
Musim haji tahun ini datang pada saat dunia sedang menghadapi ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah suku bunga Amerika Serikat yang dinamis, hingga fragmentasi perdagangan dunia masih memberi tekanan terhadap banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Peningkatan kebutuhan valuta asing untuk perjalanan ibadah haji ikut menambah tekanan terhadap permintaan dolar AS dan riyal Saudi.
Sebagaimana jemaah yang melangkah tertib di tengah lautan manusia, fondasi ekonomi Indonesia sejatinya bergerak dalam koridor yang terjaga. Inflasi April 2026 masih terkendali di level 2,42%. Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 mencapai 5,61%.
Indonesia juga masih memiliki bekal yang cukup melalui cadangan devisa sebesar 146,2 miliar dolar AS. Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional—seperti S & P, Moody's, dan Fitch Rating—tetap menempatkan Indonesia pada level investment grade.
Dalam haji, setiap jemaah memahami bahwa perjalanan spiritual ini tidak dapat dijalani dengan ego masing-masing. Semua orang harus mengikuti ritme bersama. Ada waktu bergerak, menunggu, dan saat menahan diri. Ketika jutaan manusia mematuhi aturan yang sama, ibadah besar itu dapat berlangsung tertib. Demikian pula ekonomi nasional membutuhkan kesadaran kolektif yang sama.
Pelemahan rupiah sering kali tidak berasal dari buruknya fundamental ekonomi, tetapi dari persepsi dan kepanikan yang bergerak lebih cepat dibanding fakta.
Pengalaman krisis 1997—1998 menjadi pelajaran penting bahwa runtuhnya kepercayaan dapat menciptakan lingkaran kepanikan: masyarakat memborong dolar AS, harga barang melonjak, pelaku usaha menahan produksi, dan tekanan ekonomi semakin membesar.
Seperti thawaf yang tidak dilakukan sendirian, stabilitas ekonomi juga tidak dapat dijaga hanya oleh satu pihak. Menjaga stabilitas rupiah tidak cukup dilakukan hanya oleh Bank Indonesia melalui intervensi pasar atau kebijakan suku bunga. Stabilitas membutuhkan disiplin kolektif, sebagaimana haji membutuhkan ketertiban berjemaah.
Pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal dan memastikan komunikasi kebijakan tetap konsisten agar tidak memunculkan spekulasi yang memperbesar ketidakpastian.
Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi, sekaligus memastikan likuiditas pasar tetap memadai. Dunia usaha juga perlu menahan diri untuk tidak menjadikan pelemahan rupiah sebagai alasan menaikkan harga secara berlebihan di luar kenaikan biaya riil.
Di sisi lain, masyarakat memiliki peran penting dengan mengimplementasikan "Cinta Bangga Paham Rupiah". "Cinta rupiah" dapat dilakukan dengan menukarkan uang secara bijak sesuai kebutuhan, menghindari panic buying valas, dan tidak ikut menyebarkan narasi berlebihan mengenai pelemahan rupiah merupakan bentuk sederhana dalam menjaga stabilitas bersama.
Sementara itu, “bangga rupiah” tidak berarti menolak penggunaan mata uang asing saat berada di luar negeri. Kebanggaan itu tecermin melalui keyakinan bahwa rupiah memiliki nilai dan martabat yang dijaga bersama. Adapun “paham rupiah” menjadi fondasi yang paling penting. Pemahaman bahwa pergerakan nilai tukar dipengaruhi situasi global dapat membantu masyarakat lebih rasional dalam menyikapi gejolak kurs. Tidak setiap pelemahan rupiah berarti krisis.
Ibadah haji mengajarkan bahwa sebuah perjalanan besar tidak diselesaikan dengan kepanikan. Ihram menghapus simbol status dan mengingatkan manusia untuk hidup lebih sederhana. Thawaf mengajarkan keteraturan dalam pergerakan bersama. Sementara lempar jumrah menjadi simbol untuk melawan godaan, termasuk godaan rasa takut yang berlebihan. Inilah relevansi terbesar musim haji terhadap situasi ekonomi hari ini.
Di tengah dunia yang penuh gejolak, bangsa ini memerlukan lebih banyak ketenangan dibanding kepanikan, lebih banyak kepercayaan dibanding prasangka, dan lebih banyak disiplin dibanding emosional sesaat.
Pada akhirnya, nilai rupiah tidak ditentukan oleh pasar global atau pergerakan dolar AS, tetapi resiliensi bangsa ini menghadapi guncangan. Barangkali itulah pelajaran terbesar musim haji tahun ini bagi ekonomi Indonesia, di mana sebuah perjalanan besar dapat diselesaikan dengan disiplin dan kepercayaan. Demikian pula guncangan nilai rupiah dapat diselesaikan.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·