Natalius Pigai
Natalius Pigai merupakan Menteri Hak Asasi Manusia.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Pada musim panas, el nino mengancam ekosistem dan kehidupan. Pada musim hujan la nina memporak-poranda kehidupan. Tsunami, letusan gunung, lahar dan badai menyapu bersih, dan mampu menggoncangkan bumi tempat di mana manusia tinggal, lahir, tumbuh dan berkembang.
Fenomena-fenomena alam ini sulit ditebak dan bisa menjadi murka ketika alam tidak bersahabat, tetapi juga berkat di saat alam lagi riang. Semua bergantung manusia!
Indonesia selalu dihantam badai bertubi-tubi. Kian hari alam makin beringas. Rentetan bencana alam, gempa, meletusnya gunung serta berbagai peristiwa seakan-akan alam ini mau menyampaikan pesan kepada manusia di negeri ini bahwa dia masih hidup dan bergerak.
Dalam ilmu filsafat telah diajarkan bahwa manusia adalah wujud nyata alam mini, sementara alam merupakan perwujudan manusia yang memiliki organ-organ hidup. Alam itu hidup dan bergerak ibarat manusia.
Amerika Serikat dan Eropa memiliki gejala alam seperti kekeringan bisa membawa dampak positif berupa peningkatan kegiatan ekonomi. Demikian juga musim hujan, dan hubungan antara curah hujan dan produktivitas pertanian yang konsisten juga memiliki dampak terhadap kesehatan seperti el nino telah dikaitkan dengan efek signifikan pada polusi udara di China Timur.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature menemukan bahwa kekeringan mungkin memiliki peran dalam 21 persen dari semua konflik sipil antara tahun 1950 dan 2004, dan bahwa konflik sipil baru di daerah tropis dua kali lebih mungkin timbul pada musim kering ketimbang la nina. Karena panasnya terik mentari mempengaruhi sifat manusia menjadi makin buas dan beringas dibandingkan musim hujan di mana manusia berteduh dan termenung, membangun harmoni di bawah peraduan, bisa menikmati angin sepoi-sepoi di pegunungan dan nyiur melambai di tepian pantai.
Para peneliti menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dari musim panas, dan juga stres akibat bencana alam yang disebabkan kekeringan, dapat menekan jiwa manusia, yang terkadang bisa menyebabkan perilaku agresif.
Salah satu efek utama yang terkait dengan el nino adalah meningkatnya potensi kebakaran di Indonesia juga di luar negeri seperti peristiwa legendaris, Ash Wednesday (abu di hari Rabu) pada tahun 1983 dikaitkan dengan el nino di Australia. Atau peristiwa Black Saturday (2009).
Di masa lalu manusia dan alam adalah sahabat abadi, saling membutuhkan dan saling bergantung. Manusia hidup karena memanfaatkan segala jenis binatang, burung-burung di udara, ikan-ikan di laut, tumbuh-tumbuhan dan segala isinya, demikian pula Alam tidak akan berguna jika tanpa manusia bahkan saling menguntungkan, simbiose mutualisme.
Masyarakat pedesaan adalah manusia yang hidup secara autarkis, hidup dari alam (taken for granted). Alam tidak hanya sekedar sumber kehidupan tetapi juga alam menjadi sumber suci, pusat spiritualitas, sumber transendental antara manusia dan Tuhan pencipta semesta alam.
Dari Cebu Phillina, Prabowo mau mengingatkan kita bahwa alam memang akan hadir ibarat momok yang menakutkan tetapi jangan mengecam alam. Kitalah yang harus siap menghadapinya. Mendengar kata gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir dan kekeringan tidak boleh dipandang seakan-akan mengancam kehidupan manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak boleh selalu diasosiasikan sebagai murka alam, alam bertindak negatif, atau alam melakukan kejahatan pada manusia.
Mengapa Prabowo mengatakan ASEAN dan Indonesia harus mengantisipasi el nino ekstrem artinya alam pikir manusia tidak tersandera dengan framing negatif tentang banjir, kering, gunung meletus, gempa bumi yang mendatangkan kerugian, dampak negatif yang ditimbulkan. Tetapi melihat sebagai fenomena alam yang membawa berkah, dampak positif sebagai konsekuensi dari siklus hidup manusia dalam berinteraksi dengan alam. Kita kadang tidak pernah menghargai alam ini sebuah senyawa yang hidup!
Berbagai laporan pemerintah selalu menghitung dampak kerugian yang diderita akibat bencana. Pemerintah selalu memperkirakan total kerusakan dan kerugian akibat bencana tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Demikian pula Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) selalu memperkirakan kerugian akibat bencana.
Pada tahun 2000 hingga 2001 BNPB pernah mencatat kerugian akibat banjir mencapai Rp 1,5 triliun. Bahkan Kementerian Sosial mencatat kerugian akibat banjir adalah dua per tiga dari kerusakan dan kerugian akibat bencana alam lainnya. Di tingkat internasional, FAO mencatat penggundulan hutan akibat bencana 1,3 juta hektar per tahun.
Itulah cara pandang kita terhadap alam. Seakan-alam begitu jahat dan manusia merugi. Kita Tidak pernah menghitung atau melihat dampak positif akibat el nino dan la nina. Masyarakat penghuni gunung Merapi, api pijar yang memancarkan cahaya memuntahkan lahar dan lava menjadi sumber kesuburan dan kemakmuran. Namun wajar, bila cara pandang manusia terhadap alam begitu negatif yang menyebabkan murka, maka makin ke sini alam kian mengamuk.
Dari Cebu, Presiden mengajak kita kaum terdidik untuk memahami agar berbuat baik bagi kaum marginal. Mengapa rakyat Kecil, miskin dan kumuh, penghuni bantaran sungai masih mau menetap dan menolak untuk direlokasi meskipun bahaya mengancam kehidupan? Mereka tidak hanya sekedar kaum urban, atau migran juga bukan migran sirkuler perkotaaan, juga bukan manusia tanpa hunian (tuna wisma) tetapi mereka punya aktivitas ekonomi di bantaran sungai dan menerima manfaat karena banjir.
Negara memahami penghuni aliran sungai menerima manfaat dalam berbagai aspek; ekonomi, interaksi sosial dan budaya juga kemudahan dan aksesibilitas dalam menunjang kehidupan yang mungkin tidak banyak diketahui publik.
Kita semua tersandera dengan stigma buruk tentang musim hujan (la nina) dengan bahaya banjir dan musim kemarau (el nino) terkait bahaya kebakaran hutan. Suatu stigma buruk manusia modern terhadap alam. Sudah saatnya arus balik pemikiran manusia masa lampau kita pikirkan bahwa musim hujan dan musim kemarau adalah berkah bukan semata-mata murka.
Oleh karena itu, cita rasa masyarakat yang hidup di aliran sungai perlu direkayasa agar daerah aliran sungai menjadi menarik, artistik, modern dan humanis.
Posisi Indonesia termasuk berada pada zona yang disebut ring of fire (Cincin Api). Zona tersebut sangat rentan terhadap bencana alam (gempa dan tsunami) bukan saja karena terletak pada tiga lempeng utama yaitu Euruasia, Indo Pasifik dan Indo Australia, namun juga terdapat patahan lokal (sesar) yang membentang dari Aceh hingga Papua. Letak ini Dapat saja mengancam kehidupan tetapi juga berkat bagi negeri gugusan 17 ribu pulau ini.
Jakarta adalah jendela Indonesia, kota metropolitan yang dihuni lautan manusia mencapai 10 juta malam hari dan 12 lebih di siang hari. Kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan lainnya adalah pusat urbanisasi dan anglomerasi perkotaan, kota besar hingga tiga lingkaran besar, lingkaran dalam kota (inner city), lingkaran tengah (centre), dan lingkaran luar (outer city)
Situ-situ di negeri ini sebagai tempat penampungan air juga tidak tertata rapi bahkan banyak rumah kumuh, sekedar membuat pintu air masuk dan keluar.
Kita menyaksikan problematika ibukota negara harus menjadi beban bersama baik pemerintah pusat dan provinsi. Negara ini tidak harus malu belajar dari kota-kota besar di Asia Timur seperti Beijing, Tokyo, Seoul, atau Amsterdam, London, Paris New York di Eropa bahkan New Delhi, Bogota, Rio de Janeiro juga Kuala Lumpur.
13 buah sungai yang mengalir di kota metropolitan, sungai Mahakam yang membelai Kota Pontianak, Sungai Mahakam di tengah Samarinda, Sungai Musi melintas di tengah Kota Venesia Timur Palembang, Kali Code di tengah Kota Yogya dihuni orang-orang marginal dan terpinggirkan, kumuh, jorok padahal memiliki sumber daya. Kekuasaan sebagai kota-kota metropolitan, anggaran yang melimpah tampaknya tidak sulit untuk menata sungai-sungai menjadi modern dan humanis.
Pemerintah sudah saatnya memikirkan agar sungai-sungai di kota-kota metropolitan membangun kanal-kanal besar dengan rumah-rumah yang artistik bagi penduduk, fasilitas umum, sanggar-sanggar seni, tempat-tempat rekreasi yang humanis dan ramah lingkungan agar aliran sungai tidak menjadi momok yang menakutkan tetapi menjadi tempat yang menarik baik di kala musim el nino tetapi juga musim hujan la nina.
Akhirnya semua bencana alam sedang memberi signal bahwa Indonesia berada dalam lintasan bumi yang bernadi, hidup dan bergerak. Dapat saja mengancam kehidupan manusia. Hanya saja, Jangan terlalu mudah menghujat alam, jangan juga mudah menyalahkan bumi. Tanya kepada bangsa ini seberapa besar pengaturan irama menyertai gejala alam. Soal tempat hunian, jalur evakuasi, gedung-gedung pencakar langit, jembatan yang mampu bukan menahan bahaya tetapi menyesuaikannya dengan irama alam.
Seperti negeri sakura Jepang, Kota Los Angeles yang memiliki sistem peringatan, rumah-tahan gempa, jalur evakuasi dan tempat-tempat penyelamatan bagi rakyatnya karena mereka menyesuaikan diri dengan nadi alam, sementara bangsa ini masih melihat alam sebagai ancaman dan murka.
Presiden Prabowo Subianto sudah memberikan peringatan keras mengenai ancaman El Nino ekstrem dan dampaknya terhadap ketahanan pangan di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi pleno KTT ASEAN ke-48 yang berlangsung di Mactan Expo, Cebu, Filipina, pada Jumat, 8 Mei 2026. Seruan Prabowo terkait fenomena El Nino dan urgensi ketahanan pangan.
Prabowo menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan di ASEAN menjadi semakin mendesak karena perubahan iklim dan ancaman El Nino yang dapat mengganggu produksi pangan serta stabilitas ekonomi kawasan. Kolaborasi Regional agar negara-negara anggota ASEAN tidak menangani masalah pangan secara sendiri-sendiri, melainkan melalui kerja sama aktif dalam pertukaran informasi dan teknologi pertanian. Optimalisasi Cadangan Pangan dengan mendorong penyederhanaan mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve dan kemajuan cadangan pangan berbasis kearifan lokal.
Prabowo menekankan bahwa kedaulatan pangan adalah tanggung jawab utama pemerintah demi menjaga kesejahteraan rakyat dan stabilitas negara.
Sebelum menjabat sebagai Presiden, pada tahun 2023 Prabowo juga telah menyoroti bahwa masalah air akan menjadi prioritas utama akibat kekeringan yang dibawa oleh El Nino, termasuk perlunya eksperimen teknologi untuk mendapatkan air dengan biaya terjangkau.
Presiden sudah membunyikan gong peringatan kepada semua komponen bangsa Indonesia untuk menghadapi El Nino ekstrem dan Suatu saat kita juga akan menghadapi La Nina Ekstrem serta Gempa dan Gunung Meletus karena kita berada di lintasan cincin api. Mari kita renungkan dan Lakukan Langkah-langkah antisipasi.
Natalius Pigai, Pembaca, Penulis dan Pejabat Pemerintah. (prf/ega)
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·