Nusakambangan: laboratorium transformasi pemasyarakatan

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Nusakambangan, selama ini identik dengan pengamanan maksimum dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. Citra yang melekat pada pulau ini kerap diasosiasikan dengan narapidana berisiko tinggi, pengawasan ketat, serta kompleksitas persoalan keamanan. Dalam persepsi publik, Nusakambangan sering dipandang sebagai ruang penahanan yang keras, tertutup, dan berjarak dari gagasan pembinaan yang produktif.

Perkembangan mutakhir menunjukkan wajah Nusakambangan yang berbeda. Di balik fungsi pengamanan yang tetap kuat, kawasan yang berada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ini berkembang menjadi ruang produktif yang berorientasi pada pemberdayaan warga binaan. Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan kebijakan yang menarik: bagaimana kawasan yang identik dengan pengamanan maksimum dapat berkembang menjadi sentra ketahanan pangan, sekaligus model pembinaan produktif?

Jawabannya tidak terletak pada satu faktor tunggal, melainkan pada pertemuan antara visi strategis, ketajaman analisis, dan kapasitas eksekusi kelembagaan.

Secara kelembagaan, Nusakambangan mengalami transformasi fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode sebelumnya, kawasan ini relatif dihuni oleh narapidana dengan kategori tertentu dalam jumlah yang lebih terbatas.

Dinamika tersebut berubah seiring penguatan kebijakan penanganan narapidana berisiko tinggi. Nusakambangan, sekarang ini semakin diposisikan sebagai simpul strategis pengamanan maksimum untuk penanganan narapidana kategori risiko tinggi, khususnya yang masih terindikasi mengendalikan peredaran gelap narkotika dan penipuan dari dalam lapas.

Hingga kini, tercatat sebanyak 2.879 narapidana risko tinggi telah dipindahkan ke Nusakambangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Data tersebut menunjukkan bahwa transformasi Nusakambangan berlangsung pada dua dimensi sekaligus: penguatan fungsi pengamanan di satu sisi serta pembangunan ekosistem pembinaan produktif di sisi lainnya.

Transformasi ini menjadi menarik karena produktivitas tidak dibangun dalam kondisi ideal, melainkan bertumbuh di tengah intensifikasi fungsi pengamanan maksimum.

Systems Thinking

Dalam perspektif systems thinking, Peter Senge (1990) menjelaskan bahwa organisasi yang efektif ditopang oleh kemampuan pemimpin dalam melihat interrelationship antarvariabel dalam suatu sistem. Persoalan tidak dibaca secara parsial, melainkan sebagai relasi dinamis yang saling memengaruhi.

Perspektif ini relevan untuk membaca bagaimana Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto memandang persoalan lahan idle di Nusakambangan. Temuan audit atas belum optimalnya pemanfaatan aset pada dasarnya dapat dibaca sebagai problem administratif. Melalui cara pandang yang sistemik, persoalan tersebut tidak berhenti sebagai catatan evaluatif, melainkan diaktivasi sebagai peluang strategis.

Lahan yang sebelumnya dipandang sebagai aset pasif kemudian direposisi menjadi aset strategis yang mampu menghubungkan berbagai tujuan kebijakan sekaligus, mulai dari optimalisasi aset negara, penguatan ketahanan pangan, perluasan pembinaan produktif, hingga peningkatan kapasitas ekonomi warga binaan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.