Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan perlu langkah strategis oleh para pemangku kepentingan untuk meningkatkan literasi nasional atau minat baca masyarakat Indonesia.
Para pemangku kepentingan, kata dia, hendaknya memanfaatkan momentum berharga peningkatan minat baca di kalangan generasi Z (Gen Z) untuk menyiapkan langkah-langkah strategis tersebut.
“Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia,” kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Anggota Komisi X DPR RI itu menyoroti hasil survei Jejak Pendapat (Jakpat) yang dilakukan pada semester kedua 2025, bahwa aktivitas membaca Gen Z (rentang usai 14-29 tahun) lebih tinggi di bandingkan Generasi Milenial (30-45) dan Gen X (46-61).
Hasil survei menunjukkan aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen, Generasi Milenial sebesar 20 persen dan Gen X sebesar 18 persen.
Baca juga: Pimpinan MPR: Manfaatkan naskah kuno untuk peningkatan literasi
Namun, lanjut dia, tingginya minat baca ini belum otomatis berbading lurus dengan tingkat literasi nasional.
Oleh karena itu, agar kebiasaan positif ini berdampak luas, diperlukan sejumlah langkah strategis.
Menurut dia, langkah strategis tersebut di antaranya menggerakkan komunitas baca berbasis digital dan fisik dengan memfasilitasi pembentukan komunitas baca yang mendorong munculnya diskusi buku dan resensi buku secara organik.
Kemudian, sekolah dan perguruan tinggi perlu mendorong tugas-tugas yang mengharuskan siswa tidak sekedar membaca, tetapi juga mengolah, mengkritisi dan menyajikan ulang informasi yang ada.
“Yang tak kalah penting itu ketersediaan bahan bacaan yang mudah diakses masyarakat melalui kelengkapan buku fisik dan digital di perpustakaan, maupun harga bahan bacaan yang terjangkau,” ujarnya.
Baca juga: Penyelamatan naskah Nusantara Indonesia tingkatkan kecakapan literasi
Lestari berharap, segera hadir kebijakan yang mampu mewujudkan keterjangkauan bahan bacaan bagi masyarakat melalui penghapusan pajak buku dan keringanan harga kertas.
Dengan langkah tersebut, kata dia, momentum 26 persen G Z yang aktif membaca tidak hanya menjadi angka statistik.
“Tapi fondasi bagi terciptanya ekosistem literasi nasional yang lebih kuat, inklusif dan berkelanjutan,” kata Lestari.
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·