Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi asteroid berukuran raksasa bernama Apophis akan melintasi Bumi pada jarak sangat dekat, yakni sekitar 32.000 kilometer, pada Jumat, 13 April 2029.
Objek antariksa dengan diameter rata-rata 340 meter atau setara tiga lapangan sepak bola ini diprediksi melintas lebih rendah dibandingkan posisi satelit geosinkron yang berada di ketinggian 35.800 kilometer di atas ekuator.
Meskipun dikategorikan sebagai asteroid berpotensi berbahaya, NASA memastikan tidak ada risiko tabrakan dengan planet kita setidaknya untuk 100 tahun ke depan, termasuk saat perlintasan pada tahun 2029 mendatang.
"There is no danger to Earth, to anyone or anything living on it, or to astronauts or satellites in space," ujar pihak NASA melalui laporan cbsnews.com.
Lembaga tersebut menekankan bahwa fenomena langka ini justru menjadi kesempatan emas bagi para ilmuwan untuk mempelajari karakteristik objek dekat bumi secara mendalam tanpa risiko bahaya.
"But the event is an amazing and totally unprecedented opportunity to learn much more about Apophis and similar near-Earth asteroids," lanjut NASA.
Penduduk di wilayah Belahan Bumi Timur, termasuk Eropa, Afrika, dan Asia Barat, dilaporkan akan dapat melihat pergerakan Apophis secara langsung dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik jika cuaca cerah.
Ilmuwan planet di Lowell Observatory, Nick Moskovitz, menjelaskan bahwa kedekatan jarak tersebut akan memberikan efek fisik pada asteroid akibat gaya gravitasi Bumi yang sangat kuat selama perlintasan berlangsung.
"The Apophis flyby will be an extraordinary event," kata Nick Moskovitz dalam wawancara dengan Space.com.
Gaya pasang surut dari Bumi diprediksi dapat mengubah kecepatan rotasi asteroid hingga memicu aktivitas seismik atau tanah longsor pada permukaan batu ruang angkasa tersebut.
"Apophis will come so close that it will be visible to the naked eye and will feel a strong tidal pull from the Earth. The effects of these tides will include changing the spin rate of Apophis, seismic shaking of its interior, and maybe even landslides on the surface," papar Nick Moskovitz.
Data dari observasi ini diharapkan memberikan wawasan baru mengenai evolusi asteroid saat melakukan pertemuan dekat dengan planet, yang mana Moskovitz menekankan pentingnya pengamatan langsung di lokasi.
"The best way to study this event will be with in situ spacecraft watching closely as the effects of the encounter unfold," tambah Nick Moskovitz.
Penelitian lanjutan akan menggunakan data tersebut untuk memahami struktur internal dan properti permukaan asteroid demi kepentingan pertahanan planet di masa depan.
"Data from these observations will ultimately provide new insights into the internal structure and surface properties of asteroids, and how they evolve during close planetary encounters," pungkas Nick Moskovitz.
Sejumlah misi antariksa telah disiapkan untuk menyambut kedatangan Apophis, termasuk misi Ramses dari Badan Antariksa Eropa (ESA) yang dijadwalkan meluncur pada 2028 dan misi OSIRIS-APEX milik NASA yang akan mengorbit asteroid tersebut pada Juni 2029.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·