Nadya Gianifa Kibarkan Merah Putih di Puncak Ama Dablam Himalaya

Sedang Trending 45 menit yang lalu

CANTIKA.COMJakarta - Pemanjat tebing perempuan Indonesia, Nadya Gianifa kibarkan Merah Putih di salah satu puncak paling teknikal dan berbahaya di Himalaya, menuntaskan tahap pertama dari ekspedisi tiga puncak paling menantang di dunia.

Ama Dablam, Nepal, Kamis 14 Mei 2026, pukul 21.17 waktu setempat, di atas ketinggian 6.000 mdpl, di mana bernapas semakin berat dilakukan karena oksigen yang menipis, Nadya Gianifa merayap  perlahan di atas dinding es vertikal yang licin. Angin Himalaya menghantam dari segala sisi. Tali dan peralatannya menjadi satu-satunya hal yang memisahkannya dari jurang di bawah. Ia sudah berjalan, memanjat, dan berjibaku selama lebih dari belasan jam tanpa mau menyerah.

Perjuangan beratnya akhirnya terbayar keesokan harinya, tepat pukul 15.15 waktu setempat tanggal 15 Mei 2026, Nadya Gianifa akhirnya menginjakkan kaki di puncak Ama Dablam, 6.812 meter di atas permukaan laut. Merah Putih berkibar di antara langit Himalaya yang beku. Total perjalanan summit push yang dilakukannya adalah 18 jam penuh. Jalur menuju puncaknya sangatlah sulit bukan jalur pendakian biasa. 

Ia harus dipanjat: merayap vertikal di atas es miring di punggungan yang sangat sempit dan terbuka, dengan elevation gain ±900 meter dari Camp 3 dalam jarak horizontal hanya 1,3 kilometer. Biasanya summit push dilakukan dari titik Camp 3,  namun karena salju begitu tebal di sana hal itu tidak memungkinkan. Perjalanan maka dimulai dari Camp 2 menuju Camp 3 yang bahkan sudah sangat berat dengan elevasi 300-400 meter meski hanya berjarak sekitar 600 meter.

Ama Dablam adalah gunung yang istimewa. Gunung ini sudah lama dikenal di kalangan pendaki dunia sebagai salah satu ujian teknikal paling berat dan bahkan sejumlah pendaki senior menyebutnya lebih sulit dari Everest. Tapi tidak ada toleransi untuk kesalahan di sana.

"Gunung ini sudah menghantui pikiranku sejak dua tahun lalu. Cantik sekaligus menyeramkan dan dari foto dan videonya saja, aku sudah tahu ini bukan gunung yang akan memperlakukanku dengan mudah. Ama Dablam memang ngga setinggi Everest tapi Ama Dablam was really a thing," ucap Nadya Gianifa melalui siaran pers.

Nadya Gianifa, pemanjat tebing peremouan kibarkan Merah Putih di Himalaya/Foto: Doc. Pribadi

Nadya adalah pemanjat tebing profesional dengan lebih dari 11 tahun jam terbang, bagian dari IBEX Indonesia Big Wall Expedition. Sebuah komunitas pemanjat tebing Indonesia yang telah menorehkan jejak di dinding-dinding paling ekstrem di dunia, dari El Capitan di Yosemite hingga Trango Tower di Pakistan. Rekam jejak ekspedisi Nadya mencakup Tebing Batu Daya, Kapuas Hulu di Kalimantan hingga Winter Trek di India dan Koshar Gang di Pakistan. Latar belakang sebagai pemanjat tebing big wall itulah yang membedakannya dari pendaki gunung kebanyakan dan yang membuatnya punya bekal untuk menghadapi Ama Dablam.

Tapi teknik saja tidak cukup. Selama menunggu weather window di Base Camp, Nadya menyaksikan sendiri tim-tim ekspedisi dari berbagai negara yang satu per satu memilih mundur. Cuaca buruk, medan yang tidak memberi ampun, dan tekanan psikologis yang terus menggerus keyakinan. Ia tetap di sana, menunggu, dan ketika jendela cuaca akhirnya terbuka, ia maju.

Nadya juga mengatakan, "Sampai beberapa jam sebelum summit push, gunung ini tidak pernah berhenti membuatku ragu. Banyak yang gagal di depan mataku. Tapi banyak riset, persiapan, kegagalan, tangis, bangkit, dan kemajuan sedikit demi sedikit selama setahun ke belakang yang mengantarkan aku tetap melangkah. Dan sekarang aku sudah kembali ke basecamp selamat, sehat, dan bahagia." 

Di sisinya sepanjang pendakian: Sonam Dai Sherpa, guide yang dikenal atas kekuatan dan kesabarannya di medan teknikal ekstrem, dan Purba, warga lokal yang dalam ekspedisi ini juga menorehkan first summit Ama Dablam miliknya sendiri.

Keberhasilan di Ama Dablam bukan akhir dari perjalanan. Ini baru pembukaan. Ekspedisi Merah Putih Perempuan Indonesia yang digagas IBEX adalah ekspedisi rangkaian tiga puncak dengan tingkat kesulitan teknikal tertinggi di dunia:

Tujuannya bukan sekadar mengibarkan Merah Putih di setiap puncaknya, lebih dari itu. Ekspedisi ini lahir dari keyakinan bahwa setiap langkah Nadya di ketinggian itu adalah pesan yang dikirimkan ke jutaan perempuan dan anak perempuan Indonesia: bahwa batas itu bisa digeser, bahwa medan yang paling terjal pun bisa dihadapi, dan bahwa keberanian bukan soal tidak takut,  tapi soal tetap melangkah dan menghadapinya.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.