Kasus malaria Knowlesi belakangan menjadi perhatian setelah dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah di Indonesia. Penyakit yang dikenal sebagai “monkey malaria” ini merupakan jenis malaria zoonotik, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan nyamuk.
Menurut Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDipPID M.Ked(Ped)., Sp.A, Subsp IPT(K)., Ph.D, malaria Knowlesi berasal dari parasit yang secara alami menginfeksi monyet, kemudian berpindah ke manusia melalui nyamuk tertentu yang hidup di kawasan hutan.
Risiko di Perkotaan Sangat Rendah
Malaria Knowlesi umumnya ditemukan di wilayah yang dekat dengan hutan, terutama daerah yang berbatasan langsung dengan habitat monyet dan nyamuk pembawa parasit. Meski monyet dapat ditemukan di beberapa wilayah perkotaan, risiko penularan di kota dinilai sangat rendah.
Hal ini disebabkan karena nyamuk yang menjadi vektor utama parasit malaria Knowlesi umumnya tidak hidup di lingkungan perkotaan. Dengan demikian, rantai penularan dari monyet ke manusia, kemungkinan hampir tidak terjadi di kota.
Kasus malaria Knowlesi lebih banyak ditemukan di kawasan hutan, daerah pembukaan lahan baru, atau wilayah dengan perubahan fungsi lahan yang membuat manusia semakin dekat dengan habitat satwa liar.
“Nah, kalau di perkotaan itu tidak ada nyamuk yang khusus membawa jenis parasit ini, sehingga biasanya di perkotaan itu tidak terjadi penularan sama sekali.Jadi, umumnya memang di daerah hutan,” kata dr. Inke dalam webinar bersama IDAI, Rabu (13/5).
Cara Melindungi Diri dari Malaria Knowlesi
Pencegahan malaria Knowlesi pada dasarnya sama dengan pencegahan malaria lainnya. Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria atau dekat kawasan hutan dianjurkan untuk meningkatkan perlindungan diri dari gigitan nyamuk.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-Tidur menggunakan kelambu, terutama di daerah rawan malaria.
-Menggunakan repellent atau obat anti-nyamuk, khususnya pada waktu nyamuk aktif menggigit.
-Memakai pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi risiko gigitan.
-Menghindari aktivitas luar ruangan pada waktu nyamuk aktif, seperti saat subuh, magrib, dan malam hari.
Selain itu, masyarakat juga diminta waspada apabila mengalami demam setelah melakukan perjalanan ke kawasan hutan atau pinggir hutan.
“Dan jika sudah ada riwayat perjalanan ke hutan atau pinggir hutan, lalu muncul gejala demam, maka tentunya kita melakukan pemeriksaan dengan cepat untuk menilai adanya risiko malaria knowlesi,” tegasnya.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·