Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi penggunaan baju luar angkasa berwarna oranye untuk awak misi Artemis II yang dijadwalkan terbang ke Bulan pada April 2026. Pemilihan warna ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas astronaut saat fase pendaratan darurat di perairan terbuka.
Dilansir dari Detik iNET, warna spesifik yang digunakan adalah 'oranye internasional' dengan kode heksadesimal \#FF4F00. Warna tersebut dipilih karena memiliki kontras yang sangat tinggi terhadap warna biru air laut, sehingga memudahkan tim penyelamat dalam mengidentifikasi posisi awak kapal dari udara.
Skenario pendaratan pesawat ruang angkasa Orion mencakup berbagai lokasi di Samudra Atlantik, mulai dari wilayah dekat Irlandia, Inggris, Spanyol, hingga Maroko. Selain itu, terdapat kemungkinan pendaratan di Samudra Pasifik jika Orion melakukan entri ulang dari orbit dangkal.
Secara historis, penggunaan warna oranye mencolok ini menjadi standar keselamatan NASA pasca-tragedi meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada tahun 1986. Sebelumnya, pakaian antariksa pernah menggunakan warna metalik pada program Mercury serta warna putih pada era Apollo dan Gemini karena alasan pengendalian termal dan isolasi.
Mengutip laporan IFLScience, insiden Challenger yang menewaskan tujuh awaknya memicu perubahan protokol keselamatan secara drastis, termasuk kewajiban menggunakan pakaian peluncuran yang mudah terlihat. Meskipun perusahaan swasta seperti SpaceX menggunakan warna putih dan Boeing Starliner menggunakan warna biru, NASA tetap mempertahankan oranye untuk misi Artemis.
Sistem pada pesawat Orion telah dirancang dengan mekanisme pembatalan yang dapat menjauhkan astronaut dari roket jika terjadi anomali selama peluncuran. Karena sebagian besar prosedur darurat ini berakhir dengan pendaratan di laut, faktor visibilitas warna pakaian menjadi elemen krusial dalam protokol keselamatan misi.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·