MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Markets, Tapi Kaji Kepemilikan Asing

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Ilustrasi bank investasi asal AS, Morgan Stanley. Foto: Sergei Elagin/Shutterstock

Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyatakan saham perusahaan yang memiliki batas kepemilikan asing atau foreign ownership limit (FOL) akan dinilai berdasarkan ketersediaan foreign room, sebelum dimasukkan ke dalam indeks sahamnya.

Dalam metodologi MSCI Global Investable Market Indexes, foreign room merupakan proporsi saham yang masih tersedia untuk dimiliki investor asing dibandingkan batas maksimum yang diizinkan.

Dalam penilaian tersebut, MSCI akan melihat seberapa besar sisa ruang kepemilikan asing dibandingkan batas maksimum yang diizinkan.

“Secara umum, efek dengan foreign room yang rendah dalam beberapa kondisi dapat dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan ke dalam indeks atau dikenakan pengurangan bobot melalui penerapan faktor penyesuaian,” tulis MSCI dalam laporan terbarunya, dikutip Rabu (13/5).

Indonesia ditetapkan sebagai salah satu pasar berkembang atau emerging markets yang dipantau secara triwulanan terkait ketersediaan ruang bagi investor asing.

Untuk kategori developed markets, negara yang dipantau meliputi Australia dan Jepang. Sementara pada kelompok emerging markets, negara yang masuk pemantauan antara lain China, India, Indonesia, Korea Selatan, Filipina, Qatar, Arab Saudi, Taiwan, Thailand, dan Uni Emirat Arab.

Adapun untuk kategori frontier markets, MSCI memantau Tunisia dan Vietnam. Sementara Zimbabwe masuk dalam kategori standalone markets.

19 Saham RI Ditendang MSCI

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Dalam hasil tinjauan indeks MSCI bulan Mei 2026 ini, dikutip Rabu (13/5), enam saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Ada juga 13 saham yang keluar dari MSCI Global Small Cap Index. Namun, satu saham yang keluar dari MSCI Global Standard justru masuk ke MSCI Small Cap.

MSCI mengeluarkan enam saham emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain itu, MSCI juga mengeluarkan 13 saham emiten Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham tersebut meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA).

Kemudian PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Seluruh perubahan akan diimplementasikan pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

instagram embed