BANK Indonesia (BI) mencatat modal asing sebesar US$ 1,7 miliar keluar dari pasar keuangan domestik sepanjang Januari hingga Maret 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kondisi geopolitik.
“Investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat net outflow sebesar US$ 1,7 miliar terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu, 22 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Meski begitu, tren aliran modal asing mulai mencatatkan net inflows sebesar US$ 1,9 miliar pada awal triwulan II atau hingga 20 April 2026. Perry mengatakan masuknya modal asing terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Adapun posisi instrumen moneter SRBI pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp 885,41 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan nonresiden mencapai Rp 165,98 triliun atau 18,75 persen dari total outstanding.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, sejak Februari, bank sentral telah menyesuaikan suku bunga SRBI secara bertahap. Hal itu dilakukan demi meningkatkan daya tarik SRBI bagi investor asing.
Menurut Destry, penyesuaian imbal hasil SRBI mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya inflow sejak Maret. “Kemudian juga kita lihat di bulan April ini, kita juga sudah melihat terkait adanya inflow untuk yang SRBI terus berlanjut di mana hanya di bulan April saja terjadi inflow sampai Rp 29 triliun, sehingga year to date untuk SRBI sudah terjadi inflow sebesar Rp 54,3 triliun,” ucapnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·