Misteri Bando Merah di Jok Belakang Taksi: Ternyata Milik Penumpang yang Sudah Meninggal

Sedang Trending 54 menit yang lalu

KISAH horor datang dari pengalaman yang dialami Wagimin (49) yang berprofesi sebagai pengemudi taksi. Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun silam, saat armada taksi masih konvensional, belum ada taksi online seperti saat ini. Tapi bagi pria yang akrab dipanggil Gimin ini, kisah yang dialaminya masih membekas hingga saat ini.

“Kejadian sudah cukup lama, tapi bayangan peristiwa itu masih belum bisa hilang dari ingatan saya mas,” ungkap Gimin kepada RadarSemarang.ID.

Bertahun-tahun menjalani profesi pengemudi taksi, imbuh Wagimin, baru sekali itu dia mengalami kejadian mistis yang sulit dicerna akal sehat sekaligus menjadi pengalaman horor pertamanya.

Dia mendapat seorang penumpang yang meminta diantar ke rumahnya, tapi ternyata penumpangnya itu sudah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Bagaimana cerita horor selengkapnya?ini penuturannya.

Malam itu hujan turun rintik-rintik di kawasan Makam Bergota. Jam di dashboard taxi tua,milik Wagimin menunjukkan pukul 01.17 dini hari saat dia melaaju pelan menyusuri jalan Kyai Saleh yang sepi dan temaram.

Wagimin sebenarnya ingin pulang. Sejak sore ia terus narik penumpang tanpa henti. Badannya pegal, matanya berat.

Tapi saat mobilnya melintas pelan di depan gerbang makam, ia melihat seorang perempuan berdiri sendirian tak jauh dari gang masuk kompleks pemakaman terbesar di kota Semarang.

Electronic money exchangers listing

Perempuan itu memakai baju putih kusam dan rok panjang hitam. Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah. Di tangannya ada payung kecil berwarna merah tua.

Wagimin sempat ragu, apakah perempuan yang berdiri ditepi jalan itu benar-benar manusia atau bukan. Dia melambaikan tangan. Wagimin ngeh dipanggil, dia mendekatkan mobilnya ke arah perempuan itu berdiri.

“Pak… ke Semarang Utara bisa?” suara perempuan itu lirih saat mobil yang dikemudikannya berhenti persis didepannya.

Gimin mengangguk pelan.

“Bisa  Mbak.”

Pintu belakang terbuka perlahan. Anehnya, saat perempuan itu masuk, jok mobil sama sekali tidak bergerak seperti tidak ada beban.

Bulu kuduk Wagimin sempat berdiri. Namun dia cuek. Ia mencoba menenangkan diri. “Mungkin perasaan aja…”gumamnya dalam hati.

Sepanjang perjalanan suasana terasa aneh. Kaca mobil sering berembun sendiri padahal AC mati. Aroma bunga melati memenuhi kabin. Sesekali pria asal Kendal itu melirik lewat kaca tengah.

Penumpangnya duduk diam. Terlalu diam bahkan. Wagimin mencoba sesekali mengamati,dengan mencuri pandang melalui spion dalam. Wajah perempuan itu pucat. Tatapannya kosong lurus ke depan.

“Rumahnya daerah mana, Mbak?” tanya Wagimin mencoba mencairkan suasana.

“Dekat pelabuhan…” jawabnya pelan tanpa menoleh.

Mobil terus melaju melewati jalanan basah kota. Saat memasuki kawasan Semarang Utara, suasana makin sunyi. Bangunan-bangunan  tua berdiri gelap. Kabel listrik bergoyang diterpa angin laut.

Tiba-tiba lampu mobilnya berkedip sendiri, padahal dia tidak memainkan lampu dim. Kemudian radio mobil yang sepanjang perjalanan off, tiba-tiba juga menyala tanpa disentuh. Tapi hanya terdengar suara kresek-kresek memenuhi kabin.

Lalu terdengar suara perempuan berbisik sangat pelan:“Tolong… saya belum sampai rumah…”ucap perempuan itu pelan.

Gimin langsung mematikan radio dengan tangan gemetar. Saat itu ia sadar satu hal. Suara bisikan tadi bukan berasal dari radio. Tapi dari jok belakang. Mobil akhirnya berhenti di depan gang sempit dekat bangunan-bangunan tua. Perempuan itu menunjuk ke ujung gang yang gelap gulita.

“Berhenti di sini saja, Pak.”perintahnya masih dengan nada pelan.

Pria yang sehari-hari dpipanggil Gimin itu langsung menginjak rem, berhenti persis di ujung gan yang gelap. Perempuan itu membuka pintu perlahan lalu turun. Sebelum menutup pintu ia berkata:

“Terima kasih… sudah mengantar saya pulang…”suara perempuan itu lemah, sembari mengulurkan uang yang terlihat lusuh dan kumal.

Lalu perempuan itu berjalan masuk ke gang gelap dan menghilang di balik tikungan. Gimin buru-buru tancap gas meninggalkan lokasi itu.

Namun baru beberapa ratus meter, ia mencium aroma melati lebih kuat dari sebelumnya. Saat menoleh ke kaca tengah, dia melihat ada satu benda tertinggal di jok yang diduduki perempuan itu. Sebuah bando berwarna merah tua.

Bando itu terlihat basah, seperti habis terkena air hujan. Gimin sempat  bergidik saat melihat bando itu. Dia  berniat membuangnya, tapi entah kenapa tangannya terasa berat. Akhirnya ia memutuskan mengembalikan benda itu ke alamat tadi besok pagi.

“Ta balekke sesuk wae, paling wonge yo isih turu (ta kembalikan besok pagi saja, paling sekarang orangnya masih tidur)”gumam Gimin.

Keesokan harinya, sekitar pukul 10 pagi, Gimin kembali ke kampung tersebut. Dia memarkir taxinya persis di ujung gang, karena mobil tidak bisa masuk. Dengan berjalan kaki, dia menyusuri gang dan bertanya pada seorang ibu-ibu yang tengah menjaga warungnya.

“Permisi, Bu… saya mau cari perempuan yang tinggal di ujung gang ini. Tadi malam saya antar naik taxi. Ini bandonya ketinggalan.”ucap Gimin.

Ibu itu melihat bando yang dipegang Gimin. Tapi, wajah ibu tiba-tiba langsung berubah pucat. “Bocah wedok iku nganggo klambi putih… rambute dowo mas (Anak perempuan itu pakai baju putih, berambut panjang) mas?”tanya ibu itu dengan bahasa jawa.

Gimin mengangguk pelan. Ibu itu terlihat gemetar.“Mas… ojo guyon to…(Mas jangan bercanda to)”ibu itu seolah tak percaya. Dan itu kembali berkata.

“Cah wedok sing mbo anter mo mbengi kuwi wes meninggal seminggunan kepungkur mas (anak perempuan yang kamu antar tadi malam itu sudah meninggal seminggu yang lalu”cetus ibu itu.

Mendengar ucapannya, darah Gimin seolah berhenti mengalir. Ibu itu tidak menjawab, tapi mengarahkan jari telunjuknya ke rumah paling ujung berjarak kurang lebih 20 meter dari tempat dia berdiri.

Di depan rumah itu masih terpasang bendera warna kuning dan tenda putih bekas pengajian tujuh harian yang belum dibongkar.  Gimin hanya terpaku menatap rumah bercat hijau itu.

“Namanya Ratih. Kecelakaan di dekat Bergota waktu pulang kerja malam-malam…”cetus ibu itu membuarkan lamunannya.

Tubuh Gimin langsung lemas. Dia langsung bergegas ke rumah itu untuk mengembalikan banda yang tertinggal di mobilnya. Ketika langkah kakinya berhenti didepan pintu rumah itu. Tangannya gemetar saat melihat foto di meja ruang tamu.

Itu perempuan yang semalam duduk di kursi belakang taksinya. Wajahnya pucat. Baju putih. Tatapan kosong. Sama persis. Mendadak angin berhembus dingin dari belakang tubuhnya. Gimin hanya bisa diam terpaku memandang foto itu.

Sampai seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam rumah. Namun, belum sempat dia bertanya. Perempuan itu menangis dan terkulai lemas didepannya. Penghuni rumah dan tetangganya semua keluar, menginterogasi Wagimin.

Mendengar jawabannya, tangis keluarganya kembali pecah. “Maturnuwun mas..”ucap salah satu dari anggota keluarga. Gimin hanya mengangguk pelan dan bergegas pamit.

“Itu mas ceritanya, sampe sekarang kejadian itu gak bisa aku lupakan”tutur Wagimin mengakhiri cerita horornya. (sls/jpg)